…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

…Bon Jovi say: HAVE A NICE DAY…

Since the last of month or so I’ve been listening to Bon Jovi’s Cross Road album. The songs have been stacked there on my 60 GB iPod for a long time, but I’ve never put so much attention to them. I liked soft music and still like it, but at the moment I feel that something needs to be changed, or added, to give balance, or whatever explanation can explain it. Something rocks. Something bold. Something tough.

And last night I bought their other album called Have a Nice Day. The songs, they are electric! They make me get charged, you know, the music, the scream of the guitar, the beats of the drums, and the vibrant voice of the vocalist, and also the content of the songs. The lyrics. There is something big inside each song. They radiate hope, enthusiasm, energy, which would influence anyone who listens to them.

That led me to a curiosity for digging up more information about this band. Wikipedia would be a good source, I thought. So, I hit the keyboard and read what people wrote about Bon Jovi, their history, their hits, their achievements, and so on.

From just a short text, I can get the sense of what lies beneath their success. What makes them to become a legend. A world class legend. Jon Bon Jovi started the band as a “nobody”, and literally nobody. It was never an easy start for them. For some years they’ve never even reached the top of the roof, and absolutely never the sky. But they never gave up. There must be some other vocalist or musicians who have the same or even better quality compared to them. But it is obvious that there were not so many who adopted the same quality of Bon Jovi’s mentality.

Yea yea… But they are such talented people. And plus they are fortunate and destined to succeed. I can guess that some would think so.

True that they are talented. But the biggest talent is not the musical talent. It is the repeated positive mentality. They repeat and repeat and repeat that mentality so that becomes their identity. Talent is constructive attitude, mentality, actions which a person cultivates in. That is the expanded definition of talent, which is more powerful and it puts the person in charge of taking action about it, rather than just wishing that he was born with that wired in musical skills or built in confidence over the stage, and so on.

And about fortunate and destiny? Yes luck must have been on their side, but they also have put a lot of discipline in what they have been doing. Much more than average people would have done, I think.  And…. Maybe Bon Jovi thought that they must do this and this and that in order to succeed, just as much as most people would think what they should do. But apparently not so many people do what they think they must do. That is why there is not many Bon Jovis in this world.

Reality proofs that their efforts were paid back. They are now one of the all the time best musicians in this world. With their determination they have been keeping their wheel rolling. Wheel of fortune. Wheel of destiny. Wheel of life.

Wait a second! Wheel huh?? Now I am thinking about a wheel. Wheels like the tires on a car. Law of physics says that the force needed to start turning a wheel is always bigger than the force needed to keep it turning when it’s already in motion. I wonder if this is also true for Wheel of life? Wheel of fortune? Wheel of destiny? Could this be the explanation of why Bon Jovi could grow to become a literally giant rock legend? They have kept at least minimum the same amount of force when they managed to start their wheel, and using that force to keep the wheel turning faster and faster? If we compare with riding on a bicycle, you see, when we start is always the heaviest part. Once the wheels are in motion, we need lesser force to keep the bike in motion. And thanks to technology, by moving the gears we can increase the speed even more.

I think this must also apply to wheel of destiny. If only we don’t give up too soon, we will be surprised by what we can actually achieve. Not to give up, especially when the wheel is not starting to move yet. No matter how many difficulties, failures, or even rejections we must get through before the first kick makes the wheel moving. It worth the efforts, especially when we are talking about our own wheel of destiny.

…Some Pieces of The Puzzle…

Life holds no secret. It is lack of curiosity which hides things from people, eventhough they are right in front of them.

Humbleness is a powerful weapon. It can make people give to you whatever you want.

Freedom is the fertile soil for creativity to flourish. Love makes its fruits sweet.

To see God’s plan: look to the past. To see God’s will: make a try.

…Hipnotis dan Musik…

Scientists menemukan bahwa informasi yang berulang diterima oleh otak kita akan menciptakan “jalur-jalur” di jaringan neuron otak kita. Demikian juga dengan tindakan yang berulang kita lakukan. Semakin sering kita mendengar sesuatu, semakin mudah kita mengingatnya, semakin cepat otak akan memberikan respons yang berkaitan dengan informasi tadi. Itu yang menjelaskan kenapa kita bisa mengingat nomer telefon seorang yang sering kita hubungi. Itu juga yang menjelaskan semakin sering kita berlatih sesuatu, semakin mahir kita melakukannya. Menyetir, memainkan alat musik, bermain tenis, dan sebagainya. Di dalam jaringan otak, “jalur-jalur” yang sering digunakan tadi menjadi semakin tebal dan kuat. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa kita sebaiknya berhati-hati dengan apa yang kita pikirkan, karena mungkin itu akan menjadi kenyataan. Mungkin itu ada benarnya, jika dikaitkan dengan temuan para ilmuwan tadi. Pada level jaringan neuron, tepat seperti itulah yang terjadi. Apa yang dipikirkan, yaitu neuron-neuron yang sering digunakan seseorang akan membentuk koneksi yang lebih kuat di antara mereka dibanding dengan koneksi pada jaringan lain. Pikiran menghasilkan sesuatu yang fisikal. 

