…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for October 13th, 2005


Cerita Sebelum Tidur.. (it’s about Him and me)

"Oh, nama saya David Ibrahim…" Lantas biasanya pertanyaan selanjutnya adalah gini: "Sori, tapi kalo boleh tanya, kamu agamanya apa?" =) Kalau si penanya adalah seorang Nona Manis yang menarik, maka akan dijawab: Coba kamu tebak dong..=) *senyum nakal*. Memang nama yang unik… Nama depan kayanya nama orang barat.. Nama belakang, Middle East?

Gua sudah kenal David sejak dia masih bayi.. Tapi gua mengerti tentang kepribadian David baru beberapa tahun terakhir ini..  Lahir dua hari setelah hari Natal ‘78, David tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga yang berbudaya keturunan Cina… Masa kecilnya dia lalui dengan penuh kesenangan usia anak-anak pada umumnya… Dikelilingi keluarga dan saudara-saudara yang penuh kegembiraan… Mainan bertebaran di mana-mana…

Bandung, kota kelahirannya, katanya sih akan terus menjadi tempat yang penuh kenangan buat dia.. David juga sempat tinggal di kota kecil, Purwakarta, waktu dia duduk di bangku SD… Saat itu adalah masa-masa sukar dalam hidupnya… Keluarganya sedang dilanda krisis ekonomi.. Bahkan dia ngga pernah nonton TV di rumahnya sendiri… Koq?? Ya karena keluarganya ngga punya TV… =) Eh, beneran tau… Bukan becanda nih… Bahkan rumahnya belum dapet pasokan listrik dari PLN… Ada sih genset diesel di belakang rumah, tapi itu ampir ngga pernah dinyalain.. Jadi, ketika hari berganti dari siang jadi malam, otomatis segala aktivitasnya pun harus berakhir..

Saat kenaikan dari kelas 1 ke kelas 2 SMP, orang tua David memutuskan untuk pindah kembali ke Bandung.. Di sana kehidupan keliatannya lebih menjanjikan untuk mereka.. Krisis ekonomi keluarga mereka pun perlahan teratasi… Tapi yah, masih di sekitar ukuran pas-pasan…

Dari TK sampai SMA, David ini selalu berada di lingkungan sekolah swasta.. Swasta Katolik, di mana anggota komunitasnya adalah homogen.. Mayoritas keturunan Cina.. Setelah lulus SMA, dia ikut tes di beberapa perguruan tinggi di Bandung.. Hasilnya, David diterima di TI Maranatha, TI Unpar, dan Teknik Fisika ITB… Gua inget, waktu itu papanya David bilang begini waktu si David bingung ngelanjutin sekolah ke jurusan yang mana.. "Pilihan ada di tangan elu Vid, semua jurusan itu bagus… Tapi kalo Papa saranin sih ambil yang ITB, karena jelas susah untuk keterima di situ… Keterima di pilihan kedua kaya elu gini aja udah bagus.."

Ya.. Dia pilih ITB… Awalnya keputusan untuk ambil keputusan itu diiringi rasa khawatir karena bakalan masuk ke lingkungan baru yang kontras dengan lingkungan sekolah sebelumnya… Memang bener, buat David, saat-saat kuliah di ITB adalah masa-masa belajar yang lebih kompleks dibanding sebelumnya… Selain harus mengerti pelajaran teknik, dia juga mesti berusaha mengerti budaya dan kebiasaan-kebiasaan teman-teman barunya yang macem-macem, kadang aneh-aneh pula… Tapi dia pernah bilang, dia ngga nyesel ambil pilihan itu… Karena di sana matanya terbuka.. Dia bisa menerima dan menghargai perbedaan… Bahkan di sana dia bertemu dengan beberapa orang dari latar belakang berbeda yang jadi sahabatnya sampe sekarang…

Lima tahun setengah David habiskan untuk menyelesaikan kuliah di situ… Sebenernya di tahun terakhir, dia banyaknya maen ketimbang belajar… Syukurlah, Februari 2002 dia lulus… Gua inget dia pernah bilang, "Ini kampus udah masuknya susah, keluarnya lebih susah pula…" Hehe, sukurin lu…

