Judul Filmnya: Only If…
Hai. Apa kabar Anda hari ini? Selamat datang lagi di kedai kopi saya. Pesanan biasa? Akan segera saya antarkan ke meja Anda. Silakan duduk dulu. Sambil menunggu, Anda bisa menikmati cuplikan-cuplikan film pendek yang sedang diputar.
Film-film ini bukan produksi Hollywood. Juga belum pernah muncul di Academy Awards. Pemeran utamanya adalah orang-orang biasa. Sama seperti kita. Bukan bintang film yang ternama. Kalau begitu apanya yang menarik? Itu pertanyaan Anda, bukan?
Judul filmnya adalah Only If…
Film pertama. Roy. Bukan orang yang Anda kenal. Roy sedang menyetir mobil CRV 2004nya. Saat itu hari Jumat pagi. Dia sedang memacu mobilnya menuju kantor. Jalan Thamrin cukup lengang. Lampu hijau. Berubah jadi kuning. Sialan. Merah. Tancap gas. Pfuihh… Hampir saja. Di belakangnya, dua sepeda motor terjungkal. Seorang pelajar SMU terluka. Teriakan. Orang-orang berkerubung. Roy melanjutkan perjalanan. Dia tidak menabrak. Dua sepeda motor itu bertabrakan satu sama lain. Yang satu berusaha menghindari CRV yang melaju kencang sekali dan menabrak motor di sebelahnya. Roy sama sekali tidak tahu ada kecelakaan. Blur. Gelap.
Film yang lain diputar. Masih Roy dengan CRVnya. Awal yang sama. Setting yang sama. Ada perempatan di depan. Lampu kuning. Injak rem. Berhenti. Menunggu. Beberapa kendaraan melintas di depannya. Tujuh sepeda motor. Tiga mobil. Ada seorang pelajar SMU di sadel belakang Honda bebek. Membaca buku. Mungkin persiapan untuk ujian. Di depannya, si pengendara motor, mungkin kakaknya. Berpakaian pekerja kantoran. Suasana biasa. Tidak ada yang istimewa. Tiba-tiba gambar bergerak dengan cepat. Fast forward. Pelajar SMU lulus ujian. Lulusan terbaik se-Jakarta. Sorak sorai. Ucapan selamat. Pelukan kebahagiaan. Kegembiraan. Fast forward. Si pelajar mendapatkan beasiswa UNESCO. Fast forward. Si pelajar lulus perguruan tinggi di Belgia. Blur. Gelap.
Film yang lain lagi. Kali ini seorang wanita muda. Berpakaian pramugari. Diana. Tertulis di name tag mungil yang menempel bagian depan blazer-nya. Berjalan cepat. Kelihatannya sedang mengejar sesuatu. Mungkin dia terlambat. Menunggu lift. Seorang ibu tua menghampiri. Penampilannya sederhana. Si ibu menyapa. Obrolan singkat di dalam lift. Si ibu baru saja kecopetan. Perlu uang. Minta tolong. "Maaf, saya sedang terburu-buru." Keluar lift. Berjalan cepat. Si ibu ditinggalkan di tengah kebingungannya. Menoleh kiri kanan. Dia tidak punya ongkos untuk berangkat ke tempat kerja. Blur. Gelap.
Awal film. Masih Diana. Berjalan cepat. Menunggu lift. Bertemu seorang ibu tua. Dia perlu uang. Diana mengambil sejumlah uang dari dompetnya. Uang berpindah tangan. Ucapan terima kasih. Diana kembali berjalan cepat. Dia memang harus segera tiba di tempat kerjanya. Gambar bergerak dengan cepat. Fast forward. Si ibu tua selesai bekerja hari itu. Dia menerima upah hariannya. Pulang. Suaminya terbaring sakit. Si ibu menyiapkan makan malam. "Pak, hari ini aku bisa beli obat. Walau dompetku kecopetan, tadi ada seorang nona pemurah yang mau memberi aku uang. Tidak seberapa. Sekedar cukup untuk ongkos ke tempat kerjaku. Dan uang harian yang aku dapat hari ini aku belikan obat untuk kamu. Ayo diminum dulu." Fast forward. Suami si ibu. Sehat. Bugar. Duduk di tengah suatu kumpulan manusia. Dia ada di depan. Berceramah Jumat siang. Orang-orang terinspirasi. Ratusan kehidupan menjadi lebih baik. Blur. Gelap.
Maaf. Ini pesanan Anda. Vanilla Latte dan Lemon Cheesecake. Selamat menikmati. J Kalau perlu sesuatu, saya ada di sudut itu. Bagaimana, Anda menikmati film-film yang sudah diputar? Masih banyak film yang akan diputar. Dengan pola yang sama. Dua film berpasang-pasangan.
Ngomong-ngomong, saya pernah berandai-andai. Suatu saat saya akan menonton film itu juga. Hanya saja, bukan orang lain yang menjadi pemeran utamanya. Saya sendiri. Ratusan bahkan ribuan film. Berpasang-pasangan. Film pertama tentang suatu perbuatan baik yang sebenarnya bisa saya lakukan, tapi tidak saya lakukan. Dan film pasangannya tentang seandainya saya melakukan perbuatan baik itu, apa dampaknya bagi orang lain.
Mungkin nanti Anda juga akan menonton film Anda sendiri. Mungkin film itu diputar di hari penghakiman, kiamat, atau apapun namanya. Mungkin Sang Hakim berkata. "Ya, kamu masuk surga." Ketuk palu. Anda berjalan memasuki suatu pintu gerbang agung. Ke tempat yang indah. Selamanya. Bahagia. Puas. Tapi tunggu dulu. Sebelum berangkat Anda harus menonton film-film Anda. Apa yang Anda rasakan ketika Anda selesai menonton pasangan film-film Anda? Akankan kebahagiaan itu sempurna? Mungkin kebahagiaan itu akan sempurna kalau Anda juga membawa surga ke dalam kehidupan orang-orang lain. Orang-orang di sekitar Anda. Bahkan mereka yang tidak Anda kenal. Mungkin mereka akan bahagia. Mungkin Anda akan lebih bahagia. Mungkin. Saya kan hanya berandai-andai. Enjoy your coffee.J