Manusia-manusia Egois di Sekeliling Anda
Anda pasti pernah mendengar seseorang berkata, “Jadi orang jangan egois dong!” Atau “Dia kok egois sekali ya? Maunya dirinya sendiri aja yang senang.” Sekarang ini, kata egois sudah terlanjur berkonotasi buruk. Tidak ada yang mau berteman dengan ‘orang egois’. Kenapa? Karena capek! Maunya keinginan dia aja yang diturutin. Maunya enaknya aja. Gak peduli perasaan orang lain. Gak mikirin orang lain. Pokoknya semua demi kepentingan dia. Ngapain? Kalo dia udah dapet apa yang dia pingin, nantinya juga dia lupa sama gue. Ya kira-kira begitulah respons masyarakat terhadap mereka yang dicap egois. Terlepas dari semua, sebenarnya kalau kita mau menyelami lebih dalam lagi diri ‘orang egois’ mungkin kita akan bereaksi lain. Sering kali apa yang kita lihat hanyalah puncak dari gunung es bawah laut.
Tina (bukan nama sebenarnya) adalah seorang gadis cantik. Tapi sayangnya, dia manja. Dia terbiasa mendapatkan apapun, sekali lagi, apapun yang dia inginkan. Orang tuanya memang selalu memberikan apa yang Tina minta. Mereka memang keluarga kaya. Uang bukanlah masalah untuk orang tua Tina. Papa mamanya menyayangi Tina dengan sepenuh hati. Tina disekolahkan ke Amerika. Dibelikan Mercedes SLK keluaran terakhir (tidak usah Anda cek harganya, muaaahhal bo!). Dibelikan rumah di kompleks Beverly Hills. Semua itu dilakukan papa mama Tina karena mereka sangat menyayangi puteri tunggal mereka. Sayangnya Tina malah tumbuh menjadi gadis yang kolokan. Manja. Tidak mau susah. Ingin selalu dilayani. Maunya menang sendiri. Segala keinginannya harus dituruti. Anda pernah mengenal orang yang seperti ini? Saya pernah. Orang yang menyebalkan bukan? Kita sering memasukkan orang-orang begini ke dalam kategori orang egois.
Jika dihadapkan pada skenario seperti ini, orang akan dengan cepat dan mudah memvonis orang tua Tina sebagai pihak yang salah. Mereka gagal mendidik anaknya. Mereka tidak becus memperkenalkan anaknya kepada kehidupan. Mereka menjadikan puterinya seorang gadis manja. Mereka egois! Mereka ingin dianggap orang tua yang penuh perhatian, tapi salah kaprah dalam mempraktekkannya. Benarkah begitu? Mungkin benar. Atau mungkin saja apa yang kita lihat barulah puncak dari gunung es bawah laut tadi. Ayo menyelam lebih dalam lagi.
Om Sofyan (bukan nama sebenarnya), papa Tina, adalah seorang pengusaha kaya. Bisnisnya tersebar mulai dari sektor properti, media massa elektronik, pariwisata, perakitan produk otomotif, sampai retail partai besar (hypermarket). Sebagian bisnisnya beliau rintis dari nol. Sebagian lagi adalah warisan keluarga. Di usia 25 tahun, Sofyan muda sudah dipercaya untuk menjalankan tiga institusi bisnis sekaligus. Ayahnya adalah seorang yang keras. Diktator bertangan besi. Tidak kenal belas kasihan, karena baginya belas kasihan hanya untuk mereka yang lemah. Mereka yang ditakdirkan untuk gagal. Disiplin begitu keras ditanamkan ayah Om Sofyan kepada anak-anaknya. Hukuman fisik bukanlah sesuatu yang aneh di keluarga itu/ Sebagai putera pertama, Sofyan dituntut lebih banyak oleh sang ayah. Dituntut untuk jadi seorang pemimpin besar. Untuk jadi pebisnis kelas dunia. Penerus nama keluarga. Sebagai seorang anak, Sofyan berkeinginan untuk membahagiakan orang tuanya. Tapi tak bisa dipungkiri, didikan keras yang diterapkan ayahnya telah meninggalkan luka yang sangat dalam dalam diri Sofyan muda. Seringkali Sofyan terpaksa melepaskan hal-hal yang menjadi kesenangannya, idealismenya, harapan dan mimpi-mimpinya demi menuruti didikan ayahnya. Sampai suatu saat, Sofyan berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menjadi seseorang yang seperti ayahnya. Dia akan jadi seorang ayah yang sayang kepada anaknya. Ayah yang menuruti keinginan anaknya. Ayah yang penuh kasih.
Saya yakin, pada awalnya sebagian dari Anda merasa kesal terhadap papa Tina. Papa yang egois! Tapi setelah mengetahui latar belakang mengapa papa Tina memberi perlakuan yang istimewa kepada puteri tunggalnya, mungkin kita tidak akan terlalu menyalahkan beliau lagi. Ayah dari Om Sofyanlah orang yang paling egois sekarang. Dia hanya memikirkan apa yang dianggapnya benar. Apa yang dianggapnya akan membuat anaknya sukses. Tapi, apa betul bahwa ayah Om Sofyan egois? Ayo menyelam lebih dalam lagi.
