Tertawalah Karena Tawamu Mencerahkan Dunia
Pernah ngga sih loe ngebayangin dunia tanpa tawa? Mungkin kaya neraka kali ya.. Atau malah mendingan di neraka. Masih ada Setan yang ngetawain Kang Dadang, yang selingkuh sama wanita yang bukan istrinya (ya jelaslah, namanya juga selingkuh). “Ha ha ha, bego lo, Dadang. Lo cuma selingkuh sama satu cewe doang, si Neng Kokom. Lo mau selingkuh sama satu, dua, tujuh, delapan belas cewe’ juga ujung-ujungnya ke sini! Mendingan lo minta dilahirin sebagai kambing. Selingkuh sama puluhan betina, tetep aman. Kagak ke neraka.”
Gue senang sekali tertawa. Entah itu menertawakan kebodohan diri sendiri atau ketololan orang lain. Tentu bukan dengan niat untuk menghina-hina atau semacamnya.
Diakui maupun tidak diakui, setiap orang mesti pernah berbuat bodoh. Entah otaknya encer atau setengah encer, kedudukan tinggi atau kroco, muka tampan atawa serampangan, pasti pernah bikin kebodohon. Namun seringnya kebodohan ini hanya dipandang sebagai suatu kegagalan (in fact, yes it is!). Tapi coba lanjutkan sedikit lagi. Jika kita bisa membawa orang lain menikmati kebodohan kita dengan tertawa, kita sudah membawa sedikit kecerahan pada dunia. Tentu yang dimaksud di sini bukan yang semacam kebodohon seorang supir bis malam yang menerjunkan kendaraannya ke jurang dan menyebabkan nyawa-nyawa melayang. Bukan itu.
Gue bersyukur boleh ditempatkan di lingkungan yang menghargai tawa. Jadi ingat pertama kalinya tugas di lapangan. Itu trip pertama gue ke construction site. Letaknya di tengah kebun kelapa sawit. Jalanannya bukan aspal, tapi tanah merah. Di dalam plant, semua jalan setapak juga tanah liat. Sehabis hujan deras, yang namanya jalan itu bisa hilang. Semua jadi amburadul. Saat itulah diperlukan kemampuan untuk melihat yang tidak terlihat, karena loe ngga akan tau tanah di depan loe yang akan loe injek itu jalan atau bukan. Ketika itu gue dan bos gue jalan ke site. Kami harus melewati suatu gundukan galian untuk sampe ke lokasi yang dituju. Bos memberi contoh di depan. Perlu keterampilan menjaga keseimbangan memang. Tap tap tap. Berhasil ke seberang dia. Okelah, gue coba juga. Gue injek tanah persis yang diinjek bos gue, eh nyeblos bo. Namanya orang baru ya, gue ngga tau bahwa tanah itu walau keliatannya padat, di bawahnya lembek. Ngeliat kaki gue nyeblos, bos gue malah ketawa. Dan bukannya ngebantuin gue, dia malah nyoba nyari kamera dulu, ceritanya mau mengabadikan kebodohan gue. He he he. Ya gue ikut ketawa juga. (btw masa iya gue mau maki-maki bos gue.) Hari-hari berikutnya, gue denger cerita bahwa temen gue sudah mengalami itu juga sebelumnya. Malah dia nyeblosnya sampe sedalam pinggang!
Menertawakan kebodohan orang lain lebih enak lagi. Kenapa? Karena kita terima jadi. Ngga usah menanggung malu. Tinggal tarik nafas dalem-dalem, buka mulut lebar-lebar, dan keluarkan nafas berirama sambil mengucapkan ha ha ha ha semampunya. Tentu maksud dan tujuan menertawakan di sini bukan untuk menghina. (Tapi ajaibnya, ada lho orang-orang yang seakan menikmati jika dihina-hina). Sekedar menghargai pengorbanan orang lain yang telah berbuat tolol, dan menghiburnya. Iya betul. Tertawaan kita akan menghiburnya. Entah penghiburan itu dirasakannya saat itu juga atau di kemudian hari.
Hidup terlalu serius itu ngga nikmat. Gue pernah mencoba menjalaninya. Tapi kemudian gue menarik pelajaran bahwa kemampuan untuk menertawakan hal-hal yang patut ditertawakan dan/atau untuk tidak menertawakan hal-hal yang seharusnya tidak ditertawakan perlu dibina dan dilestarikan. Ada sebagian orang tidak rela dirinya terlihat bodoh karena tertawa atau ditertawakan. Padahal pada kenyataannya, mereka yang kesulitan tertawalah yang bodoh. Jadi… Tertawalah, karena tawamu mencerahkan dunia.