Alam pikiran manusia terdiri dari pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Kita berpikir secara logis menggunakan pikiran sadar. Di sinilah otak kita mengintepretasikan apa yang ditangkap oleh panca indera. Hasil pengolahan dan interpretasi di dalam pikiran sadar ini kemudian disimpan di ke dalam pikiran bawah sadar. Dengan kata lain pikiran bawah sadar mirip seperti harddrive yang kita gunakan untuk menyimpan data. Pikiran bawah sadar kita tidak melakukan analisis logis seperti yang dilakukan oleh pikiran sadar. Dia menerima dan menyimpan hasil pengolahan pikiran sadar kita. Dan bukan hanya itu, pikiran bawah sadar kita juga menerima hasil olahan tadi sebagai sebuah kebenaran. Sebagai sebuah kenyataan. 

Prinsip-prinsip, nilai-nilai yang kita anut berkaitan dengan etika, dan kepercayaan kita, termasuk rasa percaya diri, termuat di dalam pikiran bawah sadar. Di sinilah termuat diri seseorang yang sebenarnya. Pikiran bawah sadar berperan serupa dengan kompas, yaitu sebagai penunjuk arah bagi pikiran sadar. Kita ambil contoh seorang yang berprinsip bahwa dia akan selalu berkata tentang kebenaran. Ketika dia diminta berbohong, pikiran sadarnya bisa saja diajak kompromi. Tetapi pikiran bawah sadarnya, akan mengatakan bahwa dia tidak seharusnya berbohong. Itu sebabnya ketika pada akhirnya dia memilih berbohong juga, dia merasakan konflik batin.

Hipnotis adalah suatu upaya untuk mem-by pass pikiran sadar sehingga seseorang dapat mengakses pikiran bawah sadar. Mungkin Anda pernah melihat dalam acara televisi, seorang yang dihipnotis bisa disuruh untuk melakukan apa saja, termasuk berpose yang lucu-lucu atau menirukan tingkah binatang yang seandainya pikiran sadarnya tidak di-by pass, hal itu tidak akan dengan mudah dia lakukan. Apa yang terjadi di sana? Fungsi analitis dari pikiran sadar dia di-override. Pikiran bawah sadarnya yang kemudian mengambil alih fungsi dari pikiran sadar, dan bereaksi terhadap perintah. Seperti yang saya sebutkan di awal, pikiran bawah sadar tidak menganalisis dan selalu mengartikan masukan informasi sebagai sebuah kebenaran. Itu sebabnya, tidak peduli seberapa memalukannya untuk menirukan “Sarimin pergi ke pasar”, seorang yang terhipnotis dengan taatnya melakukan itu. Di sini bisa kita lihat bahwa hipnotis tidak mem-by pass fungsi kerja otak secara keseluruhan, karena orang tadi masih tetap bisa mendengar perintah, lalu mengolah perintah tadi dan menggerakkan badannya.

Untuk mengakses pikiran bawah sadar, ada beberapa cara yang bisa digunakan oleh seorang pelaku hipnotis. Panca indera adalah pintu menuju ke sana, simply karena panca indera kita terhubungkan dengan otak. Itu sebabnya ada orang yang menggunakan gambar yang memiliki pola dan warna tertentu, atau melalui alunan musik, atau dengan bantuan aroma wangi-wangian, atau mungkin beberapa kombinasi dari mereka.

Terlepas dari cerita tentang hipnotis di atas yang “wow” dan “wah” dan mungkin sedikit menakutkan, proses interaksi antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar kita selalu berlangsung. Sering juga tanpa kita sadari, proses yang serupa dengan hipnotis kita jalani di dalam aktivitas keseharian. Salah satunya adalah ketika kita sedang mendengarkan musik. Efek dari alunan melodi yang enak didengar, harmoni yang indah, dan ritme yang membuat nyaman, dapat mem-by pass pikiran sadar kita, sedikit banyak mirip dengan hipnotis. Rasa nyaman yang diberikan oleh komponen musikal dari lagu yang kita dengar membuat pikiran sadar kita lebih rileks dan kurang analitis. Di saat yang sama, pikiran bawah sadar kita selalu menerima input dan merekam itu sebagai kebenaran. Termasuk syair atau lirik dari lagu yang bersangkutan. Karena efek nyaman tadi, pikiran sadar kita menjadi kurang kritis terhadap apa isi informasi yang dikandung dan disampaikan di dalam syair lagu yang kita dengarkan. Ini yang saya maksud dengan proses yang serupa dengan hipnotis.

Sebagai seorang pencinta musik, saya menghargai dan menghormati kebebasan setiap pemusik dan penyanyi untuk mencurahkan isi hatinya, menuangkan kreativitasnya, dan berekspresi melalui lagu yang dia ciptakan, dia mainkan, atau dia nyanyikan. Mereka bebas untuk menuangkan apapun di sana. Serupa dengan itu, kita yang mendengarkan juga memiliki kebebasan untuk memilih dan memilah apa yang hendak kita masukkan dan simpan di dalam pikiran bawah sadar kita. Komponen dan unsur-unsur apa yang ingin kita lekatkan ke untuk menjadi bagian dari diri kita, our trueself. Ada lagu-lagu yang memiliki melodi dan harmoni yang enak didengar, tapi syairnya menciutkan semangat hidup, misalnya. Ini yang sering menjadi tantangan. Mana yang mau lebih kita utamakan, lantunan melodi yang kita sukai tapi sembari mencekoki pikiran bawah sadar dengan syair yang mengecilkan semangat, atau sama sekali lagu itu tidak usah kita dengarkan. Di awal tulisan tadi saya sebutkan bahwa semakin sering kita mengulang, semakin kuat sambungan-sambungan yang terbentuk di dalam otak kita. Artinya semakin nyata syair itu itu menjadi bagian dari diri kita.