Memiutangi Tuhan
Saya yakin bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang tidak pernah berutang. Mungkin ada mereka yang tidak berutang secara materi. Uang. Tapi bagaimana halnya dengan hal-hal yang tidak bisa diukur dengan uang? Perhatian yang hangat. Nasehat yang tepat. Atau sekedar senyuman ramah seorang stranger di pagi hari yang mencerahkan Anda.
Saya bukan seorang yang suka dengan perhitungan utang. Saya percaya bahwa ketulusan itu ada. Bahwa ada orang-orang yang memberi sesuatu tanpa mengharap balasan. Mereka tidak sedang memiutangi saya. Tapi tunggu dulu. Kecuali jika saya dan Anda pergi ke Electronic City. Anda hendak membeli iPod Video seharga beberapa ratus USD, tapi ternyata limit kartu kredit Anda tidak mengijinkan adanya transaksi. Lalu Anda minta tolong supaya saya meminjamkan kartu kredit saya. Dalam hal ini utang tetap utang, bung! J
Hati kecil manusia mempunyai suatu mekanisme alamiah. Ia ingin membalas suatu tindakan dengan tindakan yang setimpal. Kebaikan dibalas kebaikan. Sebaliknya, kejahatan dibalas kejahatan. Ego manusia..
Pencipta kita tidaklah demikian. Dia memberikan segala kebaikan-Nya kepada manusia, alam, jagad raya dan seisinya. Tidak peduli apakah manusia akan membalas itu dengan suatu perbuatan yang akan menyenangkan-Nya atau tidak. Ketika Dia menanamkan sesuatu yang kita kenal sebagai “freewill” ke dalam tubuh manusia, Dia sadar bahwa manusia kemudian bisa bertindak macam-macam. Bisa menyenangkan, menyebalkan, membuat-Nya tersenyum, atau menangis. Apa alasannya Dia berani mengambil risiko itu, saya sendiri belum mengerti.
Tapi yang pasti, karena adanya keinginan-bebas dalam diri manusia, maka manusia dapat secara independen menentukan pilihannya. Dan pilihan yang paling sering diambil manusia adalah menyenangkan dirinya sendiri. Perbanyak harta. Puaskan nafsu. Raih tahta yang lebih tinggi. Ketika itulah manusia menjadi manusia yang serakah. Apapun yang dia miliki tidak akan pernah cukup untuk membuatnya merasa bahagia. Semakin manusia berusaha memuaskan diri, semakin jauh dia dari kebahagiaan.
Ternyata ada suatu mekanisme lain yang tidak alamiah, yang malah berdampak sebaliknya. Ketika manusia tidak berusaha menyenangkan dirinya sendiri, melainkan menyenangkan Penciptanya, maka justru kebahagiaanlah yang manusia dapatkan. Aneh. Tapi nyata. Ketika manusia memiutangi Tuhan dengan melakukan sesuatu yang menyenangkan-Nya, Dia tidak tinggal diam. Dia membalas dengan melakukan sesuatu yang menyenangkan manusia. Bahkan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang manusia itu berikan. Memang frase “memiutangi Tuhan” tidaklah tepat, karena memang tidak akan pernah suatu ciptaan memiutangi Pencipta. Tapi coba bayangkan saja walaupun sulit. Dia yang memiliki alam semesta tergerak oleh perbuatan manusia yang menyenangkan-Nya, dan Dia ingin membalasnya. Siapa yang bisa menandingi ketika Sumber Kebaikan itu sendiri ketika Dia memberikan kebaikan-Nya? Itulah kunci kebahagiaan. Membuat Tuhan berutang. Tidak percaya? Silakan Anda coba sendiri. Berhenti memuaskan diri sendiri. Mulai berusaha menyenangkan Tuhan. Lihat hasilnya. Lalu katakan saya salah.