Persahabatan antara Pria dan Wanita.. Mungkinkah?
Pada suatu rentang waktu, pasti seseorang pernah mengajukan pertanyaan besar ini: “Persahabatan antara pria dan wanita, tanpa “ada apa-apa” di antara mereka itu mungkin ngga sih?” Mungkin sekarang kita anggap pertanyaan itu basi. Atau kita merasa punya jawaban solid, entah itu YA atau TIDAK. Tapi seberapa yakin kita dengan jawaban itu?
Patah Hati itu Sakit!
“Yah.. Lemah loe! Ditolak cewe aja kok lesu.. Cari lagi dong! Emangnya di dunia ini cewe cuma dia doang?” Mudah untuk diucapkan, tapi susah dilakukan. Tapi ternyata ada yang lebih susah lagi, yaitu tetap berteman baik dengan orang yang menolak kita. Mungkin hanya pria bodoh yang masih mau bersahabat dengan wanita yang pernah menolak cintanya, bahkan lebih dari sekali. Salah satu orang bodoh itu adalah saya.
Saya pernah jatuh cinta pada seorang perempuan, teman sekelas di SMA. Sebut saja namanya Asri. Dia adalah seorang yang mempesona, cantik, cerdas, baik hati, dan hangat. Sejak di bangku SMA, kami sudah akrab. Ngobrol di telefon berjam-jam sambil menertawakan gurauan-gurauan yang saya ceritakan bukan hal yang aneh. Yang aneh adalah saya tidak pernah sadar bahwa saya jatuh cinta pada Asri sampai pada titik di mana dia jadian dengan seorang teman kuliahnya. Berita mengagetkan itu saya dengar sewaktu saya di tingkat dua. Kami sudah dua tahun berteman akrab, tapi baru setelah dua tahun saya baru sadar saya jatuh cinta. Waktu itu saya nekat, pokoknya entah apa jawaban Asri nanti, saya mesti menyatakan cinta dan meminta dia jadi pacar saya. Hasilnya? Ditolak. Asri ingin supaya kami berteman saja. Sakit. Menyesal. Pedih. Tapi percaya atau tidak, kami tetap berteman. Tidak gampang. Awalnya saya mesti berpura-pura tulus berteman tanpa menaruh harapan pada Asri. Tapi lama-lama saya bisa surutkan perasaan saya dan kami benar-benar berteman.
Setelah sekitar empat tahun berlalu, perasaan cinta saya pada Asri bisa dibilang sudah surut. Sampai pada suatu hari, saya mendengar kabar mereka putus. Tiba-tiba api yang sudah terkendali itu berkobar lagi. Singkat cerita, saya bilang cinta sekali lagi. Jawabannya? Ditolak lagi. Pedih lagi. Bukan cuma pedih, tapi pedih sekali! Ditambah lagi kali ini Asri benar-benar menghindari saya. Saya tahu tujuan dia baik, yaitu supaya saya bisa melupakan dia. Tapi justru itulah yang memukul saya. Sekarang, setelah saya mengerti kenapa semuanya itu terjadi, saya baru bisa menghargai pilihan Asri.
Saat ini saya sudah tidak jatuh cinta lagi pada Asri. Kami masih bersahabat baik. Asri sudah punya pacar lagi sekarang. Namun begitu, Asri masih membuka pintu persahabatan untuk saya. Saya yakin, dia tahu risiko bahwa saya mungkin masih menyimpan perasaan itu buat dia. Berurusan dengan perasaan, apalagi perasaan yang menyakitkan bukanlah hal yang menyenangkan. Tapi Asri mau mengambil risiko untuk menyakiti, yang saya yakin itu bukanlah hal yang ingin dilakukannya, demi menjaga persahabatan yang memang sudah terjalin jauh sebelumnya.