Lulus dari kampus yang pernak-pernik khasnya adalah kaos cap gajah ternyata ngga menjamin si insinyur muda untuk gampang dapetin kerjaan… Berpuluh-puluh surat lamaran kerja dia sebar ke segala pelosok, kaga ada yang nyangkut… Ada sih panggilan, tapi hampir selalu di akhir interview dibilanginnya gini: "Hasil tes kamu bagus, tapi sayang sekali posisi ini sudah terisi oleh orang lain.."  Yahh…

Di akhir tahun 2002 David diterima untuk training di sebuah perusahaan asing… Perusahaan minyak… "Loe jadi engineer?" Gua tanya dia… "Bukannya loe pengennya jadi programmer komputer?" Yah, tapi gimana juga kali ya? Orang dapetnya yang itu…

Maka kemudian David jalanin training itu, yang ternyata lama juga… Satu setengah taun… Susah pula katanya, harus selalu bersaing terus sama temen-temen sesama traineenya… Tapi syukur lagi, dia kemudian diterima jadi pegawai di perusahaan itu… Impian banyak orang tuh… Lulus kuliah, langsung kerja di perusahaan bonafid… Gua turut gembira buat loe deh Vid…

Bekerja di perusahaan multinasional seperti itu telah membuka kesempatan bagi David untuk melihat tempat-tempat yang jauh di belahan dunia yang lain… Gua inget, dia pernah 3 bulan di Batam… 6 bulan di Jambi.. Bukan kota Jambinya, tapi di antara perkebunan kelapa sawit… 2 bulanan di Seoul.. beberapa minggu di Singapur.. Kurang ajar juga dia.. Kerja apa jalan-jalan sih loe? Tapi yang namanya soulmate, gua ikut gembira Vid buat pengalaman yang loe dapet… Pantesan di foto-foto loe banyak tempat yang asing buat gua…

Satu hal yang akan nempel terus di hati dan pikiran gua… Dia selalu bilang, kalau dia bisa menikmati semuanya sekarang ini, itu bukan karena kehebatannya sendiri.. Dia percaya, kalau jalan hidupnya udah dirancang sama Yang Nyiptainnya.. Tuhan udah sediain yang terbaik, buat mereka yang mau menuruti hukum-hukumNya… Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan… Memang bener, gua liat koq kayanya semakin si David mau deket sama Tuhan, semakin dia diperlengkapi dengan pengetahuan dan ilmu-ilmu baru yang akan mendukung untuk meraih keberhasilan di tahap selanjutnya… Gua sadar ada banyak ilmu dan pengetahuan di dunia ini.. Tapi berapa lama waktu yang bakal dipake seseorang untuk belajar semua pengetahuan itu? Jangan-jangan dia malahan abisin semua waktu di hidupnya untuk belajar tanpa mempraktekkan ilmu yang didapetnya… Dan inilah keuntungan kita kalau mau dekat dengan Pencipta kita: Dia sendiri yang akan milihin pelajaran-pelajaran apa yang perlu kita pelajari…. Kita ngga akan kehabisan waktu, karena harus belajar apa yang sebenernya ngga akan kita pakai…

Selain itu si David bilang, janji-Nya bahwa kita akan mendapatkan yang terbaik jangan diartikan bahwa kita bisa duduk-duduk manis nunggu duren jatoh di depan kita… Sebesar apa kebaikan/berkat yang akan kita terima tergantung dari sebesar apa usaha dan keinginan kita untuk mendapatkannya… Kalau kita bilang keadaan sekarang inilah "yang terbaik", ya udah.. itulah "yang terbaik" yang akan akan kita nikmati… Padahal mungkin ada "yang terbaik" yang lebih baik lagi… Cuma, mau apa ngga kita berusaha untuk meraihnya… Jangan bilang meraih dulu deh.. Mau apa ngga kita memikirkannya.. Karena tanpa dipikirkan, diimpikan, atau diangan-angkankan, jangan harap kita akan meraih…

Wuih, udah panjang juga gua ngoceh ya? Sementara ini, itulah yang bisa gua pelajari dan bagiin ke loe-loe tentang soulmate gua… Gua sih berharap bakal liat David maju terus dan meraih "yang terbaik" yang lebih lagi dari sekarang.. Gua dukung loe Vid..!! Dan biar segala pujian kembali kepada Pencipta loe…

Cerita Sebelum Tidur.. (it’s about Him and me)

"Oh, nama saya David Ibrahim…" Lantas biasanya pertanyaan selanjutnya adalah gini: "Sori, tapi kalo boleh tanya, kamu agamanya apa?" =) Kalau si penanya adalah seorang Nona Manis yang menarik, maka akan dijawab: Coba kamu tebak dong..=) *senyum nakal*. Memang nama yang unik… Nama depan kayanya nama orang barat.. Nama belakang, Middle East?

