…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for December 28th, 2005


Menjadi Teman Curhat yang Baik

Ada orang yang tanpa disadarinya mendapatkan gelar teman curhat yang baik. Dia selalu dicari, dia mendapatkan kepercayaan untuk menyimpan rahasia, bahkan nasehatnya sering kali didengarkan dan dilakukan.

Menjadi teman curhat adalah kebahagiaan tersendiri. Itu artinya orang lain menghargai dan menaruh kepercayaan yang tinggi pada kita. Kita semua mempunyai karakter bawaan. Ada yang senang berbicara, ada yang lebih suka mendengarkan orang lain bicara. Yang disebut terakhir ini berpotensi untuk menjadi teman curhat yang baik. Tapi itu tidak berarti orang-orang dengan sifat bawaan yang lain tidak bisa menjadi teman curhat yang baik juga. Berdasarkan pengamatan saya terhadap teman-teman yang saya masukkan dalam kategori teman curhat yang baik, dan sedikit pengalaman saya ketika menjadi tempat curhat, berikut ini adalah hal-hal penting yang perlu dilakukan:

  1. Dengar, Dengar, dan Dengar

Manusia diberi satu mulut dan dua telinga. Lalu ada orang yang menyimpulkan bahwa seharusnya kita lebih banyak mendengarkan dari pada berbicara. Ada benarnya juga sih. Asal jangan lupa bahwa dua daun telinga itu lebih ditujukan untuk mengenal ruang spasial sekitar kita, mengira-ngira jarak, posisi, dan pergerakan sumber suara relatif terhadap posisi pendengar. Itu sebabnya jika kita tutup satu telinga kita, kita sering kesulitan menyebutkan dari arah mana suara berasal. J

Mendengarkan adalah syarat mutlak yang harus dilakukan jika ingin menjadi teman curhat yang baik. Jangan cepat tergoda untuk memberi nasehat atau menyela untuk menceritakan pengalaman kita ketika menghadapi masalah yang sama. Dengarkan ceritanya sampai benar-benar selesai. Sesekali ajukan pertanyaan untuk membantu si pencurhat bercerita lebih detail. Pada banyak kasus, orang tidak perlu nasehat kita, atau ide-ide cemerlang kita sebagai solusi masalahnya. Mereka hanya perlu seorang pendengar.

2.   Perhatikan Bahasa Tubuh

Banyak hal yang mesti perhatikan: isi cerita, intonasi, dan bahasa tubuh. Pada dasarnya memperhatikan bahasa tubuh tidak bisa dipisahkan dari kegiatan mendengarkan.

Intonasi, tatapan mata, dan gestur adalah pesan yang mewakili emosi dan perasaan si pencurhat. Dari situ, bisa diketahui apakah berita itu berita gembira atau sedih, apakah sudah semua detail diceritakan atau masih ada sebagian yang disimpan, dan apakah si pencurhat jujur atau berbohong. Jangan lakukan hal lain ketika mendengarkan orang curhat karena diperlukan konsentrasi penuh untuk menyerap semua informasi secara lengkap. Bukan hanya isi ceritanya, bukan hanya emosinya, tapi keduanya.

  1. Be Positive

Ini kunci yang sangat penting. Tidak ada orang yang mau cerita bahagianya dirusakkan oleh reaksi negatif si pendengar. Apalagi kalau yang diceritakan adalah kesedihan. Yang mereka perlukan adalah berkurangnya beban masalah mereka, jangan ditambah dengan respons kita yang negatif.

  1. Beri Nasehat, Hanya Jika Diminta atau Ketika Benar-benar Diperlukan

Sering kali orang curhat bukan karena perlu nasehat, tapi perlu pendengar. Kehadiran kita di sisinya lebih berharga dari nasehat kita. Karena itu, jangan terburu-buru memberi nasehat atau wejangan atau insight atau apapun istilahnya, kecuali kalau memang diminta. Tidak perlu mengarang-ngarang solusi yang brilian kalau memang kita tidak mempunyainya. Lebih baik katakan “gue masih belum punya solusi buat masalah loe” dari pada terlanjur berimprovisasi dan kemudian malah menambah runyam masalahnya. Juga harap diingat, solusi apapun yang pernah berhasil untuk diri kita, belum tentu dapat diterapkan pada orang lain.

  1. Kenali Watak Si Pencurhat

Banyak buku dan pelatihan yang membahas pemilahan watak-watak manusia. Ada yang membagi menjadi 4 kelompok, 16 kelompok, dan lainnya. Intinya, secara statistik orang telah menemukan kelompok-kelompok manusia yang berwatak hampir sama. Saya ambil contoh pengolompokan berikut yang cukup terkenal. Orang yang cerewet disebut Sanguinis, yang perfeksionis disebut Melankolis, yang pingin selalu menang disebut Koleris, dan yang bagai kerbau dicocok hidungnya disebut Plegmatis. Tiap kelompok watak memiliki sifat khasnya masing-masing, termasuk bagaimana mereka memberi respons terhadap masalah, dan bagaimana mereka berpikir dalam keadaan tertekan. Mengetahui watak si pencurhat dan kecenderungan dia memberi atau menerima respons adalah aset tambahan. Dengan begitu, kita berpeluang memberikan respons yang bisa diterima dengan baik oleh si pencurhat. Seorang pencurhat yang koleris hampir pasti tidak akan pernah terima jika diberi tahu apa-apa saja yang mesti dia lakukan. Mungkin akan lebih bisa dia terima kalau nasehat itu berupa cerita tentang pengalaman kita ketika berhasil mengatasi masalah kita, tanpa ada sedikitpun saran agar dia melakukan apa yang kita lakukan.

  1. Jadilah Orang yang Dapat Dipercaya

Menceritakan pengalaman pribadi kepada orang lain melibatkan risiko pengkhianatan. Setiap rahasia, cerita sedih, kisah bahagia yang diceritakan kepada kita bukan hanya sekedar suatu informasi, tapi merupakan paket yang mengikutsertakan kepercayaan si pencurhat. Karena itu jangan mengkhianati kepercayaan tadi dengan menceritakan lagi kisah itu kepada orang lain. Memang tantangan berat, karena ber-gosip adalah hal yang menyenangkan.

  1. Miliki Nilai-nilai Hidup yang Berkualitas

Nilai-nilai hidup adalah prinsip yang menjadi dasar seseorang menjalani kehidupannya. Sebut saja itu kejujuran, kedisiplinan, kasih tulus tanpa pamrih, kerendahan hati, dan lainnya. Ketika seseorang memegang dan menjalani nilai-nilai hidupnya yang berkualitas, orang lain akan dengan mudah menaruh kepercayaan kepadanya.

Ketujuh poin di atas tidak tersusun berdasarkan prioritas. Semuanya penting. Dan semuanya menuntut kedisiplinan untuk selalu diasah. Semoga kita menjadi orang yang berguna bagi sesama kita, minimal sebagai teman curhat yang baik.