Bersahabat itu Indah
Belum sampai satu tahun lalu, saya berkenalan dengan seorang teman wanita. Dia teman SMA saya juga, cuma waktu itu kami tidak pernah sekelas jadi belum sempat kenal dekat. Lita seorang yang periang, mudah bersahabat, baik hati, selalu berusaha membuat orang lain berbahagia. Pribadi yang sungguh menyenangkan. Lita sudah punya pacar, yang sekarang berada di luar negeri. Mereka sudah berpacaran enam tahun. Pacaran jarak jauh rupanya bukan kendala bagi mereka. Saya dan Lita cepat sekali menjadi teman akrab. Kepribadian Lita yang menyenangkan dan cenderung senang bercerita kemudian bertemu dengan saya yang lebih senang mendengarkan cerita bagaikan dua kutub magnet yang saling tarik menarik. Jalan-jalan berdua, curhat-curhatan, ngafe, berenang, atau sekedar keliling-keliling tanpa tujuan sudah jadi hal yang biasa. Dan itu masih kami lakukan sampai saat ini. Lita sudah dipinang, dan akan menikah tahun depan. Saya ikut berbahagia. Mungkin orang berpikir hanya pria bodoh yang mau menghabiskan waktunya bersama wanita yang dia tahu sudah menjadi pacar orang lain. Apalagi kalau wanita itu sudah pasti akan menikah dalam waktu dekat. Sekali lagi saya menjadi seorang pria bodoh. Untuk apa? Hanya buang-buang waktu.
Bersahabat dengan Lita bukanlah tanpa tantangan. Berteman dekat dengan lawan jenis yang sudah bertunangan selalu dibayangi oleh risiko tinggi. Risiko untuk menyakiti hati dua manusia. Dan itu kami sadari dan kami bicarakan di antara kami berdua. Kami sadar posisi masing-masing, dan kami ungkapkan tujuan dari hubungan persahabatan ini. Saya tidak tahu pasti, apakah pernah dalam suatu saat Lita jatuh cinta pada saya. Tapi yang pasti, Lita teguh pada komitmennya. Dia adalah seorang yang mau mengambil risiko untuk menjalani sesuatu yang berharga untuk dijalani: sebuah persahabatan.
Dua Kisah, Satu Makna
Dua kisah persahabatan yang berbeda memberikan satu pelajaran penting bagi saya. Kedua kisah di atas mengajari saya untuk mencintai tanpa mengharap balasan. Dalam kisah pertama, saya benar-benar mengharapkan balasan dari Asri. Saya bahagia ketika saya mendapatkan respons yang saya inginkan, dan bersedih ketika tidak mendapatkannya. Kebahagian saya tergantung pada apa yang Asri berikan pada saya. Pada kisah kedua, saya benar-benar tidak peduli apakah Lita akan menghargai perhatian yang saya berikan, atau apakah dia akan menjalankan nasehat-nasehat saya. Dan kalau misalnya nasehat itu ternyata membuat kehidupannya menjadi lebih baik, saya tidak berharap dia jatuh cinta pada saya–yang pada kasus ini justru kami hindari. Saya tidak mengharapkan balasan apapun dari apa yang saya berikan kepada Lita. Saya bahagia karena saya bisa memberi sesuatu kepada orang lain.
Dan saya berani simpulkan, itulah seharusnya yang terjadi ketika kita mencintai seseorang. Kita memberi tanpa khawatir tidak akan mendapat balasan. Kita memperhatikan tanpa peduli apakah kita akan diperhatikan juga. Selama kita mencintai hanya untuk balas dicintai, itu artinya kita belum benar-benar mencintai. Saya percaya, alasan kenapa orang mengharapkan cintanya dibalas adalah karena mereka tidak punya Sumber Cinta. Mereka takut cinta yang mereka berikan kepada orang lain akan habis sia-sia tanpa mendapatkan pembaharuan. Ya, kalau kita mengharapkan pembaharuan itu datang dari orang yang kita beri cinta, kita mungkin akan kecewa karena tidak selamanya cinta kita akan dibalas. Hanya Sang Sumber Cinta yang tidak akan pernah mengecewakan kita. Selalu ada cinta untuk kita, selama kita mau menerimanya dari Dia.
Bisa atau Tidak?
