Mata Kuliah Apa yang Sedang Anda Hadapi?
Penunjuk waktu di sudut kanan bawah desktop Wanda menampilkan angka 2:58 PM. Jam-jamnya ngantuk memang. Refreshing sejenak akan sangat membantu, terutama jika Anda tahu bahwa malam ini Anda harus lembur lagi. Diangkatnya gagang telefon.
“Heiiy.. Lagi sibuk ya? Temenin gue yuk.. Lagi perlu refreshing niy.. Di tempat biasa yaa”, undang Wanda.
Ia bergegas menuju pantry untuk menuang secangkir espresso dari coffee machine. Tempat yang dituju adalah lorong tangga darurat di lantai gedung tempat ia mengantor. Sebenarnya lorong itu bukan tempat umum dan akan digunakan hanya pada saat emergency. Kebakaran, ancaman bom, dan semacamnya. Tapi berhubung hal-hal tadi tidak terlalu sering terjadi, maka para pegawai di sana menggunakannya untuk keperluan lain. Alasannya: optimalisasi pemberdayaan fasilitas gedung. Jadilah itu tempat merokok. Orang-orang merokok di sana sambil menyeruput kopi gratis dari pantry. Mereka beri nama tempat itu Stairback. Terjemahan harafiahnya: tangga belakang. Lumayan kan? Kedengarannya cool. "Ngerokok yuk, di tangga belakang" – payah, no cool. "Yuk, ngocop (=merokok) sambil ngopi… di Stairback" – cool.
Diah sudah ada di sana dengan secangkir cappuccino di tangannya. Sama, kopi gratisan dari pantry di wing yang lain. Diah bukanlah perokok. Dan kali ini pun dia tidak akan merokok. Ia ada di Stairback untuk menemani Wanda mengobrol, dan mungkin melepaskan uneg-unegnya. Atau mungkin malahan Diah yang memiliki lebih banyak masalah yang menghimpit kepalanya sehingga dia rela datang ke tempat yang jelas-jelas bukan habitatnya. Kita akan segera tahu.
Wanda dan Diah sudah bersahabat selama dua tahun. Mereka memulai masa kerja di kantor tempat sekarang mereka berada pada waktu yang hampir bersamaan. Hanya selisih waktu dua minggu. Wanda bekerja sebagai account officer. Ia harus mencari nasabah, pemodal, investor baru, apapun namanya, yang tertarik atau dibuat tertarik untuk menambah penghasilannya dengan melakukan jual beli indeks saham. Sejak saat itu Wanda harus mulai membiasakan dirinya dengan istilah-istilah nikkei, nasdaq, hangseng, lot, session, bullish, bearish market, window dressing, dan sebagainya. Gue ngga harus ngerti semuanya. Tapi yang penting gue tau. Supaya gue bisa meyakinkan calon nasabah gue bahwa uang mereka berada di tangan orang yang tepat. Demikian tekadnya.
Diah berprofesi sebagai seorang junior investment manager. Dialah yang menggerakkan uang para pemodal di pasar bursa. Latar belakang ilmu ekonomi dan finansial sangat mendukung kesuksesan karirnya. Diah memadukan analisa statistik dan pengolahan informasi politik, ekonomi, serta pasar dunia di dalam melakukan transaksi-transaksinya. Diah selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi para pemodal. Untuk itu, ia selalu mengusahakan agar investasi yang dikelolanya selalu aman, namun tetap membuahkan keuntungan..
“Hey, missy broker… How’s ur day? Got any luck?”, Wanda menyapa diiringi senyum hangat.
“Well… I don’t believe in luck, to begin with. Lo kaya’ gag kenal gue aja… Yaah… Hari ini not so bad lah.. Nikkei dan Hangseng sama-sama melonjak… Sebelum penutupan sesi pertama, gue udah lumayan berpesta pora”, sambut Diah. Tak kalah hangatnya dengan sapaan Wanda.
Diah adalah seorang sarjana ekonomi lulusan NUS. Saat itu orang tuanya yang adalah pagawai pemerintah sedang bertugas di Singapura. Ketika mereka tahu akan adanya rencana penugasan ke luar negeri, mereka menyarankan Diah untuk mencoba mendaftar ke universitas di sana. Ia menyelesaikan studinya dalam waktu tiga tahun, termasuk thesisnya. Mendapatkan beasiswa penuh untuk seluruh masa studinya. Terhitung luar biasa cepat untuk ukuran manusia yang memiliki tingkat IQ rata-rata seperti Wanda. Setelah lulus kuliah, Diah langsung ditawari pekerjaan sebagai technical analyst di sebuah perusahaan sekuritas asing ternama di Jakarta. Tawaran itu diterimanya. Enam bulan pertama dijalaninya dengan penuh kebosanan. Kebiasaannya untuk berpikir secara leluasa serasa diberangus. Apa yang dihadapinya saat itu hanyalah seonggok data statistik dan sebuah software matematik. Data yang menggambarkan pergerakan indeks saham tersibuk di dunia. Job description-nya: membuat analisa matematik grafik-grafik indeks tadi. Bagaimana trend Hangseng, Nikkei, Nasdaq dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Apakah cenderung naik atau turun. Pekerjaan yang tidak mudah dan cukup menantang, bukan? Berpotensi untuk menghasilkan uang banyak lebih cepat dari biasanya. Tapi itu sama sekali tidak menantang bagi Diah.
