…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for October 1st, 2006


Syukur

Sebuah kata yang sering kita dengar. Ketika menulis ini, saya tidak sempat membuka kamus untuk mencari arti baku kata ”syukur”. Karena itu, setelah melamun beberapa menit, saya mencoba mendefinisikan artinya berdasarkan apa yang saya mengerti selama ini.

Syukur erat kaitannya dengan terima kasih. Biasanya terima kasih diucapkan atau disampaikan seseorang ketika menerima sesuatu yang dia mengerti sebagai suatu kebaikan. Misalnya Anda suka sekali kue pisang. Tetangga sebelah rumah Anda tahu tentang hobi Anda menikmati kue pisang dengan secangkir teh panas. Maka di suatu hari minggu pagi, dia mengetuk pintu rumah Anda, mengantarkan satu keranjang penuh kue kesukaan Anda. Saya percaya, kata pertama yang terlontar dari mulut Anda adalah terima kasih. (Kecuali jika sore sebelumnya tetangga Anda tadi menabrak mobil Anda yang diparkir di depan rumah, mungkin Anda masih kesal dan tidak mau membukakan pintu). Itulah terima kasih. Menerima kebaikan. Serupa dengan terima kasih, syukur adalah terima kasih yang secara bawah sadar ditujukan kepada Tuhan.

Selama ini konsep berterima kasih yang secara tidak disadari telah tertanam dalam pikiran kita hanyalah berlaku terhadap hal-hal yang baik. Rasanya tidak lazim, bahkan cenderung gila, saat terjadi suatu petaka seseorang malah berterima kasih. Oh, terima kasih kamu menumpahkan kopi di baju saya. Terima kasih Bu telah memecat saya. Sekarang saya pengangguran dengan tanggungan sebanyak empat kepala dengan tujuh macam tunggakan yang masih jauh dari lunas. Atau yang lebih ekstrim. Hey.. Terima kasih sudah menjalankan mobil kencang-kencang. Anak saya yang kamu tabrak tadi sekarang sudah mati. Dalam hal-hal tadi ucapan terima kasih memang tidak tepat disampaikan. Mungkin ini lebih sesuai dengan skenarionya: Bajingan tengik bangsat!! Siapa yang ngajari elu nyetir? Setan?! Tanpa berniat menunjukkan yang mana yang benar atau yang salah, saya rasa pembaca mengerti maksud saya. Terima kasih lazimnya ditujukan bagi hal-hal yang baik.

Celakanya, secara tidak disadari juga, sering kita menyamakan kebaikan dengan kesenangan. Kalau tindakan seseorang menyenangkan hati, maka dia orang baik. Jika tidak menyenangkan, maka itu tidak baik. Ibu Guru Bahasa Inggris yang galak, yang membuat suasana kelas dingin mencekam selama dua jam penuh. Mungkin api neraka juga tidak cukup kuat untuk menghangatkan suasana kelas jika dia sedang berdiri di depan papan tulis. Dia menuntut perhatian dan konsentrasi murid-murid. Jika seorang murid lupa mengerjakan tugas rumahnya, dia harus berdiri selama jam pelajaran dengan satu kaki berjinjit dan kaki lain tergantung di udara. Jahat. Tidak baik. Di lain pihak, Bapak Guru Biologi orangnya lucu. Dia sering menceritakan hal-hal yang akan membuat murid-murid tertawa terguncang-guncang selama jam pelajaran. Orang baik. Sekali lagi tanpa berniat membahas yang mana yang benar atau yang mana yang salah, saya rasa pembaca mengerti maksud saya. Baik atau tidak baik sering dinilai dari menyenangkan atau tidak menyenangkannya suatu hal bagi orang yang mengalaminya.

Pertanyaannya: apakah benar bahwa hal-hal yang baik itu hanyalah yang menyenangkan? Ketika bayi belajar berjalan, berkali-kali dia terjatuh. Tentu saja sakit. Tapi apakah ada orang tua yang lantas mencegah bayinya dari kesakitan dengan cara tidak mengajarinya berjalan? Membiarkannya terus berbaring di tempat tidur atau di lantai, atau hanya sekedar duduk dan merangkak. Lalu dengan mengizinkan bayinya mengalami kesakitan, apakah lantas orang tuanya menjadi jahat? Sama sekali tidak. Malahan sebaliknya, sudah sewajarnya bayi tadi berterima kasih kepada orang tuanya yang telah mengajari berjalan, walaupun ternyata prosesnya tidak menyenangkan.

Fenomena yang sama sering terjadi dalam kehidupan manusia dewasa. Sang Pencipta kita telah merancang skenario kehidupan yang paling elegan, cerdas, memuaskan, membanggakan, dan membahagiakan setiap kita. Hanya saja, proses menuju ke sana kadang tidak menyenangkan bagi yang menjalaninya. Yang menjadi masalah di sini sebenarnya hanyalah ketidakmampuan manusia yang menjalani proses yang tidak menyenangkan itu untuk melihat apa yang akan diraihnya setelah semuanya itu dilalui. Kalau saja kita tahu, bahwa apa yang ada di ujung sana bukan hanya setara dengan penderitaan sesaat, melainkan lebih berharga dari itu, tentu dari awal kita sudah berterima kasih. Bersyukur. Memang tidak mudah untuk bersyukur untuk sesuatu yang belum kelihatan. Tapi, ketika hal itu dilakukan dari awal, maka perjalanan yang tidak menyenangkan terasa menjadi lebih ringan.  Bahkan bisa mempersingkat waktunya. Memperkaya daya pikir. Memperluas cakrawala pandangan kita. Memperkuat hati kita menanggung penderitaan. Dan mempersiapkan kita untuk mampu menikmati apa yang kemudian layak kita nikmati.

Ketidaktahuan akan rancangan Pencipta kita janganlah menghalangi kita untuk bersyukur, karena rancangan-Nya adalah baik bagi kita. Karena itu, bersyukurlah dalam segala hal.