Kembali ke pertanyaan awal. Bisakah pria dan wanita bersahabat? Bisa. Kenapa tidak? Diperlukan kemauan dua manusia untuk mewujudkan itu. Bukan cuma kemauan, tapi juga kesepakatan, dan komitmen. Definisi persahabatan sendiri bisa dibilang tidak baku untuk semua orang. Secara umum persahabatan melibatkan penerimaan, pengakuan, penghargaan, kepercayaan, kerelaan untuk berkorban, dan kemauan untuk membina terus hubungan yang sudah terjalin. Tapi intensitas dari hal-hal yang disebutkan tadi mungkin berbeda-beda menurut pengertian masing-masing. Biarlah Anda sendiri dan sahabat Anda (atau calon sahabat Anda) yang akan saling menyelaraskan hubungan persahabatan itu. Bagi saya, seorang sahabat lebih berharga dari uang dan harta. Saya akan menjaga persahabatan-persahabatan yang sudah terjalin, dan tidak jemu menciptakan persahabatan-persahabatan baru.
December 1st, 2005 at 4:46 am
persahabatan cowok cewek? it ain’t gonna happen (ini seandainya kita punya definisi yang sama tentang persahabatan yah) mengapa? salah satu pasti akan berkhianat. seperti kamu yang mengkhianati persahabatan kamu dan asri. kalau bicara soal kamu “merelakan orang yang kamu cintai untuk mencintai dan jadi milik orang lain”, itu lain cerita. itu bicara soal cinta yang tulus tanpa pamrih. bukan persahabatan. kamu mencampuradukkan keduanya. padahal itu dua hal yang berbeda.
dalam hubungan percintaan pria dan wanita, ada unsur ketertarikan seksual. ini nggak bisa kita pungkiri. adam dan hawa diciptakan bukan untuk berteman tapi untuk meneruskan keturunan. dalam persahabatan, ketertarikan seksual itu tak boleh ada, kalau kamu tak ingin persahabatan itu ‘cacat’ atau ‘rusak’. tak perlu bersahabat dengan kaum hawa. cukup berteman dan bergaul saja dengan mereka
December 4th, 2005 at 10:03 pm
kalau JC berpikir bahwa persahabatan cewe-cowo itu ngga mungkin, saya rasa kamu sedang memandang itu dari sisi sana, yaitu sisi di mana berlaku kenyataan bahwa cewe dan cowo memang diciptakan untuk berinteraksi secara seksual. Sisi lainnya yang kontras dengan itu adalah sisi di mana cewe dan cowo adalah sama-sama manusia, dengan feature dasar yang sama, dan bisa share berbagai hal tanpa interferensi ketertarikan seksual. Poin di mana titik yang disebut “persahabatan” di sini terletak di antaranya. Tapi ngga jelas juga tepatnya di mana. Apakah tepat di tengah-tengah, ataukah lebih condong ke kiri, atau ke kanan. Titik itu harus didefinisikan bersama, bukan hanya oleh satu pihak. Saya setuju, kalau satu pihak saja kemudian merasakan ketertarikan seksual pada yang lainnya, maka itu akan mengacaukan persahabatan. That’s exactly titik di mana persahabatan itu jadi tidak mungkin.