Gua sudah kenal David sejak dia masih bayi.. Tapi gua mengerti tentang kepribadian David baru beberapa tahun terakhir ini..  Lahir dua hari setelah hari Natal ‘78, David tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga yang berbudaya keturunan Cina… Masa kecilnya dia lalui dengan penuh kesenangan usia anak-anak pada umumnya… Dikelilingi keluarga dan saudara-saudara yang penuh kegembiraan… Mainan bertebaran di mana-mana…

Bandung, kota kelahirannya, katanya sih akan terus menjadi tempat yang penuh kenangan buat dia.. David juga sempat tinggal di kota kecil, Purwakarta, waktu dia duduk di bangku SD… Saat itu adalah masa-masa sukar dalam hidupnya… Keluarganya sedang dilanda krisis ekonomi.. Bahkan dia ngga pernah nonton TV di rumahnya sendiri… Koq?? Ya karena keluarganya ngga punya TV… =) Eh, beneran tau… Bukan becanda nih… Bahkan rumahnya belum dapet pasokan listrik dari PLN… Ada sih genset diesel di belakang rumah, tapi itu ampir ngga pernah dinyalain.. Jadi, ketika hari berganti dari siang jadi malam, otomatis segala aktivitasnya pun harus berakhir..

Saat kenaikan dari kelas 1 ke kelas 2 SMP, orang tua David memutuskan untuk pindah kembali ke Bandung.. Di sana kehidupan keliatannya lebih menjanjikan untuk mereka.. Krisis ekonomi keluarga mereka pun perlahan teratasi… Tapi yah, masih di sekitar ukuran pas-pasan…

Dari TK sampai SMA, David ini selalu berada di lingkungan sekolah swasta.. Swasta Katolik, di mana anggota komunitasnya adalah homogen.. Mayoritas keturunan Cina.. Setelah lulus SMA, dia ikut tes di beberapa perguruan tinggi di Bandung.. Hasilnya, David diterima di TI Maranatha, TI Unpar, dan Teknik Fisika ITB… Gua inget, waktu itu papanya David bilang begini waktu si David bingung ngelanjutin sekolah ke jurusan yang mana.. "Pilihan ada di tangan elu Vid, semua jurusan itu bagus… Tapi kalo Papa saranin sih ambil yang ITB, karena jelas susah untuk keterima di situ… Keterima di pilihan kedua kaya elu gini aja udah bagus.."

Ya.. Dia pilih ITB… Awalnya keputusan untuk ambil keputusan itu diiringi rasa khawatir karena bakalan masuk ke lingkungan baru yang kontras dengan lingkungan sekolah sebelumnya… Memang bener, buat David, saat-saat kuliah di ITB adalah masa-masa belajar yang lebih kompleks dibanding sebelumnya… Selain harus mengerti pelajaran teknik, dia juga mesti berusaha mengerti budaya dan kebiasaan-kebiasaan teman-teman barunya yang macem-macem, kadang aneh-aneh pula… Tapi dia pernah bilang, dia ngga nyesel ambil pilihan itu… Karena di sana matanya terbuka.. Dia bisa menerima dan menghargai perbedaan… Bahkan di sana dia bertemu dengan beberapa orang dari latar belakang berbeda yang jadi sahabatnya sampe sekarang…

Lima tahun setengah David habiskan untuk menyelesaikan kuliah di situ… Sebenernya di tahun terakhir, dia banyaknya maen ketimbang belajar… Syukurlah, Februari 2002 dia lulus… Gua inget dia pernah bilang, "Ini kampus udah masuknya susah, keluarnya lebih susah pula…" Hehe, sukurin lu…

