…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for November 22nd, 2005


Persahabatan antara Pria dan Wanita.. Mungkinkah?

Pada suatu rentang waktu, pasti seseorang pernah mengajukan pertanyaan besar ini: “Persahabatan antara pria dan wanita, tanpa “ada apa-apa” di antara mereka itu mungkin ngga sih?” Mungkin sekarang kita anggap pertanyaan itu basi. Atau kita merasa punya jawaban solid, entah itu YA atau TIDAK. Tapi seberapa yakin kita dengan jawaban itu?

Patah Hati itu Sakit!

“Yah.. Lemah loe! Ditolak cewe aja kok lesu.. Cari lagi dong! Emangnya di dunia ini cewe cuma dia doang?” Mudah untuk diucapkan, tapi susah dilakukan. Tapi ternyata ada yang lebih susah lagi, yaitu tetap berteman baik dengan orang yang menolak kita. Mungkin hanya pria bodoh yang masih mau bersahabat dengan wanita yang pernah menolak cintanya, bahkan lebih dari sekali. Salah satu orang bodoh itu adalah saya.

Saya pernah jatuh cinta pada seorang perempuan, teman sekelas di SMA. Sebut saja namanya Asri. Dia adalah seorang yang mempesona, cantik, cerdas, baik hati, dan hangat. Sejak di bangku SMA, kami sudah akrab. Ngobrol di telefon berjam-jam sambil menertawakan gurauan-gurauan yang saya ceritakan bukan hal yang aneh. Yang aneh adalah saya tidak pernah sadar bahwa saya jatuh cinta pada Asri sampai pada titik di mana dia jadian dengan seorang teman kuliahnya. Berita mengagetkan itu saya dengar sewaktu saya di tingkat dua. Kami sudah dua tahun berteman akrab, tapi baru setelah dua tahun saya baru sadar saya jatuh cinta. Waktu itu saya nekat, pokoknya entah apa jawaban Asri nanti, saya mesti menyatakan cinta dan meminta dia jadi pacar saya. Hasilnya? Ditolak. Asri ingin supaya kami berteman saja. Sakit. Menyesal. Pedih. Tapi percaya atau tidak, kami tetap berteman. Tidak gampang. Awalnya saya mesti berpura-pura tulus berteman tanpa menaruh harapan pada Asri. Tapi lama-lama saya bisa surutkan perasaan saya dan kami benar-benar berteman.

Setelah sekitar empat tahun berlalu, perasaan cinta saya pada Asri bisa dibilang sudah surut. Sampai pada suatu hari, saya mendengar kabar mereka putus. Tiba-tiba api yang sudah terkendali itu berkobar lagi. Singkat cerita, saya bilang cinta sekali lagi. Jawabannya? Ditolak lagi. Pedih lagi. Bukan cuma pedih, tapi pedih sekali! Ditambah lagi kali ini Asri benar-benar menghindari saya. Saya tahu tujuan dia baik, yaitu supaya saya bisa melupakan dia. Tapi justru itulah yang memukul saya. Sekarang, setelah saya mengerti kenapa semuanya itu terjadi, saya baru bisa menghargai pilihan Asri.

Saat ini saya sudah tidak jatuh cinta lagi pada Asri. Kami masih bersahabat baik. Asri sudah punya pacar lagi sekarang. Namun begitu, Asri masih membuka pintu persahabatan untuk saya. Saya yakin, dia tahu risiko bahwa saya mungkin masih menyimpan perasaan itu buat dia. Berurusan dengan perasaan, apalagi perasaan yang menyakitkan bukanlah hal yang menyenangkan. Tapi Asri mau mengambil risiko untuk menyakiti, yang saya yakin itu bukanlah hal yang ingin dilakukannya, demi menjaga persahabatan yang memang sudah terjalin jauh sebelumnya.

