Seberapa manjakah Anda?
Orang cenderung menghubungkan sifat manja dengan kebutuhan akan perhatian. Saya rasa itu tidak sepenuhnya benar. Saya menerjemahkan manja dengan kata-kata saya sendiri sebagai berikut: manja adalah suatu attitude di mana seseorang secara berlebihan menginginkan sesuatu berjalan di dalam lingkup perasaan nyamannya.
Seberapa sering kita mendengar orang membatalkan janji hanya karena cuaca terlalu panas. Atau hujan deras lama tidak berhenti. Ada orang yang tidak pernah mau lagi datang ke pesta pernikahan karena khawatir terlihat dia tidak punya pasangan. Ada yang selalu menuntut orang lain memperlakukan dia seperti anggota keluarga di rumah yang selalu menghormatinya.. Ada yang pilih-pilih pekerjaan sehingga rela menganggur lama hanya karena alasan kenyamanan tadi. Intinya manja adalah kebutuhan yang berlebih akan kenyaman. Bahayanya, jika dibiarkan terus, sifat manja ini akan menghambat pertumbuhan kita di segala bidang, mulai dari perkembangan kedewasaan, interaksi sosial, karir, keuangan, sampai kerohanian.
Reaksi orang memang berbeda-beda ketika menghadapi ancaman ketidaknyamanan. Tapi secara alamiah, orang cenderung menolak ketidaknyamanan. Sebagian orang cenderung untuk mengendalikan keadaan atau bahkan orang-orang lain yang tidak membuatnya nyaman. Sebagian memilih untuk tidak melakukan apa-apa, daripada melakukan sesuatu yang mungkin berguna tapi tidak membuatnya nyaman. Ada lagi yang melupakannya dan terus melanjutkan kehidupan seperti biasanya yang dirasanya sudah nyaman.
Padahal belum tentu apa yang sekarang kelihatannya tidak nyaman itu adalah benar-benar demikian. Kalau sudah dijalani, barulah terasa bedanya. Banyak kisah serupa tapi tak sama yang menceritakan keberhasilan melangkahi garis kenyamanan ini. Ada seorang yang pemalu berubah menjadi seorang presenter televisi. Mungkin seorang tukang koran menjadi pengusaha sukses. Atau seorang pengusaha yang rela meninggalkan bisnisnya dan hidup sederhana karena dia merasa telah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Contoh lainnya, seorang manajer yang berani mengambil risiko untuk berhenti dari pekerjaannya dan lalu sukses membangun perusahaannya sendiri. Di dalam semua kisah tadi pasti ada kekhawatiran, perasaan takut gagal, pengorbanan yang harus dilakukan, baik itu korban perasaan, waktu, atau harta. Namun banyak hal yang bisa diubah menjadi lebih baik jika kita mau menyangkal kenyamanan kita.
Memang hal ini tidak mudah untuk dilakukan, apalagi kalau kita mengandalkan kekuatan kita sendiri. Kita perlu seseorang yang lebih kuat dari kita untuk mendukung dan menuntun kita untuk melangkah terus. Tapi adakalanya tidak ada orang yang bisa kita harapkan. Jangan pernah lupa, selalu ada sumber harapan. Pencipta kitalah Sumber Harapan kita. Dia sudah menjanjikan akan memberi yang terbaik bagi siapa pun yang berharap kepada-Nya. Jangan sia-siakan harapan yang diberi-Nya. Tanpa harapan atau impian, kita akan selalu merasa nyaman di keadaan kita sekarang. Artinya kita akan hidup terus dalam kemanjaan dan tidak pernah maju. Mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Seberapa besarkah impian saya? Seberapa manjakah saya?