Hidup Ini Simpel…
Beberapa hari ini topik di atas, entah kenapa, sering beredar di kepala gue. Komentar blog, obrolan dengan sobat gue, rasanya sedang mengarah ke topik ini.
Sudah sifat manusia kalau mereka tidak puas dengan sesuatu. Di satu sisi, ketidakpuasan itu menjadi pendorong yang positif untuk mencapai keadaan yang lebih baik. Di sisi lain, itu pula yang menjebak orang sehingga dia tidak hidup dalam kenyataan.
Seorang sobat pernah menyinggung bahwa ada seorang tukang nasi uduk yang sudah bertahun-tahun menjalani usahanya. Dagangannya laku keras. Pagi-pagi buta dia mesti pergi ke pasar, belanja, memasak nasi uduk, lalu berjualan. Sebelum jam sembilan pagi, dagangannya sudah habis. Laku keras. Business is good! Sesudah itu, dia akan duduk-duduk di depan rumahnya, baca koran sambil ngopi, bersantai, ngobrol-ngobrol. Pemalas? Sebagian orang, terutama mereka yang terbiasa hidup di metropolitan mungkin akan mengatakan begitu. Kenapa ngga ditambah produksinya? Buka cabang baru! Tambah pekerja? Gandakan penghasilan! Pertanyaan-pertanyaan dan usulan-usulan tadi sudah diajukan kepadanya. Jawabnya. Buat apa? Kalau saya tambah, saya ngga bisa duduk ngobrol dan ngopi-ngopi lagi. Ngga bisa menikmati pagi yang damai. Buat apa?
Pertanyaan sederhana. Buat apa? Toh dia tidak menginginkan kehidupan yang sibuk. Toh penghasilannya sudah cukup untuk membiayai kehidupan keluarganya. Toh menggandakan penghasilan belum tentu menggandakan kebahagiaan.
Sering kali kita memakai ukuran orang lain untuk mengukur kebahagiaan kita. Ganti mobil tiap ganti tahun. Rumah besar. Vice President. General Manager. Deposito bermilyar-milyar. Pacar setara foto model. Padahal itu semua ngga akan ditanya di sono waktu kita mati.
Tulisan ini tidak akan dilanjutkan dengan wejangan-wejangan untuk mencapai kebahagian dan semacamnya. Alasannya, pertama, gue sendiri belum ada pada posisi yang berhak menasehati. Gue masih belajar. Kedua, gue rasa pembaca semua juga sudah tahu apa itu kebahagiaan menurut definisi masing-masing. Hanya saja, pandangan orang lain tentang kebahagiaan sering mengacaukan pandangan kita.
Semoga tulisan kecil ini cukup kuat untuk membentur kepala para manusia metropolitan. Hidup itu simpel, tapi ngga gampang. Makanya jangan dibuat ruwet. J
Warning: To Wayan, Anda diharap segera melanjutkan kebiasaan menulis Anda. Kalo ngga mau nulis, kita ngga perlu ngobrol-ngobrol lagih… Soalnya, isi kepala elo munculnya di sini terus nantinya… Padahal harusnya itu muncul di blog-mu sendiri… Ini seriusss…!! J