December 6th, 2005 at 12:50 am
idealnya memang begitu. tapi kalo kita mau realistis…persahabatan cowok dan cewek itu sesungguhnya hal yang terlalu ‘WOW’. yang perlu sebenarnya, ada perbedaan yang signifikan antara bersahabat dan berteman. persepsi kita tentang dua hal tersebut perlu disamakan dulu… bagi saya persahabatan itu ‘dalam’. ada komitmen di dalamnya. beda dengan pertemanan biasa. dan komitmen itulah yang biasanya dikhianati (seperti yg terjadi pada kamu dan teman kamu). saya punya 1 sahabat cewek dan punya banyak teman cewek dan cowok. cara saya bersahabat dengan sahabat saya dan berteman dengan teman saya berbeda. dan saya tahu saya saya bisa bersahabat dengan sahabat cewek saya karena selain kami berdua cocok, saya sadar, tidak akan ada kemungkinan kami tak bersahabat lagi karena faktor ketertarikan seksual (kami berdua straight :p). kalopun gag cocok lagi, itu mungkin krn faktor lain. beda ceritanya kalo saya bersahabat dengan cowok (walo sebenarnya hal ini saya hindari), dan bersahabat dengan dia dengan cara yang sama dengan yang saya lakukan dengan sahabat cewek saya. suatu saat dia atau mungkin saya bisa ‘berkhianat’, meskipun itu cuma di hati saja. jangankan sahabat, beberapa teman cowok saya saja pernah mengkhianati pertemanan kami. persahabatan cewek dan cowok itu sepertinya ditakdirkan untuk tidak kekal. ia seolah-olah ‘dikutuk’.
December 6th, 2005 at 3:42 am
Sama seperti kamu, saya juga punya standar yang tinggi tentang definisi persahabatan. Tapi yang saya alami dan rasakan sendiri, persahabatan itu ngga pernah bisa dibuatkan satu definisi. Katakan saya punya 2 orang sahabat, dua-duanya laki-laki. Karakter persahabatan saya dengan yang satu tidak sama persis dengan yang satunya lagi. Sampai tingkat tertentu mungkin bisa ditemukan kesamaan. Tapi tetap ada hal-hal, entah itu cerita sedih, gembira, atau waktu untuk bermuram durja, atau “party-time”, yang saya dengan mudah share dengan si A, tapi tidak nyaman share dengan si B. Begitu juga sebaliknya. Bahkan dalam bersahabat dengan A pun, hubungan itu tidak statis. Ada waktunya terasa kita tuh attached banget, ada waktunya di mana rasanya dia sama sekali ngga terhubung dengan kehidupan saya. Belum lagi ditambah perbedaan karakter karena perubahan usia. Dulu waktu SMA saya bersahabat dengan cara tiap malam main game komputer sama-sama, curhat-curhatan tentang kecengan masing-masing, berlibur ke gunung sama-sama, saling menolong dalam menghadapi masalah masing-masing yang aneh-aneh. Setelah masuk dunia kerja, lain lagi cerita. Tapi yang bikin beda antara teman dan sahabat, buat saya, adalah walau sebagaimana lama pun kami rasanya tidak “terhubung”, pas suatu saat bertemu lagi, semuanya langsung connect lagi.
Memang high risk, karena berpotensi membekaskan luka.. Tapi kalau berhasil menjalani, pasti terasa indah..
Saya punya banyak persahabatan dengan cowo yang modelnya seperti ini. Kalau saya coba banding-bandingkan karakter-karakter persahabatan saya, saya tidak pernah berhasil melihat yang satu lebih baik dari yang lain. Semuanya unik. Semuanya ada baiknya. Dan semuanya ada kekurangannya. Saya masih bisa bedakan berteman dan bersahabat. Buat saya, bersahabat artinya ada bagian dari jiwa kita yang kita taruh di dalam diri orang lain, dan sebaliknya.
Kembali ke bahasan persahabatan antara cewe dan cowo.. Saya berani bilang itu bisa dilakukan karena saya punya pengertian seperti yang saya tulis tadi di atas.. Saya tidak menerapkan definisi tunggal persahabatan.. Dan sampai kadar tertentu, saya bisa “taruh” sebagian dari jiwa saya pada diri lawan jenis saya (semoga bisa dicerna bahasa saya yang najis ini) tanpa berinterferensi dengan ketertarikan seksual… Ada kalanya ketertarikan itu muncul, tapi selama itu bisa dikendalikan tidak akan jadi masalah… Saya tidak bilang itu mudah.. Saya ngga punya sahabat cewe banyak.. Sedikit sekali.. Dan seperti saya sebut sebelumnya, persahabatan itu pun dinamis.. Tapi saya tetap yakin bahwa hubungan itu layak disebut persahabatan..