Yang menjadi fokus seorang technical analyst adalah analisis matematik murni. Ia dilarang sama sekali untuk memasukkan faktor-faktor seperti kenaikan harga minyak, turunnya suku bunga bank federal, adanya ancaman gempa di kepulauan bagian timur Jepang, dan informasi-informasi lainnya yang jelas-jelas menurut Diah sangat mempengaruhi pergerakan pasar. Ia diharuskan fokus hanya ke metode-metode matematik seperti moving average atau exponential moving average dalam melakukan analisa teknisnya. Sama sekali tidak masuk di akal bagi Diah. Memandang suatu grafik. Ada garis-garis di sana. Menggunakan rumus matematika yang menurutnya sama sekali tidak sesuai dengan model yang sedang dianalisisnya. Memprediksi ke mana arah ujung grafik itu akan bergerak. Naik atau turun. Semuanya sama sekali tidak masuk di akal bagi Diah. Ya, karena pada dasarnya ia termasuk di dalam kalangan fundamental analyst.
Para fundemental analyst tidak mau ambil pusing dengan metode-metode matematik dalam memprediksi pergerakan pasar saham. Penguasaan informasi secara cepat dan akurat, itulah yang menjadi dasar kekuatan analisa mereka. Regulasi pemerintah yang akan segera dijadikan ketetapan baru, penemuan cadangan minyak baru, atau generasi terbaru pesawat Airbus yang akan segera dipasarkan, serta informasi-informasi segar dan positif semacam inilah yang menggerakkan mereka dalam melakukan analisis pasar bursa.
Itulah Diah. Ia lebih menggunakan sense ketimbang intuisi dalam menganisis sesuatu.
Wanda adalah kebalikan seratus delapan puluh derajat dari Diah. Bagi Wanda, kehidupan Diah terlalu membosankan. Diah terlalu takut mengambil risiko. Bahkan terlalu enggan untuk sekedar mencoba hal-hal baru. Jalannya terlalu lurus. Kehidupannya monoton. Itu pandangan Wanda tentang Diah. Di sisi lain, Diah pun mempunyai pandangan sendiri tentang sahabatnya itu. Di matanya, Wanda adalah seorang yang terlalu ceria. Sering terlihat bodoh dengan cara bercandanya yang tidak jelas ujung pangkalnya. Terlalu mudah percaya pada laki-laki tapi kadang juga bisa sangat kejam pada kaum adam. Belum lagi ketidakjelasan dasar pemikiran Wanda dalam memutuskan sesuatu. Bagi Diah, seringkali Wanda mengambil keputusan-keputusan bodoh, yang sama sekali tidak mungkin dilakukan olehnya. Tapi satu hal lain yang masih tetap mengherankan baginya adalah persahabatan mereka yang tetap bertahan. Sekalipun terdiri dari dua pribadi yang cenderung berlawanan, persahabatan mereka terhitung solid.
Stairback sedang sepi sore itu. Hanya mereka berdua yang ada di sana. Baguslah. Bisa jadi lebih leluasa untuk saling curhat.
“Pulang jam berapa nanti?”, tanya Wanda.
“Jam 6-an kali. Emang kenapa? Mau ngajak jalan ya? Kayaknya ada yang lagi perlu ‘pencerahan’ nih. Jalan-jalan di eX. Beli sandwich O’Brien’s. Nunggu sampe jamnya live music di Hardrock Cafe?”, Diah balas bertanya.
“Haha.. Pengennya siiyy… Malem ini gue mesti ketemu tiga calon nasabah investor.. Janjian ketemuan di Kelapa Gading. Mungkin jam 9-an baru selesai semuanya. Gak akan sempetlah. Terlalu capek”, jawab Wanda.
“Yaah… sayang sekali… Padahal gua punya voucher discount nih.. Besok-besok deh.. So… Apakah gerangan yang membuat Nona Wanda gelisah dan muram? Ada yang mau elu ceritain ya?”, Diah langsung menembak.
“Ah, gelisah? Muram? Masa sih? Emang segitu keliatannya yah? Uh, kasian yah gua…”, Wanda mencoba menghindari obrolan yang terlalu melibatkan perasaan.