Lulus dari kampus yang pernak-pernik khasnya adalah kaos cap gajah ternyata ngga menjamin si insinyur muda untuk gampang dapetin kerjaan… Berpuluh-puluh surat lamaran kerja dia sebar ke segala pelosok, kaga ada yang nyangkut… Ada sih panggilan, tapi hampir selalu di akhir interview dibilanginnya gini: "Hasil tes kamu bagus, tapi sayang sekali posisi ini sudah terisi oleh orang lain.."  Yahh…

Di akhir tahun 2002 David diterima untuk training di sebuah perusahaan asing… Perusahaan minyak… "Loe jadi engineer?" Gua tanya dia… "Bukannya loe pengennya jadi programmer komputer?" Yah, tapi gimana juga kali ya? Orang dapetnya yang itu…

Maka kemudian David jalanin training itu, yang ternyata lama juga… Satu setengah taun… Susah pula katanya, harus selalu bersaing terus sama temen-temen sesama traineenya… Tapi syukur lagi, dia kemudian diterima jadi pegawai di perusahaan itu… Impian banyak orang tuh… Lulus kuliah, langsung kerja di perusahaan bonafid… Gua turut gembira buat loe deh Vid…

Bekerja di perusahaan multinasional seperti itu telah membuka kesempatan bagi David untuk melihat tempat-tempat yang jauh di belahan dunia yang lain… Gua inget, dia pernah 3 bulan di Batam… 6 bulan di Jambi.. Bukan kota Jambinya, tapi di antara perkebunan kelapa sawit… 2 bulanan di Seoul.. beberapa minggu di Singapur.. Kurang ajar juga dia.. Kerja apa jalan-jalan sih loe? Tapi yang namanya soulmate, gua ikut gembira Vid buat pengalaman yang loe dapet… Pantesan di foto-foto loe banyak tempat yang asing buat gua…

Satu hal yang akan nempel terus di hati dan pikiran gua… Dia selalu bilang, kalau dia bisa menikmati semuanya sekarang ini, itu bukan karena kehebatannya sendiri.. Dia percaya, kalau jalan hidupnya udah dirancang sama Yang Nyiptainnya.. Tuhan udah sediain yang terbaik, buat mereka yang mau menuruti hukum-hukumNya… Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan… Memang bener, gua liat koq kayanya semakin si David mau deket sama Tuhan, semakin dia diperlengkapi dengan pengetahuan dan ilmu-ilmu baru yang akan mendukung untuk meraih keberhasilan di tahap selanjutnya… Gua sadar ada banyak ilmu dan pengetahuan di dunia ini.. Tapi berapa lama waktu yang bakal dipake seseorang untuk belajar semua pengetahuan itu? Jangan-jangan dia malahan abisin semua waktu di hidupnya untuk belajar tanpa mempraktekkan ilmu yang didapetnya… Dan inilah keuntungan kita kalau mau dekat dengan Pencipta kita: Dia sendiri yang akan milihin pelajaran-pelajaran apa yang perlu kita pelajari…. Kita ngga akan kehabisan waktu, karena harus belajar apa yang sebenernya ngga akan kita pakai…

Selain itu si David bilang, janji-Nya bahwa kita akan mendapatkan yang terbaik jangan diartikan bahwa kita bisa duduk-duduk manis nunggu duren jatoh di depan kita… Sebesar apa kebaikan/berkat yang akan kita terima tergantung dari sebesar apa usaha dan keinginan kita untuk mendapatkannya… Kalau kita bilang keadaan sekarang inilah "yang terbaik", ya udah.. itulah "yang terbaik" yang akan akan kita nikmati… Padahal mungkin ada "yang terbaik" yang lebih baik lagi… Cuma, mau apa ngga kita berusaha untuk meraihnya… Jangan bilang meraih dulu deh.. Mau apa ngga kita memikirkannya.. Karena tanpa dipikirkan, diimpikan, atau diangan-angkankan, jangan harap kita akan meraih…

Wuih, udah panjang juga gua ngoceh ya? Sementara ini, itulah yang bisa gua pelajari dan bagiin ke loe-loe tentang soulmate gua… Gua sih berharap bakal liat David maju terus dan meraih "yang terbaik" yang lebih lagi dari sekarang.. Gua dukung loe Vid..!! Dan biar segala pujian kembali kepada Pencipta loe…

Cerita Sebelum Tidur.. (it’s about Him and me)

"Oh, nama saya David Ibrahim…" Lantas biasanya pertanyaan selanjutnya adalah gini: "Sori, tapi kalo boleh tanya, kamu agamanya apa?" =) Kalau si penanya adalah seorang Nona Manis yang menarik, maka akan dijawab: Coba kamu tebak dong..=) *senyum nakal*. Memang nama yang unik… Nama depan kayanya nama orang barat.. Nama belakang, Middle East?

