…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for December, 2005


Menjadi Teman Curhat yang Baik

Ada orang yang tanpa disadarinya mendapatkan gelar teman curhat yang baik. Dia selalu dicari, dia mendapatkan kepercayaan untuk menyimpan rahasia, bahkan nasehatnya sering kali didengarkan dan dilakukan.

Menjadi teman curhat adalah kebahagiaan tersendiri. Itu artinya orang lain menghargai dan menaruh kepercayaan yang tinggi pada kita. Kita semua mempunyai karakter bawaan. Ada yang senang berbicara, ada yang lebih suka mendengarkan orang lain bicara. Yang disebut terakhir ini berpotensi untuk menjadi teman curhat yang baik. Tapi itu tidak berarti orang-orang dengan sifat bawaan yang lain tidak bisa menjadi teman curhat yang baik juga. Berdasarkan pengamatan saya terhadap teman-teman yang saya masukkan dalam kategori teman curhat yang baik, dan sedikit pengalaman saya ketika menjadi tempat curhat, berikut ini adalah hal-hal penting yang perlu dilakukan:

  1. Dengar, Dengar, dan Dengar

Manusia diberi satu mulut dan dua telinga. Lalu ada orang yang menyimpulkan bahwa seharusnya kita lebih banyak mendengarkan dari pada berbicara. Ada benarnya juga sih. Asal jangan lupa bahwa dua daun telinga itu lebih ditujukan untuk mengenal ruang spasial sekitar kita, mengira-ngira jarak, posisi, dan pergerakan sumber suara relatif terhadap posisi pendengar. Itu sebabnya jika kita tutup satu telinga kita, kita sering kesulitan menyebutkan dari arah mana suara berasal. J

Mendengarkan adalah syarat mutlak yang harus dilakukan jika ingin menjadi teman curhat yang baik. Jangan cepat tergoda untuk memberi nasehat atau menyela untuk menceritakan pengalaman kita ketika menghadapi masalah yang sama. Dengarkan ceritanya sampai benar-benar selesai. Sesekali ajukan pertanyaan untuk membantu si pencurhat bercerita lebih detail. Pada banyak kasus, orang tidak perlu nasehat kita, atau ide-ide cemerlang kita sebagai solusi masalahnya. Mereka hanya perlu seorang pendengar.

2.   Perhatikan Bahasa Tubuh

Banyak hal yang mesti perhatikan: isi cerita, intonasi, dan bahasa tubuh. Pada dasarnya memperhatikan bahasa tubuh tidak bisa dipisahkan dari kegiatan mendengarkan.

Intonasi, tatapan mata, dan gestur adalah pesan yang mewakili emosi dan perasaan si pencurhat. Dari situ, bisa diketahui apakah berita itu berita gembira atau sedih, apakah sudah semua detail diceritakan atau masih ada sebagian yang disimpan, dan apakah si pencurhat jujur atau berbohong. Jangan lakukan hal lain ketika mendengarkan orang curhat karena diperlukan konsentrasi penuh untuk menyerap semua informasi secara lengkap. Bukan hanya isi ceritanya, bukan hanya emosinya, tapi keduanya.

  1. Be Positive

Ini kunci yang sangat penting. Tidak ada orang yang mau cerita bahagianya dirusakkan oleh reaksi negatif si pendengar. Apalagi kalau yang diceritakan adalah kesedihan. Yang mereka perlukan adalah berkurangnya beban masalah mereka, jangan ditambah dengan respons kita yang negatif.

  1. Beri Nasehat, Hanya Jika Diminta atau Ketika Benar-benar Diperlukan

Sering kali orang curhat bukan karena perlu nasehat, tapi perlu pendengar. Kehadiran kita di sisinya lebih berharga dari nasehat kita. Karena itu, jangan terburu-buru memberi nasehat atau wejangan atau insight atau apapun istilahnya, kecuali kalau memang diminta. Tidak perlu mengarang-ngarang solusi yang brilian kalau memang kita tidak mempunyainya. Lebih baik katakan “gue masih belum punya solusi buat masalah loe” dari pada terlanjur berimprovisasi dan kemudian malah menambah runyam masalahnya. Juga harap diingat, solusi apapun yang pernah berhasil untuk diri kita, belum tentu dapat diterapkan pada orang lain.