“Ya mungkin buat orang yang gak peduli sama elo, keliatannya elu baik-baik aja. Tapi gua tau kok, ada sesuatu yang elo pendam. Apa siiy? Apa yang bisa gua bantu buat elo?”, Diah memang tahu cara memberikan perhatian buat sahabatnya.
“Hmmhh…. Gak tau deh… Rasanya gua bolak balik jatuh bangun di sekitar masalah ini… Gua baru putus lagi, tau ngga sih loe… Gua ngga ngerti, maunya cowok itu apa sih? Rasanya gua selalu kasih apa yang dia minta. Tapi…. tetep aja ya kok selalu aja ada kekurangan gua di mata dia..”, mulai mengalirlah beban Wanda.
“Duuhh…”, Diah mendekat dan memeluk sahabatnya itu. “Udah.. Lupain aja, Wan… Semua cowok memang brengsek! Gua nggak ngerti kenapa juga perlu ada itu mahluk di dunia ini. Kenapa Tuhan ngga taroh aja mereka di Mars sana. Atau Jupiter. Atau Pluto biar jauh sekalian.”
“Sshh… Ngga segitunya kali, Di.. Kadang mereka memang menyebalkan. Tapi sebenernya there’s nothing really wrong about their existance.”, tukas Wanda sambil sedikit terisak. Wanda membuang abu rokoknya. Satu batang hampir habis.
“Kok bisa sih elo bilang gitu? Bukannya mereka itu yang selalu bikin elo sakit?”, Diah mengungkapkan keheranannya.
“Kadang-kadang sakit, Wan… Tapi nggak selalu… Ini pacaran gua yang kelima kali… Memang lima kali gua ngerasa sakit ketika tau bahwa hubungan yang terjalin harus berakhir… Tapi pengalaman-pengalaman yang dulu malah membuat gua jadi lebih dewasa. Lebih bisa ngeliat dengan cara pandang yang lebih luas. Bisa ngerti orang lain. Bisa lebih tenang waktu ngadepin masalah. Gak tau deh… Mungkin itu jalan-jalan yang mesti gua lewatin sebelum gua dapetin kebahagiaan”, beber Wanda. Satu batang rokok lagi dia nyalakan.
“Wow… “, Diah tak bisa menutupi rasa herannya, “Salut deh gue sama elo… Elo bener-bener yang tegar gitu… Tapi, iya ya… Kok elu berani ya… Mengambil risiko untuk disakitin… Gua sampe saat ini masih takut banget loh… Gua takut kalo satu saat gua disakitin, gua gak bisa bangun lagi.”
Hening sejenak. “Ya gimana yaa? Mungkin memang dari awalnya kita berdua memang beda kali ya? Elo dan gua maksudnya… Gua tuh orangnya yang gak suka mikir panjang-panjang gitu… Gua maunya jalanin aja.. Terus liat hasilnya gimana… Soalnya kalo terlalu banyak yang dipikirin, guanya juga yang stress sendiri… Jadi yah jalanin aja… Kalo elo kan, yang segala sesuatunya harus dipikirin gitu kan…. Mesti dianalisis.. Mesti ditimbang masak-masak… Minimalkan risiko kegagalan di sana sini… Ngga salah sih… Cuman kayanya itu ngga bisa deh kalo mesti gua yang lakuin…. Terlalu rumit”, Wanda memaparkan.
“Emm… Tapi kan hal-hal yang penting, termasuk relationship memang mesti kita pilih dan putuskan dengan penuh pertimbangan, Wan? Gua misalnya… Gua bukannya sok pilih-pilih lho… Tapi gua ngga bisa ijinin sembarang cowok deket sama gua… Gua khawatir… Sebelum gua bener-bener yakin bahwa dialah orangnya…. Gua takut kalau cowok itu terlanjur suka sama gua, tapi ternyata guanya biasa-biasa aja ke dia, gua bakal nyakitin dianya nanti… Ngerti kan? Gua paling ngga bisa nyakitin orang lain, Wan…”, Diah mengeluarkan isi hatinya.
Diah memang belum pernah berpacaran. Ia punya teman laki-laki yang cukup dekat dengannya. Tapi belum ada yang secara ‘resmi’ menjadi pacarnya.
“Sama sih, Di… Gua juga gak mau nyakitin orang lain…. Tapi gua pernah coba pikirin… Kadang alasan utama kita gak mau nyakitin itu bukannya ‘gak mau menyakiti’ itu sendiri… Tapi lebih sering karena kita sendiri yang gak mau disakitin… Makanya kita hindari mati-matian yang namanya menyakiti orang lain… Dengan harapan, kita nggak akan disakiti…. Tapi kenyataannya Di… Belum tentu… Bisa aja saat kita betul-betul berniat ngebahagiain, kita malah disakitin…. Ngga ada jaminan Di, bahwa selama kita berniat membahagiakan, maka kita juga akan dibahagiakan…”, jawab Wanda. Rokok yang di tangannya sudah hampir habis lagi. Ia sudah bersiap untuk menyalakan sebatang lagi. Tapi ternyata lighternya tidak bisa menyala.