Gua sudah kenal David sejak dia masih bayi.. Tapi gua mengerti tentang kepribadian David baru beberapa tahun terakhir ini..  Lahir dua hari setelah hari Natal ‘78, David tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga yang berbudaya keturunan Cina… Masa kecilnya dia lalui dengan penuh kesenangan usia anak-anak pada umumnya… Dikelilingi keluarga dan saudara-saudara yang penuh kegembiraan… Mainan bertebaran di mana-mana…

Bandung, kota kelahirannya, katanya sih akan terus menjadi tempat yang penuh kenangan buat dia.. David juga sempat tinggal di kota kecil, Purwakarta, waktu dia duduk di bangku SD… Saat itu adalah masa-masa sukar dalam hidupnya… Keluarganya sedang dilanda krisis ekonomi.. Bahkan dia ngga pernah nonton TV di rumahnya sendiri… Koq?? Ya karena keluarganya ngga punya TV… =) Eh, beneran tau… Bukan becanda nih… Bahkan rumahnya belum dapet pasokan listrik dari PLN… Ada sih genset diesel di belakang rumah, tapi itu ampir ngga pernah dinyalain.. Jadi, ketika hari berganti dari siang jadi malam, otomatis segala aktivitasnya pun harus berakhir..

Saat kenaikan dari kelas 1 ke kelas 2 SMP, orang tua David memutuskan untuk pindah kembali ke Bandung.. Di sana kehidupan keliatannya lebih menjanjikan untuk mereka.. Krisis ekonomi keluarga mereka pun perlahan teratasi… Tapi yah, masih di sekitar ukuran pas-pasan…

Dari TK sampai SMA, David ini selalu berada di lingkungan sekolah swasta.. Swasta Katolik, di mana anggota komunitasnya adalah homogen.. Mayoritas keturunan Cina.. Setelah lulus SMA, dia ikut tes di beberapa perguruan tinggi di Bandung.. Hasilnya, David diterima di TI Maranatha, TI Unpar, dan Teknik Fisika ITB… Gua inget, waktu itu papanya David bilang begini waktu si David bingung ngelanjutin sekolah ke jurusan yang mana.. "Pilihan ada di tangan elu Vid, semua jurusan itu bagus… Tapi kalo Papa saranin sih ambil yang ITB, karena jelas susah untuk keterima di situ… Keterima di pilihan kedua kaya elu gini aja udah bagus.."

Ya.. Dia pilih ITB… Awalnya keputusan untuk ambil keputusan itu diiringi rasa khawatir karena bakalan masuk ke lingkungan baru yang kontras dengan lingkungan sekolah sebelumnya… Memang bener, buat David, saat-saat kuliah di ITB adalah masa-masa belajar yang lebih kompleks dibanding sebelumnya… Selain harus mengerti pelajaran teknik, dia juga mesti berusaha mengerti budaya dan kebiasaan-kebiasaan teman-teman barunya yang macem-macem, kadang aneh-aneh pula… Tapi dia pernah bilang, dia ngga nyesel ambil pilihan itu… Karena di sana matanya terbuka.. Dia bisa menerima dan menghargai perbedaan… Bahkan di sana dia bertemu dengan beberapa orang dari latar belakang berbeda yang jadi sahabatnya sampe sekarang…

Lima tahun setengah David habiskan untuk menyelesaikan kuliah di situ… Sebenernya di tahun terakhir, dia banyaknya maen ketimbang belajar… Syukurlah, Februari 2002 dia lulus… Gua inget dia pernah bilang, "Ini kampus udah masuknya susah, keluarnya lebih susah pula…" Hehe, sukurin lu…

