…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for February 6th, 2006


Kenapa Jatuh Cinta (baca: Jadian) itu Begitu Susah…?

“Kenapa sih dia ngga merhatiin aku? Padahal aku ini udah baik banget loh sama dia. Ngga sembarang cowok aku kasih coklat setiap hari. Tapi kok dia ngga ngerti sih kalo aku suka sama dia?”

“Gue ngga ngerti sama jalan pikiran cewek. Tampang gue oke. Karir, menjanjikan. Rumah, tinggal empat cicilan terakhir. Mobil ada. Kurang apa sih? Dasar cewek gak tau diuntung.”

Sounds familiar? Temen deket kamu yang mengalami? Atau malah pengalaman pribadi kamu sendiri? Pertanyaan yang terakhir cukup dijawab di dalam hati masing-masing saja J

Banyak orang yang mengeluh kesulitan memahami fenomena yang terjadi ketika dua manusia berlawanan jenis saling jatuh cinta. Bahkan sebagian besar orang terlanjur yakin bahwa hal itu tidak bisa dijelaskan dengan logika. Itu namanya perasaan. Itu kehendak Sang Pencipta.

Saya tidak membenarkan atau menyalahkan pernyataan-pernyataan tersebut. Saya sendiri—setelah bersusah payah jatuh bangun, disakiti dan menyakiti, dilukai dan melukai—sekarang percaya bahwa jatuh cinta bisa dijelaskan secara ilmiah. Bisa dimengerti dengan logika. Bisa dilihat dengan mata telanjang. Bisa dihirup bagaikan nafas.

Walau begitu, pada kenyataannya tetap saja tidak mudah bagi dua manusia saling jatuh cinta. Diperlukan suatu proses untuk menuju ke sana. Sering kali satu pihak sudah tergila-gila, sementara pihak yang lain hare-hare wae (buka kamus Bhs. Sunda). Atau setelah awal yang manis, di tengah jalan salah satu pihak tiba-tiba ilfil (bukan bhs. Arab).

Ada hal-hal mendasar yang sering dilewatkan orang ketika berusaha mendapatkan cinta pujaan hatinya.

Tidak Sepenuhnya Mengenal Diri Sendiri

Singkatnya, bagaimana seseorang mungkin mengerti tentang orang lain jika dia tidak mengerti dirinya sendiri. Jika dia tidak menerima dirinya apa adanya. Jika dia tidak mengetahui bakat dan potensinya. Jika dia tidak tahu kelemahannya. Jika dia tidak tahu cita-citanya sendiri. Apa yang perlu dilakukannya untuk menghidupkan lagi semangatnya setelah lelah bekerja. Pasangan hidup yang bagaimana yang cocok untuk melengkapi sifat-sifatnya.

Setelah cukup bisa mengenal diri sendiri, baru mulai mencoba mengenal dan mengerti orang lain.

Tiap manusia adalah unik. Maka untuk mengenal seseorang pun diperlukan suatu cara yang unik. Tantangannya adalah bagaimana untuk menemukan cara itu.

Ujian Saringan Masuk yang Diselenggarakan oleh Lawan Jenis

Banyak orang berprinsip: Just be yourself. Jadilah dirimu sendiri. Prinsip yang bagus. Asal jangan lupa bahwa lawan jenis kita secara konstan menyelenggarakan ujian saringan masuk. Hanya ada pass or fail. Tidak ada ujian susulan. Tidak ada ujian perbaikan. First impression. Hanya itulah kesempatan kamu.

Walaupun tadi disebutkan bahwa setiap pribadi adalah unik, secara kasar bisa diperkirakan kriteria-kriteria apa saja yang diterapkan oleh lawan jenis pada segmen tertentu. Seseorang cenderung mencari pasangan yang setara atau lebih tinggi dari kualitas yang dia miliki. Mulai dari cara berpenampilan, bersikap, bertutur kata, sampai caranya mengatasi masalah.

Diperlukan kemauan dan kemampuan untuk mengerti si penguji kalau ingin lulus ujiannya. Mengerti pria seperti apa yang menjadi Pengeran Impiannya. Mengerti apa yang ada di pikirannya tentang siapa yang dimaksud Puteri Impian. And be the one.

Pandanglah Jauh ke Dalam

Setelah melewati proses pengenalan diri dan lulus Ujian Saringan Masuk pun, belum tentu jalan ke depan akan mulus. Ketika dua orang sudah mulai saling menerima, maka mereka akan lebih saling terbuka satu sama lain.

Keterbukaan ini sebenarnya menyuarakan kepercayaan yang sudah mulai saling tertanam. Sayangnya, sering orang mulai ingin mundur ketika sudah mulai terbina kepercayaan. “Wah, kok dia keluarganya gitu ya? Ngga pada sekolah” (maksudnya, beda tata caranya dengan keluarga di rumah). Atau. “Wah, ternyata kontrak kerjanya sudah hampir habis.” Dan hal-hal senada lainnya, yang rata-rata adalah suatu bentuk dari yang namanya masalah.  Pandanglah jauh ke dalam. Pandang kualitas yang dimilikinya, sesuatu yang lebih permanen. Bukan sekedar kulit atau bungkusnya. Pandang kemauannya untuk mengatasi masalah, bukan masalahnya itu sendiri. Pandang manusia sejatinya, bukan labelnya. Itulah yang layak dijadikan kriteria go/no go.

Semuanya sebenarnya sesederhana itu. Hanya saja banyak kali orang tidak mau untuk berusaha mengerti. Yang dipercayai hanyalah “Tuhan akan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya”. Atau yang lain lagi, “Tuhan akan menyediakan yang terbaik.” Tapi apa usaha manusia untuk sampai ke waktu yang indah itu? Apa yang sudah dikerjakan untuk mendapatkan “yang terbaik” itu? —Mengheningkan cipta, mulai……..