  1. Kenali Watak Si Pencurhat

Banyak buku dan pelatihan yang membahas pemilahan watak-watak manusia. Ada yang membagi menjadi 4 kelompok, 16 kelompok, dan lainnya. Intinya, secara statistik orang telah menemukan kelompok-kelompok manusia yang berwatak hampir sama. Saya ambil contoh pengolompokan berikut yang cukup terkenal. Orang yang cerewet disebut Sanguinis, yang perfeksionis disebut Melankolis, yang pingin selalu menang disebut Koleris, dan yang bagai kerbau dicocok hidungnya disebut Plegmatis. Tiap kelompok watak memiliki sifat khasnya masing-masing, termasuk bagaimana mereka memberi respons terhadap masalah, dan bagaimana mereka berpikir dalam keadaan tertekan. Mengetahui watak si pencurhat dan kecenderungan dia memberi atau menerima respons adalah aset tambahan. Dengan begitu, kita berpeluang memberikan respons yang bisa diterima dengan baik oleh si pencurhat. Seorang pencurhat yang koleris hampir pasti tidak akan pernah terima jika diberi tahu apa-apa saja yang mesti dia lakukan. Mungkin akan lebih bisa dia terima kalau nasehat itu berupa cerita tentang pengalaman kita ketika berhasil mengatasi masalah kita, tanpa ada sedikitpun saran agar dia melakukan apa yang kita lakukan.

  1. Jadilah Orang yang Dapat Dipercaya

Menceritakan pengalaman pribadi kepada orang lain melibatkan risiko pengkhianatan. Setiap rahasia, cerita sedih, kisah bahagia yang diceritakan kepada kita bukan hanya sekedar suatu informasi, tapi merupakan paket yang mengikutsertakan kepercayaan si pencurhat. Karena itu jangan mengkhianati kepercayaan tadi dengan menceritakan lagi kisah itu kepada orang lain. Memang tantangan berat, karena ber-gosip adalah hal yang menyenangkan.

  1. Miliki Nilai-nilai Hidup yang Berkualitas

Nilai-nilai hidup adalah prinsip yang menjadi dasar seseorang menjalani kehidupannya. Sebut saja itu kejujuran, kedisiplinan, kasih tulus tanpa pamrih, kerendahan hati, dan lainnya. Ketika seseorang memegang dan menjalani nilai-nilai hidupnya yang berkualitas, orang lain akan dengan mudah menaruh kepercayaan kepadanya.

Ketujuh poin di atas tidak tersusun berdasarkan prioritas. Semuanya penting. Dan semuanya menuntut kedisiplinan untuk selalu diasah. Semoga kita menjadi orang yang berguna bagi sesama kita, minimal sebagai teman curhat yang baik.

Ketidakbahagiaan adalah Kebahagiaan Yang Perlu Digali

Bulan Desember buat saya selalu menjadi bulan yang menyenangkan. Kok? Bulan Desember adalah bulan Natal dan rasanya selalu ada kedamaian di bulan ini. Walaupun ada kejadian buruk atau yang kurang menyenangkan, tapi semuanya rasanya larut begitu saja, dikalahkan oleh suasana damai tadi. Tidak peduli apakah isi dompet saya cukup tebal atau pas cekak-cekaknya, perayaan meriah atau sederhana saja, entah dikelilingi teman-teman, keluarga, saudara, sahabat, atau sendirian saja. Selalu ada kedamaian yang saya rasakan.

