…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for November, 2006


Pacar Mutusin

Dear dr. Bram. Saya seorang pemuda 28 tahun, baru saja jadian dengan seorang pemudi N (24 tahun). Dua minggu kemudian pacar saya meminta putus dengan alasan yang tidak jelas. Padahal saya merasa baru saja menemukan tambatan hati yang sempurna. Dia melengkapi hidup saya. Saya betul-betul shock kehilangan dia. Apa yang harus saya lakukan, dok?

B di Medan

Dear B. Sebagai seorang pemuda yang masih muda, sudah sepantasnyalah Anda tidak mudah putus harapan. Saya bisa mengerti perasaan Anda mengenai keputusan yang diambil oleh pacar Anda. Memang bukan keputusan yang menyenangkan bagi Anda. Di lain pihak, saya juga sedikit banyak mendukung keputusan yang diambil oleh pacar Anda. Sangat logis, setelah Anda mengirim foto asli diri Anda (setelah berkenalan di dunia chatting selama 3 bulan), maka pacar Anda kembali menemukan akal sehatnya. Coba Anda pikirkan, di dunia mana akan ada wanita cantik seperti pacar Anda yang mau dengan Anda? Saya bukannya mau mengecilkan harapan Anda, tapi Anda ini benar-benar harus melakukan sesuatu dengan wajah Anda. Dan model rambut, dan perut Anda yang bukan buncit lagi, tapi benar-benar buncit…!! Untuk itu saya rekomendasikan Anda untuk berkonsultasi dengan dr. Rani, ahli bedah plastik . Siapa tahu beliau masih punya setitik harapan untuk Anda.  Demikian tanggapan dari saya. Semoga Anda tidak putus harapan dan dapat terus bertahan. -Bram-

Dear dr. Bram yang tampan, lagi atletis. Pertama-tama, terima kasih dokter mau memuat surat saya. Saya ini sedang bingung dok. Pacar saya yang betul-betul saya cintai kok sekarang mulai dingin ya sama saya. Saya selalu mengingatkan dia supaya dia tetap menjaga kobaran api cintanya kepada saya. Tapi usaha saya selalu sia-sia. Dia tampaknya ingin berpaling ke perempuan lain. Yang membuat saya tidak habis pikir, dok, perempuan itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan saya. Kenapa ini bisa terjadi ya dok? Tolong saya dok. Saya tidak mau kehilangan pacar saya.

M di Bandung

Nona M yang budiman. Pertama-tama, terima kasih telah memuji ketampanan dan keatletisan tubuh saya. Sebenarnya hal itu tidak perlu dibesar-besarkan, karena toh orang-orang sudah tahu bahwa saya ini tampan. Juga atletis. Ya iiiya lah… Wong saya ini ngga pernah absen jogging tiap pagi. Belum lagi fitness, seminggu tiga kali. Dan jangan lupa, semuanya itu harus didukung dengan pola makan yang sehat  dan berimbang. Anyway, mengenai masalah Anda, saya turut bersimpati. Memang di hari-hari sekarang ini susah sekali mendapatkan perhatian yang konstan dari laki-laki. Sementara uang Anda yang Anda pergunakan untuk membeli kosmetik dan perlengkapan kecantikan sudah tak terhitung lagi banyaknya. Tapi, ya begitulah yang namanya investasi. Anda harus menanamkan sejumlah modal, lalu setelah itu mulai melakukan perhitungan apakah Anda akan balik modal. Dalam kasus yang Anda ini, saya tidak percaya bahwa Anda akan balik modal. Masalahnya sepele. Anda cuma berfokus untuk memperhatikan diri Anda. Anda beli kosmetik, baju yang modis, parfum mahal, sebenarnya supaya Anda diperhatikan. Kenapa tidak memulai usaha untuk memperhatikan pacar Anda. Buat dia senang. Jangan menuntut diri Anda sendiri saja yang disenangkan. Anda jangan egois dong jadi orang. Saya benci orang egois. Buat dia bahagia, walaupun Anda seolah dirugikan secara materi. Sebagai tambahan, saya sarankan juga Anda secara periodik memangkas bulu hidung Anda. Bikin mata sepet, tauk! Lu mau pake lipstik paling mutakhir juga gak ada efeknya. Eh, maaf. Saya kok jadi terbawa emosi begini yah. Saya kan dokter. Jadi malu  Maaf ya. Selamat mencoba saran saya. Saya yakin pacar Anda akan selalu nempel dengan Anda. Jangan bosan berkonsultasi dengan saya. -Bram-

Running and Stress Management

You probably agree when I’m saying running is one of the oldest sport exist in this world. Well, if you don’t believe it, you may confirm that with Adam and Eve when you die later. Or, in case you were such an ass hole, you may see Caligula, Dracula, or the Devil himself in hell later on. So, you could confirm that with them about running was being the oldest sport in the world, if you would be still in the good mood of course.

Running as a sport activity could give you many benefits. For example:

·        your heart become stronger and more reliable in supporting your activities

·        your lung could absorb more oxygen, increasing efficiency of your body metabolism

·        obviously, leg muscles will become stronger

·        and many more

Therefore, in case you have not included running as your regular sport acitivity, I would suggest you to start thinking about it.

