Faith, Hope, and Love
Ketika terakhir kali saya bilang cinta pada seseorang, saya mendapatkan satu pertanyaan yang sederhana, namun cukup perlu memeras otak untuk menjawabnya.
Gimana kamu tau kamu cinta sama saya? Kita kan baru kenal… Kalo kamu bilang suka saya, saya percaya. Tapi cinta? Tunggu dulu… Menurut kamu, apa sih bedanya suka dan cinta?
Wow.. Suatu pernyataan yang logis dari seorang wanita (Oops, sorry girls^^). Dua bulan lebih sedikit memang bukan waktu yang cukup panjang untuk membuktikan cinta, ya?
Untuk menjawab pertanyaan tadi, saya mengambil analogi di bidang lain. Tidak ada hubungannya dengan interaksi antar manusia. Tapi tentu bukan ini yang jawaban yang saya berikan waktu itu. Tentu yang romantis dan membuai perasaan gitulah.. You knowlah…^^
Saya suka main gitar. Kenapa? Karena ketika saya membunyikan alat musik itu dan mendengar suara yang dihasilkannya, saya merasakan sensasi emosional yang intense. Baik itu suasana melankolik atau suasana gembira. Keberhasilan saya menghasilkan komposisi nada atau harmoni pada gitar adalah proses imaginasi mental di dalam pikiran saya, yang kemudian disalurkan melaluii saraf motorik tangan dan jari jemari. Lalu telinga menangkap lagu yang dihasilkan dan disalurkan balik ke otak sebagai pengolah informasi. Di dalam otak, lagu yang terdengar tadi dibandingkan dengan pola imaginasi awal. Lalu muncul penilaian, apakah lagu tersebut sesuai dengan ekspektasi awal, kurang, atau malah melebihi ekspektasi tersebut.
Ketika ekspektasi terpenuhi atau bahkan lebih dari sekedar terpenuhi, maka saya merasa puas. Itu yang menjadi dasar rasa suka saya.
Karena adanya kesamaan sensasi antara suka dan cinta, sering orang bingung dan mencampuradukkan keduanya.
Lalu apa definisi cinta menurut saya? Cinta tidak mendasarkan respons hanya pada rasa suka. Bisa jadi rasa suka adalah awal dari cinta. Tapi cinta tidak akan berhenti ketika rasa suka itu berhenti. Ketika ada saatnya harus menderita, di situlah akan teruji, apakah benar cinta itu ada. Cinta berkaitan erat dengan komitmen. Komitmen untuk melakukan "sesuatu yang akan saya lakukan di saat saya merasa suka" pada saat situasinya tidak membuat saya suka. Apa yang mendasari komitmen ini? Sesuatu yang saya sebut faith. Tanpa memiliki dasar keyakinan, sebuah komitmen tidak akan bisa bertahan lama.
Rasa suka memuat unsur harapan. Demikian juga cinta. Ada harapan di balik apa yang seseorang lakukan.
Untuk saat ini saya kesampingkan dulu masalah benar, salah, baik, atau jahat karena itu akan menambah kompleks permasalahan. Tapi.. Itulah cinta. Cinta adalah manifestasi dari faith and hope. Dan hanya waktulah yang bisa membuktikan itu.
Saya tidak suka latihan fingering dalam gitar. Saya kurang suka belajar chord-chord yang baru, terlebih yang posisi fingering nya sulit. Saya berpikir cukup keras sebelum merogoh kocek untuk membeli perlengkapan musik yang mahal. Tapi, toh semuanya saya lakukan juga. Kenapa? Karena saya cinta gitar.
Faith, Hope, and Love. Ketiganya adalah penggerak kehidupan manusia yang sangat powerful. Ketiganya harus ada. Tanpa faith, seseorang mungkin tidak akan pernah mulai melangkah. Tanpa hope, orang mungkin merasa kelelahan di tengah perjalanan. Tanpa cinta, harapan dan keyakinan tidak ada gunanya karena sekedar berada di dalam angan-angan.