Suasana itulah yang mendorong saya untuk merefleksikan kehidupan saya selama satu tahun ini. Banyak keberuntungan yang saya alami (saya lebih suka menyebutnya anugerah), banyak keberhasilan yang saya raih, banyak kesempatan yang saya lewatkan, banyak juga kesalahan yang saya lakukan (dan berapa kesempatan untuk pacaran yang kamu lewatkan, David? J). Dalam satu rentang waktu, saya merasa hidup ini seperti mimpi saja. Pernah rasanya tiba-tiba jadi orang superkaya (padahal sebenarnya ngga) dan rasanya bisa mendapatkan apa pun yang saya mau. Semua orang rasanya ingin menyenangkan saya dan mau memenuhi apa yang saya minta, bahkan memberikan apa yang tidak saya minta. Saya dikelilingi orang-orang yang begitu menyenangkan. Kadang kehidupan rasanya begitu exciting dan saya bersemangat sekali menjalaninya. Tapi adakalanya juga saya merasa hanya berjalan di tempat. Kok gini-gini aja. Ngga ada kemajuan. Kadang rasanya sepi, ngga ada teman. Kadang terasa begitu membosankan dan saya ingin agar waktu cepat berlalu dan hari segera berganti. Semoga ada yang lebih menarik di esok hari. Perubahan keadaan-keadaan selama berkali-kali di tahun ini merupakan tantangan bagi saya untuk tetap fokus mengejar impian-impian saya.

Bicara soal impian, ada yang bilang “hidup tanpa punya impian artinya menyia-nyiakan hidup.” Saya setuju. Tapi rupanya dengan mempunyai impian tidak lantas berarti saya tidak menyia-nyiakan hidup. Kadang saya heran sendiri mengingat-ingat diri saya melakukan apa yang saya tahu seharusnya tidak dilakukan. Atau sebaliknya, ketika saya tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan. (Kawan ngobrol saya di Australia pasti akan protes kalau dia baca kalimat-kalimat ini. Dia selalu tidak setuju dengan penggunaan kata harus, karena menentang pilihan bebas). Walau begitu, saya percaya bahwa sebenarnya tidak ada yang sia-sia selama kita mau memperbaiki kesalahan yang pernah kita buat.

Komitmen saya sebagai orang Kristen juga memberikan tantangan berat. Bagi saya, hidup dalam nilai-nilai kekristenan bisa diumpamakan seekor rajawali yang harus hidup dalam tubuh seekor ayam tapi harus tetap berkelakuan seperti rajawali. Mungkin analogi yang terlalu berlebihan, mungkin juga tidak. Saya percaya tantangan seperti ini dialami juga oleh teman-teman yang berkeyakinan lain. Sering sih saya merasa sudah menjadi orang kristen yang baik, tapi ada saja saat-saat di mana saya sadar bahwa saya sama sekali mengecewakan Tuhan. Bahkan di tahun ini, saya bukan saja pernah menjauh dari Dia, tapi benar-benar memusuhi-Nya. Bukan tindakan yang bijaksana memang, tapi itu pernah saya lakukan. Syukurlah Pencipta kita memang Mahabaik. Selalu saja Dia punya cara untuk membawa saya kembali mendekat dengan-Nya.

Dari apa yang saya alami ketika menghadapi perubahan keadaan-keadaan hidup ini saya dapat mengambil satu kesimpulan. Ketika saya merasa tidak bahagia, itu artinya ada yang tidak beres dalam hubungan saya dengan Sang Pencipta. Entah itu artinya saya “kekurangan makanan”, atau saya mulai egois, atau saya melanggar nilai-nilai kebenaran.

Ketidakbahagiaan bisa dijadikan sensor yang cermat, sehingga saya mengetahui apa yang perlu saya tambahkan ke dalam diri saya, dan apa yang mesti saya buang dari dalam diri saya. Dan ketika saya mersepons rasa tidak bahagia ini dengan benar, saya mendapatkan kebahagiaan di baliknya. Itu yang saya maksud dengan ketidakbahagiaan adalah kebahagiaan yang perlu digali.