In relation with stress management, running could also become your favorit solution when you deal with any problem. It is suitable for almost every situation. One thing you might want to keep in mind is that you may have to focus on the solution when you deal with any serious problem. But, no matter how serious the problem is, you must understand that you must be more serious in getting the solution. Running is one of the solution. So, be serious when you run! Run as fast as you can. Run as soon as you see problem. Run as far away as you can go. Do not hesitate, or you may end up being an unseccesful man.

Yes, running is the first thing you should do when you got a serious problem. But how if the company get collapsed? Or if your boss were fired because of it? Don’t care. It’s not your company. It’s somebody else’s damned company! It’s your fucking boss being fired. Not you! So, relax…!

From now on, seriously consider running as your favorit sport and constructive behavior, buddy. But, don’t follow this instruction if you don’t believe it. Just KISS…keep it simple, stupid!

Kesimpulan

Dalam logika, suatu kesimpulan atau konklusi adalah suatu proposisi yang diambil dari beberapa premis dengan aturan-aturan inferensi. (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kamus_Besar_Bahasa_Indonesia)

Berapa kali secara sadar atau tidak sadar Anda mengambil kesimpulan dalam hidup ini? Sebut saja beberapa hal sederhana dalam kehidupan keseharian Anda. Misalnya seorang rekan di kantor Anda merasa sakit perut setelah menyantap mi rebus di kantin belakang, Anda menarik kesimpulan bahwa penjual mi rebus tadi tidak menjaga kebersihan makanan yang dijualnya. Contoh lain, Anda melihat langit mendung dan angin mulai bertiup kencang. Anda menyimpulkan hujan akan segera turun, mungkin disertai kilat dan guntur. Itu baru contoh hal-hal yang sederhana. Contoh yang lebih keren mungkin kesimpulan dari penelitian Anda sewaktu duduk di bangku kuliah. Atau kesimpulan mengenai perilaku pasar di bursa saham dunia.

Kadang proses pengambilan kesimpulan ini berlangsung sangat cepat, sampai terasa seakan proses itu tidak ada. Ini karena didukung oleh paradigma yang diterima secara luas oleh masyarakat, atau oleh pengalaman pribadi di masa lalu, atau karena sesuai dengan idealisme yang dianut. Di lain waktu, pengambilan kesimpulan bisa jadi sangat sulit dan menyita waktu. Kurang tersedianya informasi, atau pengalaman masa lalu, tabrakan dengan nilai-nilai pribadi yang dianut, keterlibatan emosi dan perasaan, sering kali menjadi penyebabnya.

Bagaimana cara mengambil kesimpulan yang baik? Ketika duduk di bangku kuliah, dosen pembimbing tugas akhir saya mengajarkan demikian: “kesimpulan dari makalah ini harus menjawab tujuan penelitian dan terbatas hanya pada apa yang menjadi ruang lingkup permasalahan dalam penelitian” Artinya, pada awalnya harus ada tujuan. Lalu, harus ada batasan ruang lingkup permasalahan. Setelah itu kemudian dicari informasi yang diperlukan untuk mendukung kesimpulan. Jika informasi tidak cukup tersedia, dapat digunakan asumsi. Saya pikir, aturan ini berlaku juga untuk mengambil kesimpulan selain untuk keperluan penelitian ilmiah. Harap diingat bahwa kesimpulan yang Anda tarik hanya valid di dalam ruang lingkup permasalahan, dan bertolak dari asumsi dan informasi yang Anda percayai kebenarannya saat itu. Semakin banyak informasi yang terbukti benar dan semakin sedikit asumsi yang dipergunakan akan menghasilkan kesimpulan dengan kualitas yang lebih baik. Saya menemukan link berikut seandainya Anda tertarik lebih jauh mengenai pengambilan kesimpulan dalam makalah ilmiah. (http://www.unc.edu/depts/wcweb/handouts/conclusions.html)

Satu hal yang berbahaya adalah menerapkan kesimpulan yang Anda dapatkan ke ruang lingkup permasalahan yang lain dari pada ruang lingkup aslinya. Ini yang kemudian bisa menjurus ke arah pembentukan prejudice. Juga selalu sisakan sedikit ketidakyakinan akan informasi dan asumsi yang Anda gunakan, karena dengan demikian Anda akan terpacu untuk memperbaiki kualitas dari kesimpulan yang Anda tarik.

Berikut adalah cuplikan dari www.dictionary.com tentang beberapa definisi yang berkaitan dengan kesimpulan..

Conclusion: (Logic). a proposition concluded or inferred from the premises of an argument.

Proposition: (Logic). a statement in which something is affirmed or denied, so that it can therefore be significantly characterized as either true or false.

n 1: (logic) a statement that affirms or denies something and is either true or false 2: a proposal offered for acceptance or rejection; "it was a suggestion we couldn’t refuse" [syn: suggestion, proffer] 3: an offer for a private bargain (especially a request for sexual favors) 4: the act of making a proposal; "they listened to her proposal" [syn: proposal] 5: a task to be dealt with; "securing adequate funding is a time-consuming proposition" v : suggest sex to; "She was propositioned by a stranger at the party"

To infer: to derive by reasoning; conclude or judge from premises or evidence: They inferred his displeasure from his cool tone of voice.

To deduce: to derive as a conclusion from something known or assumed; infer: From the evidence the detective deduced that the gardener had done it.

Premis: Also, premiss. (Logic). a proposition supporting or helping to support a conclusion.