Lelah…? Have Some Rest…
Manusia mana yang ngga pernah merasa lelah. Mungkin ada, tapi saya rasa tidak banyak.
Lelah. Penat. Ingin istirahat. Perlu refreshing. Tometo tomato alias sami mawon.
Sebagian orang berpendapat bahwa manusia yang lelah adalah pemalas. Ayo dorong lebih keras lagi. Kamu bisa! Putar lebih kencang lagi. Lari! Tambah semangat dong. Tapi bukan itu yang diperlukan seorang yang lelah.
Dia perlu berhenti. Untuk sementara. Sekedar bernafas. Melihat waktu berjalan di depannya dengan lambat. Memandang orang lain yang berlari, lalu menebar senyum. Senyum kemenangan. Karena dia tidak perlu berlari. Memandang kemacetan lalu lintas di layar tivi. Dari dalam kamar yang nyaman. Tanpa harus berada di dalam kemacetan itu sendiri. Atau jalan-jalan di mal. Di Rabu siang. Saat orang lain harus mempersiapkan presentasi bisnis. Membaca komik favorit. Mendengarkan musik. Kencang-kencang. Atau sekedar menggeliat di balik selimut. J
Pada umumnya orang lebih suka mengumpulkan jatah cuti untuk satu waktu tertentu. Hari Raya. Liburan anak sekolah. Apapun itu. Kenapa tidak mencoba sesuatu yang lain. Kita semua punya jatah cuti. Ada yang punya 10 hari, 12, bahkan sampai 20 hari per tahun. Ada pula yang berhak cuti semaunya, karena dia bekerja untuk diri sendiri. No boss. Bayangkan liburan di tengah minggu di bulan Maret? Atau merancang long weekend uniquely costumized just for me? Kedengarannya menyenangkan, bukan? J
Menurut Covey, mengangkat satu gelas air bukanlah suatu pekerjaan yang berat. Satu menit, mudah. Dua menit, masih oke. Tapi jika satu tangan harus mengangkat gelas itu lebih lama lagi tanpa istirahat? Silakan coba sendiri.
Sama seperti tangan, jiwa kita pun perlu istirahat. Istirahat dari tekanan pekerjaan. Tuntutan pelanggan. Rutinitas. Keharusan berpakaian rapi. Menerima keluhan client. Makan siang yang terburu-buru. Macetnya jalanan. Ruangan kantor. Penuh sesaknya angkutan umum. Jiwa kita punya hak untuk beristirahat.