Selamat Hari Natal…. Semoga Damai Natal Membawa Kebahagiaan di Hati, Bahkan Memberikan Semangat untuk Menjalani Tahun yang Baru…

Seberapa manjakah Anda?

Orang cenderung menghubungkan sifat manja dengan kebutuhan akan perhatian. Saya rasa itu tidak sepenuhnya benar. Saya menerjemahkan manja dengan kata-kata saya sendiri sebagai berikut: manja adalah suatu attitude di mana seseorang secara berlebihan menginginkan sesuatu berjalan di dalam lingkup perasaan nyamannya. 

Seberapa sering kita mendengar orang membatalkan janji hanya karena cuaca terlalu panas. Atau hujan deras lama tidak berhenti. Ada orang yang tidak pernah mau lagi datang ke pesta pernikahan karena khawatir terlihat dia tidak punya pasangan. Ada yang selalu menuntut orang lain memperlakukan dia seperti anggota keluarga di rumah yang selalu menghormatinya.. Ada yang pilih-pilih pekerjaan sehingga rela menganggur lama hanya karena alasan kenyamanan tadi. Intinya manja adalah kebutuhan yang berlebih akan kenyaman. Bahayanya, jika dibiarkan terus, sifat manja ini akan menghambat pertumbuhan kita di segala bidang,  mulai dari perkembangan kedewasaan, interaksi sosial, karir, keuangan, sampai kerohanian.

Reaksi orang memang berbeda-beda ketika menghadapi ancaman ketidaknyamanan. Tapi secara alamiah, orang cenderung menolak ketidaknyamanan. Sebagian orang cenderung untuk mengendalikan keadaan atau bahkan orang-orang lain yang tidak membuatnya nyaman. Sebagian memilih untuk tidak melakukan apa-apa, daripada melakukan sesuatu yang mungkin berguna tapi tidak membuatnya nyaman. Ada lagi yang melupakannya dan terus melanjutkan kehidupan seperti biasanya yang dirasanya sudah nyaman.

Padahal belum tentu apa yang sekarang kelihatannya tidak nyaman itu adalah benar-benar demikian. Kalau sudah dijalani, barulah terasa bedanya. Banyak kisah serupa tapi tak sama yang menceritakan keberhasilan melangkahi garis kenyamanan ini. Ada seorang yang pemalu berubah menjadi seorang presenter televisi. Mungkin seorang tukang koran menjadi pengusaha sukses. Atau seorang pengusaha yang rela meninggalkan bisnisnya dan hidup sederhana karena dia merasa telah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Contoh lainnya, seorang manajer yang berani mengambil risiko untuk berhenti dari pekerjaannya dan lalu sukses membangun perusahaannya sendiri. Di dalam semua kisah tadi pasti ada kekhawatiran, perasaan takut gagal, pengorbanan yang harus dilakukan, baik itu korban perasaan, waktu, atau harta. Namun banyak hal yang bisa diubah menjadi lebih baik jika kita mau menyangkal kenyamanan kita.

Memang hal ini tidak mudah untuk dilakukan, apalagi kalau kita mengandalkan kekuatan kita sendiri. Kita perlu seseorang yang lebih kuat dari kita untuk mendukung dan menuntun kita untuk melangkah terus. Tapi adakalanya tidak ada orang yang bisa kita harapkan. Jangan pernah lupa, selalu ada sumber harapan. Pencipta kitalah Sumber Harapan kita. Dia sudah menjanjikan akan memberi yang terbaik bagi siapa pun yang berharap kepada-Nya. Jangan sia-siakan harapan yang diberi-Nya. Tanpa harapan atau impian, kita akan selalu merasa nyaman di keadaan kita sekarang. Artinya kita akan hidup terus dalam kemanjaan dan tidak pernah maju. Mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Seberapa besarkah impian saya? Seberapa manjakah saya?