Diah tersenyum simpul. Ia memang tidak suka sahabatnya itu merokok. Berkali-kali ia menasehati Wanda. Tapi Wanda masih tetap menjalankan kebiasaannya itu. “Hmmff…. Iya juga ya…. Mungkin itu juga alasannya kenapa gua susah nerima cowo… Mungkin karena gua terlalu takut untuk sakit… Tapii…. Kalo gitu berarti Tuhan ngga adil dong ya? Kalo kita udah berusaha baik, tapi kita dapat ‘musibah’ juga? Adil ngga sih?”, Diah melontarkan pertanyaan besarnya.
“Waduh… Gimana yaa? Gak tau deh soal adil ngga adil… Gua sendiri percaya bahwa Dia itu punya rencana yang paling baik buat gua… Masalahnya apa yang direncanain Tuhan itu ngga selalu sama seperti yang gua rencanain… Apa yang Dia mau ngga selamanya sama dengan apa yang gua mau… Jadi yah… Seringnya sih gua ngerasa sakit karena gua harus nurut sama yang Dia mau… At least itu yang gua rasa yaa…. Tapi karena memang gua yakin Dia udah siapin yang terbaik, ya gua sih jalanin aja… Walaupun kadang ngerasa sakit”, respons Wanda.
“Yah.. Gua sih masih ngerasa kesel aja kalo kita udah lakuin yang baik, tapi balasannya gak setimpal gitu”, Diah menyatakan kekesalannya.
“Di… Kalo gua sih percayanya… Hidup ini adalah serangkaian mata kuliah… Ada banyak pelajaran yang mesti kita lewatin dan lulus dalam tiap ujiannya… Mata kuliah kesabaran, kegigihan, kerelaan, memaafkan, berkorban, dan masih banyak lagi… Itu yang akan membuat kita semakin jadi manusia yang menuju kesempurnaan…. Kriteria kelulusannya kadang gampang, kadang susah…. Tapi itu semua harus dilewatin…. Kalau kita ngga lulus-lulus di satu mata kuliah, jangan berharap bisa lulus di mata kuliah yang lebih sulit tingkatannya… Untuk kasus gua nih… Lima kali pacaran, putus… Lima kali ujian, masih belum lulus…. Berarti gua harus belajar lagi… Itu aja… Gak rumit toh?”, Wanda menjelaskan. Senyuman tipis terlukis di wajahnya.
Diah menghela nafas. Diam sejenak, membiarkan apa yang baru saja dilontarkan sahabatnya itu meresap ke dalam hatinya. Mungkin benar apa yang Wanda bilang. Mungkin Wanda bukanlah orang yang sebodoh itu, seperti yang selama ini dia kira. Mungkin sifat Wanda yang terbuka inilah yang membuat persahabatan mereka tetap kental. Ujarnya, “Wah wah…. kalo gitu, berarti jalan gua masih jauuuuh yaa? Mata kuliahnya aja belum gua ambil… Apalagi ujiannya… uh uhh.”
“Lho lho….. siapa bilang? Jangan jadiin gua sebagai acuan dong…. Kan tiap-tiap orang itu unik… Jalan buat elu gak akan sama persis dengan jalan yang gua lewatin…. Mungkin mata kuliah yang lagi elo jalanin sekarang juga bukan mata kuliah yang lagi gua pelajarin”, jawab Wanda cepat.
“Hehe… iyah… Lebih baik sekarang gua fokus ke mata kuliah yang lagi gua hadapin… Gua sendiri terus terang belum tau, pelajaran apa sebenernya yang lagi ‘dibelajarkan’ ke gua ini…. Gua harus cari tau…. Dan gua harus lulus ujiannya”, Diah menemukan semangatnya.
Kedua profesional muda itu melirik jam tangan, saling berpandangan, sama-sama terperangah, lalu tertawa. Lumayan banyak juga waktu yang sudah mereka habiskan untuk saling curhat. Tapi itu tidak sia-sia karena ada pelajaran yang mereka peroleh sore itu. Yang seorang belajar untuk mau menjalani pelajaran-pelajaran dan menghadapi ujian-ujian yang diberikan Sang Guru Besar. Yang satunya lagi belajar untuk memberikan semangat dan penghiburan kepada orang lain yang sedang memerlukan, walaupun sebenarnya saat itu dialah yang memerlukan seorang pemberi semangat dan penghibur. Lalu, mata kuliah apakah yang sedang Anda jalani saat ini? Marilah kita belajar lebih giat lagi dan bersiap terus untuk menghadapi ujian-ujiannya. Jangan putus asa. Kemenangan sudah menanti di depan sana.