Bersahabat itu Indah

Belum sampai satu tahun lalu, saya berkenalan dengan seorang teman wanita. Dia teman SMA saya juga, cuma waktu itu kami tidak pernah sekelas jadi belum sempat kenal dekat. Lita seorang yang periang, mudah bersahabat, baik hati, selalu berusaha membuat orang lain berbahagia. Pribadi yang sungguh menyenangkan. Lita sudah punya pacar, yang sekarang berada di luar negeri. Mereka sudah berpacaran enam tahun. Pacaran jarak jauh rupanya bukan kendala bagi mereka. Saya dan Lita cepat sekali menjadi teman akrab. Kepribadian Lita yang menyenangkan dan cenderung senang bercerita kemudian bertemu dengan saya yang lebih senang mendengarkan cerita bagaikan dua kutub magnet yang saling tarik menarik. Jalan-jalan berdua, curhat-curhatan, ngafe, berenang, atau sekedar keliling-keliling tanpa tujuan sudah jadi hal yang biasa. Dan itu masih kami lakukan sampai saat ini. Lita sudah dipinang, dan akan menikah tahun depan. Saya ikut berbahagia. Mungkin orang berpikir hanya pria bodoh yang mau menghabiskan waktunya bersama wanita yang dia tahu sudah menjadi pacar orang lain. Apalagi kalau wanita itu sudah pasti akan menikah dalam waktu dekat. Sekali lagi saya menjadi seorang pria bodoh. Untuk apa? Hanya buang-buang waktu.

Bersahabat dengan Lita bukanlah tanpa tantangan. Berteman dekat dengan lawan jenis yang sudah bertunangan selalu dibayangi oleh risiko tinggi. Risiko untuk menyakiti hati dua manusia. Dan itu kami sadari dan kami bicarakan di antara kami berdua. Kami sadar posisi masing-masing, dan kami ungkapkan tujuan dari hubungan persahabatan ini. Saya tidak tahu pasti, apakah pernah dalam suatu saat Lita jatuh cinta pada saya. Tapi yang pasti, Lita teguh pada komitmennya. Dia adalah seorang yang mau mengambil risiko untuk menjalani sesuatu yang berharga untuk dijalani: sebuah persahabatan.

Dua Kisah, Satu Makna

Dua kisah persahabatan yang berbeda memberikan satu pelajaran penting bagi saya. Kedua kisah di atas mengajari saya untuk mencintai tanpa mengharap balasan. Dalam kisah pertama, saya benar-benar mengharapkan balasan dari Asri. Saya bahagia ketika saya mendapatkan respons yang saya inginkan, dan bersedih ketika tidak mendapatkannya. Kebahagian saya tergantung pada apa yang Asri berikan pada saya. Pada kisah kedua, saya benar-benar tidak peduli apakah Lita akan menghargai perhatian yang saya berikan, atau apakah dia akan menjalankan nasehat-nasehat saya. Dan kalau misalnya nasehat itu ternyata membuat kehidupannya menjadi lebih baik, saya tidak berharap dia jatuh cinta pada saya–yang pada kasus ini justru kami hindari. Saya tidak mengharapkan balasan apapun dari apa yang saya berikan kepada Lita. Saya bahagia karena saya bisa memberi sesuatu kepada orang lain.

Dan saya berani simpulkan, itulah seharusnya yang terjadi ketika kita mencintai seseorang. Kita memberi tanpa khawatir tidak akan mendapat balasan. Kita memperhatikan tanpa peduli apakah kita akan diperhatikan juga. Selama kita mencintai hanya untuk balas dicintai, itu artinya kita belum benar-benar mencintai. Saya percaya, alasan kenapa orang mengharapkan cintanya dibalas adalah karena mereka tidak punya Sumber Cinta. Mereka takut cinta yang mereka berikan kepada orang lain akan habis sia-sia tanpa mendapatkan pembaharuan. Ya, kalau kita mengharapkan pembaharuan itu datang dari orang yang kita beri cinta, kita mungkin akan kecewa karena tidak selamanya cinta kita akan dibalas. Hanya Sang Sumber Cinta yang tidak akan pernah mengecewakan kita. Selalu ada cinta untuk kita, selama kita mau menerimanya dari Dia.

Bisa atau Tidak?

Kembali ke pertanyaan awal. Bisakah pria dan wanita bersahabat? Bisa. Kenapa tidak? Diperlukan kemauan dua manusia untuk mewujudkan itu. Bukan cuma kemauan, tapi juga kesepakatan, dan komitmen. Definisi persahabatan sendiri bisa dibilang tidak baku untuk semua orang. Secara umum persahabatan melibatkan penerimaan, pengakuan, penghargaan, kepercayaan, kerelaan untuk berkorban, dan kemauan untuk membina terus hubungan yang sudah terjalin. Tapi intensitas dari hal-hal yang disebutkan tadi mungkin berbeda-beda menurut pengertian masing-masing. Biarlah Anda sendiri dan sahabat Anda (atau calon sahabat Anda) yang akan saling menyelaraskan hubungan persahabatan itu. Bagi saya, seorang sahabat lebih berharga dari uang dan harta. Saya akan menjaga persahabatan-persahabatan yang sudah terjalin, dan tidak jemu menciptakan persahabatan-persahabatan baru.