Tentang “kekekalan” persahabatan antara cowo dan cewe, saya rasa itu kembali berbalik ke definisi persahabatan yang kita pegang.. Saya sekali lagi setuju, ketertarikan seksuallah yang akan menggoncang persahabatan… Selama kita bisa mengendalikan diri, menempatkan diri, dan jeli terhadap respons lawan kita, kita berpeluang merasakan indahnya persahabatan dengan lawan jenis, yang mana jarang ada orang yang mempercayai eksistensinya..
December 8th, 2005 at 5:05 pm
hmm.. mungkin aja .. tapi persahabatan sejatinya terbentuk belakangan setelah melalui banyak proses, mungkin dari proses salah satu nya jatuh cinta, salah satunya marah, kaya yang david alamin. I mean setelah going through many things, kalo dia emang tetep bersahabat ama elo dan elo sebaliknya, berarti ya kalian emang bener-bener sahabat sejati.
January 27th, 2009 at 7:02 am
Hmm..persahabatan antara pria dan wanita sih mungkin-mungkin aja (why not gitu) menurut gw, asalkan dr awal uda ada komitmen dan kesepakatan bahwa hubungan itu tidak lebih dari jalur itu. Nah qta mmg tidak pernah tau kapan cinta itu datang kan. Ketika si cinta ataw plg ga si rasa suka itu mulai menghampiri salah satu dari yg bersahabat itu, harus ada langkah untuk mengatasinya. Apakah menyimpan rasa itu aja dlm hati ataw menyatakan perasaannya ke org bersangkutan. Qta harus peka terhadap tanda-tanda/sinyal-sinyal yg diberikan sahabat qta itu. Dgn melihat tanda-tanda itu, qta tau apakah dy memiliki perasaan yg sama ataw tidak dgn qta. Ada beberapa kasus di skitar gw, ketika cewek cowok bersahabat, lalu ternyata cowok menyukai sang cewek itu dan menyatakan perasaannya. Namun ternyata sang cewek itu tdk memiliki pe rasaan yg sama terhadap cowok. Hubungan keduanya menjadi renggang setelah kejadiannya tersebut. Kan ga enak bgt kalo ky begini kejadiannya..
February 6th, 2009 at 11:52 am
gw inget pernah ikutan ngasi komentar di posting ini. dec 2005, cukup lama juga. strange enough, gw masih stick dg pendapat gw 3 taon lalu.
February 23rd, 2009 at 8:34 pm
Terima kasih Teru buat komentarnya… Saya nangkep apa yang Teru maksud… Tapi persahabatan yang sebenarnya selalu memberi kebebasan buat mereka yang menjalani… Kalau dari awal udah diset harus begini harus begitu, ngga boleh begini ngga boleh begitu, bukannya malah jadi kerasa membebani..?
Kalau saya sih, tapi ini pendapat saya aja, belum tentu orang lain berpikiran sama, saya suka yang natural-natural aja… kalau memang bisa berteman, ya jalani.. kalau jadi sahabat ya syukur… kalau salah satu jatuh hati, ya kasih tau aja ke sahabatnya… kalo jadian, ya seneng… kalo nantinya jadi renggang, ya itu risiko… mungkin solusi sementaranya begitu, kan belum tentu selamanya juga bakal renggang… atau bisa jadi selamanya… memang kerasa ngga enak… terutama kalo pikiran difokusin ke hanya masalah itu aja… tapi kalau mau lihat big picture kehidupan, bisa jadi itu adalah jalan supaya kita terbuka terhadap kemungkinan lain…
Sekali lagi ini pendapat saya aja… bukan berarti setiap orang harus begini juga.. bebas bebas aja…
Jeane…. He he… salut, elo masih bersiteguh pada pendirian.. he he… Gua setuju Jeane, pertama memang mungkin definisi kita tentang persahabatan ngga bener2 sama… Berangkat dari situ, cerita selanjutnya wajar bisa jadi lain… atau mungkin definisi kita tentang persahabatan itu sama… cuma kita berpendapat lain.. he he he… which makes it more beautiful…