Lulus dari kampus yang pernak-pernik khasnya adalah kaos cap gajah ternyata ngga menjamin si insinyur muda untuk gampang dapetin kerjaan… Berpuluh-puluh surat lamaran kerja dia sebar ke segala pelosok, kaga ada yang nyangkut… Ada sih panggilan, tapi hampir selalu di akhir interview dibilanginnya gini: "Hasil tes kamu bagus, tapi sayang sekali posisi ini sudah terisi oleh orang lain.."  Yahh…

Di akhir tahun 2002 David diterima untuk training di sebuah perusahaan asing… Perusahaan minyak… "Loe jadi engineer?" Gua tanya dia… "Bukannya loe pengennya jadi programmer komputer?" Yah, tapi gimana juga kali ya? Orang dapetnya yang itu…

Maka kemudian David jalanin training itu, yang ternyata lama juga… Satu setengah taun… Susah pula katanya, harus selalu bersaing terus sama temen-temen sesama traineenya… Tapi syukur lagi, dia kemudian diterima jadi pegawai di perusahaan itu… Impian banyak orang tuh… Lulus kuliah, langsung kerja di perusahaan bonafid… Gua turut gembira buat loe deh Vid…

Bekerja di perusahaan multinasional seperti itu telah membuka kesempatan bagi David untuk melihat tempat-tempat yang jauh di belahan dunia yang lain… Gua inget, dia pernah 3 bulan di Batam… 6 bulan di Jambi.. Bukan kota Jambinya, tapi di antara perkebunan kelapa sawit… 2 bulanan di Seoul.. beberapa minggu di Singapur.. Kurang ajar juga dia.. Kerja apa jalan-jalan sih loe? Tapi yang namanya soulmate, gua ikut gembira Vid buat pengalaman yang loe dapet… Pantesan di foto-foto loe banyak tempat yang asing buat gua…

Satu hal yang akan nempel terus di hati dan pikiran gua… Dia selalu bilang, kalau dia bisa menikmati semuanya sekarang ini, itu bukan karena kehebatannya sendiri.. Dia percaya, kalau jalan hidupnya udah dirancang sama Yang Nyiptainnya.. Tuhan udah sediain yang terbaik, buat mereka yang mau menuruti hukum-hukumNya… Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan… Memang bener, gua liat koq kayanya semakin si David mau deket sama Tuhan, semakin dia diperlengkapi dengan pengetahuan dan ilmu-ilmu baru yang akan mendukung untuk meraih keberhasilan di tahap selanjutnya… Gua sadar ada banyak ilmu dan pengetahuan di dunia ini.. Tapi berapa lama waktu yang bakal dipake seseorang untuk belajar semua pengetahuan itu? Jangan-jangan dia malahan abisin semua waktu di hidupnya untuk belajar tanpa mempraktekkan ilmu yang didapetnya… Dan inilah keuntungan kita kalau mau dekat dengan Pencipta kita: Dia sendiri yang akan milihin pelajaran-pelajaran apa yang perlu kita pelajari…. Kita ngga akan kehabisan waktu, karena harus belajar apa yang sebenernya ngga akan kita pakai…

Selain itu si David bilang, janji-Nya bahwa kita akan mendapatkan yang terbaik jangan diartikan bahwa kita bisa duduk-duduk manis nunggu duren jatoh di depan kita… Sebesar apa kebaikan/berkat yang akan kita terima tergantung dari sebesar apa usaha dan keinginan kita untuk mendapatkannya… Kalau kita bilang keadaan sekarang inilah "yang terbaik", ya udah.. itulah "yang terbaik" yang akan akan kita nikmati… Padahal mungkin ada "yang terbaik" yang lebih baik lagi… Cuma, mau apa ngga kita berusaha untuk meraihnya… Jangan bilang meraih dulu deh.. Mau apa ngga kita memikirkannya.. Karena tanpa dipikirkan, diimpikan, atau diangan-angkankan, jangan harap kita akan meraih…

Wuih, udah panjang juga gua ngoceh ya? Sementara ini, itulah yang bisa gua pelajari dan bagiin ke loe-loe tentang soulmate gua… Gua sih berharap bakal liat David maju terus dan meraih "yang terbaik" yang lebih lagi dari sekarang.. Gua dukung loe Vid..!! Dan biar segala pujian kembali kepada Pencipta loe…