Pak Hans, ayah dari Om Sofyan, kakek Tina, memulai hidupnya sebagai orang yang berbeda dari lingkungan sekitarnya. Berbeda warna kulit. Ayah Pak Hans adalah seorang tentara Belanda yang saat itu sedang bertugas di Batavia. Ibunya adalah seorang wanita Jawa. Seorang perawat yang bekerja di sebuah klinik militer Belanda. Hans bertumbuh dewasa di tengah-tengah konflik. Konflik eksternal dan internal. Di luar, para pejuang Indonesia memerangi Belanda demi suatu kemerdekaan yang kita nikmati sekarang. Di dalam dirinya sendiri, berkecamuk suatu konflik tentang identitas diri. Seorang peranakan. Ditolak di komunitas ayahnya, dan dimusuhi oleh komunitas ibunya. Bukan hidup yang mudah bagi seorang pemuda. Hinaan datang bertubi-tubi dari anak-anak Belanda di sekolahnya. Diolok-olok. Dikucilkan. Bahkan berkali-kali Hans hampir mati. Dilempari batu oleh pemuda-pemuda Betawi. Ditusuk dengan pisau dalam perjalanan menuju rumah. Ditembaki oleh sekelompok tentara Belanda karena dianggap anak haram. Rumah orang tuanya dibakar ketika keluarga itu sedang tertidur lelap. Beruntung Hans selalu bisa lolos dari semuanya itu. Bahkan menjadi seorang pengusaha sukses. Namun begitu, kehidupan yang sangat keras membuatnya menjadi seorang individualis. Seorang yang tidak memerlukan orang lain. Seorang yang bisa menjalani segalanya sendirian. Seorang yang kemudian menerapkan pendidikan yang keras kepada anak-anaknya, termasuk Om Sofyan.
Pertanyaannya sekarang, siapakah yang egois di antara tokoh-tokoh fiktif dalam cerita di atas? Tina? Om Sofyan, ayah Tina? Ataukah Pak Hans, kakek Tina? Tidak mudah menjawabnya setelah Anda lebih mengerti tentang kisah di balik semuanya itu bukan? Bandingkan dengan saat sebelum Anda tahu kisah lengkapnya. Rasanya Tina menyebalkan sekali. Kok bisa-bisanya hari gini ada mahluk egois seperti dia. Tapi mungkin, setelah mengetahui semua kisah ini, tetap saja Tina dirasa menyebalkan. Itu terserah Anda. Saya tidak terlalu peduli tentang apa anggapan Anda terhadap Tina, papanya, kakeknya, maupun orang-orang egois lainnya di sekitar Anda. Saya lebih peduli dengan apa yang akan Anda lakukan bagi mereka. Ada beberapa pilihan. Saya memasukkan pilihan-pilihan itu ke dalam tiga kategori.
Pertama, do nothing. Tidak melakukan apa-apa. Dia jalani hidupnya, Anda jalani hidup Anda. Masing-masing. Dengan begitu, Anda tidak perlu khawatir merasa kesal lagi dengan sifat egois manusia-manusia itu.
Kedua, balas perbuatannya dengan sesuatu yang menyinggung perasaannya. Suatu tindakan yang menyakitinya. Dengan begitu, siapa tahu dia jadi sadar bahwa sifat egoisnya itu tidak menyenangkan bagi orang lain. Dengan begitu pula, mungkin Anda akan merasa puas karena rasa kesal, jengkel, atau dongkol Anda terbalaskan.
Ketiga, Anda memberikan pengaruh positif bagi hidupnya. Katakan Anda memiliki sifat yang lebih baik dari Tina, maka Anda usahakan agar Tina memiliki itu juga. Anda mendidiknya dengan sabar. Anda menanamkan pola pikir yang baru. Anda memberi waktu bagi Tna untuk berubah. Memberi kesempatan. Sampai suatu saat Tina akan berkata, “Aku tidak akan melupakan kamu, karena kamu membuat hidupku berubah. Ke arah yang lebih baik”
Tiga macam pilihan. Silakan Anda pilih, mana yang akan Anda perbuat bagi orang-orang egois di sekitar Anda. Bayangkan diri Anda adalah sebuah kuas. Sang Pencipta adalah Sang Pelukis kehidupan. Walaupun Sang Pelukis adalah seorang maestro, Dia memberi kesempatan kepada Anda sebagai sebuah kuas untuk memilih warna yang Anda inginkan. Warna-warna manakah yang akan Anda coretkan dalam kisah kehidupan seseorang? Warna-warna suramkah, atau yang cerah, ataukah Anda memilih untuk tidak mengoles kanvas sama sekali.