Langkah Kecil yang Menentukan
Kemarin sore rasanya suntuk sekali. Maka gue rencanakanlah acara refreshing kecil-kecilan. Sekedar duduk, menyeruput vanilla latte dan menikmati cheesecake favorit di satu kedai kopi di kawasan Bundaran HI. Ngga ada yang benar-benar istimewa. Mal agak sepi, karena bagi kebanyakan orang saat itu belum jam pulang kantor. Hanya satu tujuan. Mengamati orang-orang yang lalu lalang. Pasti ada yang bisa dipelajari dari gerak gerik mereka.
Busway, sarana transportasi yang menjadi pilihan sore itu, ternyata sedang pada peak load-nya. Semua bis penuh berjejal. Hanya ada satu atau dua tempat di setiap bis yang lewat. Sekitar sepuluh bis berlalu, sebelum gue akhirnya terangkut di dalam salah satunya.
Ada kejadian menarik. Sederhana, tapi sering terlupakan. Perempuan ini–kira-kira seumur dengan gue–sudah berada di baris paling depan. Empat bis sudah lewat di depannya, tapi selalu dia tertinggal. Sampai satu saat, gue tepat bersebelahan dengan dia. Bis selanjutnya, gue mesti naik. Terlalu lama menunggu. Capek.
Bis berhenti. Pintu terbuka. Pikiran bergulat. Apakah gue beri jalan buat perempuan itu? Atau gue yang naik ke bis? Putusan diambil. Gue melangkah ke depan. Masuk. Satu orang ikut di belakang gue. Pintu ditutup. Bis berjalan. Perempuan tadi tertinggal. Lagi.
Gue jahat? Mungkin. Tapi paling tidak satu pelajaran dipetik sore itu. Melangkah. Itu yang membuat perbedaan. Maju atau diam di tempat ditentukan oleh satu langkah kecil.