…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for November, 2006


Bohong itu Indah

Liburan panjang baru saja berakhir. Banyak yang harus di-follow up di hari pertama masuk kerja ini. Tumpukan invoice dan dokumen yang mesti didistribusikan ke seantero section terlihat acak-acakan di meja Tita. Belum lagi ratusan email dari costumer yang menuntut reply a.s.a.p. membuat layar komputernya seakan terlihat seperti puncak Everest yang mustahil didaki. Hari yang melelahkan. Itu sebabnya Tita menyambut dengan semangat ajakan Rismal untuk minum kopi selepas jam kerja. Mereka baru saja berkenalan. Ngga ada salahnya, pikir Tita.

Senja itu kedai kopi tempat mereka janjian bisa dibilang sepi. Mungkin orang-orang lain bernasib lebih beruntung dari Tita. Mungkin pekerjaan mereka masih tidak sebanyak tumpukan di mejanya. Good for them. Dari sudut sana terdengar suara Norah Jones pada speaker Bose, beserta grand piano Steinway & Sons-nya dibarengi dengan iringan fretless bass dan hollow body guitar yang menegaskan suasana melankolik.

Rismal sudah menunggu di meja yang di samping jendela dan melambaikan tangannya. Cerdas, ramah, dan rendah hati, itu yang membuat para wanita nyaman berada di dekatnya. Saling menyapa, bertukar senyum, dan menanyakan keadaan masing-masing seusai liburan. Tak lama mereka sudah terlibat obrolan yang kelihatannya sama-sama mereka nikmati.

What am I to you… Lagu ketiga dari Norah Jones sejak Tita duduk di sofanya.

“Enak-enak ya lagunya? Bikin relax”, cetus Tita setelah menghirup kopinya.

“Iya. Aku suka Norah Jones. Lagu-lagunya simpel, ringan, cocok buat nyantai”, jawab Rismal. “Suka Diana Krall ngga?”

“Emmh.. Lumayan. Tapi agak berat yah? Tergantung mood deh. Kalau lagi pengen dengerin, suka juga”

“Dua-duanya cantik. Dua-duanya jago main piano. Norah Jones memang lebih cenderung ke folk songs. Diana Krall lebih ke mainstream. Yah, kalau kamu ngga suka jazz mainstream bakalan kesulitan nikmatin lagu-lagunya Diana Krall”

“Rismal ngerti banyak soal musik yah? Asik banget sih. Tita dari dulu pengen juga ngerti musik, tapi susah. Nggak bakat kali ya?” Senyuman manis terlontar dari bibir tipis Tita yang nyaris sempurna. Lelaki mana pun tidak perlu berpikir dua kali untuk mengagumi feature wajah cantiknya.

“Tau banyak sih engga. Cuma pas aku suka dua-duanya. Mereka punya kesamaan, tapi juga punya perbedaan yang signifikan”

“Ini menarik. Apa cowo memang selalu membanding-bandingkan ya? Apa itu juga yang mereka lakukan untuk memilih pasangan hidup?” Pertanyaannya akan terdengar mengintimidasi jika saja tidak dikemas dalam intonasi yang ringan dan tidak menuduh seperti yang baru saja dilakukan Tita.

Rismal tersenyum. Pembicaraan sedang memasuki kawasan rawan bencana. Dia harus berhati-hati menjawabnya.

“Menurut kamu sendiri gimana?”

“Iya. Cowo itu selalu membanding-bandingkan dan ngga pernah puas. Pasti ada aja kekurangan yang dia temuin. Aneh”

Rismal pun tersenyum lagi. “Nah itu, kamu udah tau jawabannya.”, lanjutnya lagi, “Apa mau dikata. Itu kan sifat manusia. Ngga pernah merasa puas. Cewe juga pasti samalah. Cuma, karena cowo lebih pakai logika untuk ambil keputusan, banding membandingkan ini keliatannya lebih nyata di kalangan laki-laki”

“Tapi cewe nggak gitu. Sekali dia memilih seseorang untuk tinggal di dalam hatinya, dia nggak membanding-bandingkan sama yang lain”

“Iya. Aku percaya kamu ngga banding-bandingin kok. Syukurlah kamu nggak meniru kelakuan cowo-cowo brengsek itu”

“Tapi Rismal kan cowo? Kok bukannya belain cowo sih?”

“Iya aku memang cowo. Tapi aku ngga perlu membela hal-hal yang ngga perlu dibela seperti itu. Makanya kamu harus hati-hati milih cowo ya. Jangan sampai dapetin cowo yang brengsek”

“Emm.. Rismal sendiri suka banding-bandingin ngga?” tanya Tita dengan ekspresi polosnya.

“Ha ha ha… Kamu ini gimana sih… Kalau aku bilang nggak suka banding-banding juga kamu ngga akan percaya. Toh kamu tadi yang bilang cowo itu sukanya membanding-bandingkan, walaupun sebenernya aku ngga pernah banding membandingkan” Bohong

“Iya.. Kali aja Rismal lain dari yang lain. Boleh dong tanya”

“Tita. Satu saat kamu akan ngerti bahwa cowo dan cewe itu bagai kutub utara dan selatan magnet. Saling bertolak belakang, tapi juga saling tarik menarik. Seringkali jalan pikiran cowo ngga bisa diterima dengan logika cewe, demikian juga sebaliknya. Seolah berlawanan, tapi sebenernya pada hakikatnya mereka saling melengkapi”

“Jadi semua cowo itu sama aja ya? Susah deh!”

“Susah ya? Sekarang aku yang tanya. Menurut kamu cowo yang gimana yang cocok jadi pendamping kamu?”

“Kalau buat Tita sih yang penting dia sayang sama Tita, setia, ngga suka bohong, dan Tita ngga bisa hidup tanpa dia, udah”

Kurang puas dengan jawaban tadi. “Cakep, pinter, atletis, kaya, karir, ada rumah dan mobil?” tanya Rismal lagi.

“Semuanya itu ngga penting buat Tita.”, jawab Tita dengan mantap.

Bohong ah, ujar Rismal dalam hati. “Wah.. Kalau gitu aku harus cepetan daftar di antrian penggemar kamu ya. Prasyaratnya ngga neko-neko. Ada jalur khusus ngga?”

Tita tertawa lepas. “Engga lah. Kayak artis aja gitu loh, pake antrian penggemar. Tita ngga punya penggemar”

Bohong lagi, pasti cewe secantik kamu selalu dikejar-kejar kaum adam, dalam hati Rismal.

Percakapan mereka terus berlanjut. Satu jam, dua jam, tiga jam. Mereka sama-sama tertawa, atau tepatnya Rismal membuat Tita tertawa. Tita mulai suka pada laki laki yang ada di hadapannya. Demikian juga sebaliknya Rismal semakin terpukau oleh kecantikan, kepribadian, dan keterbukaan Tita. Selanjutnya mereka jadian? Ngga tau lah. Itu ngga terlalu penting.

Cowo berbohong. Cewe juga berbohong.

Cowo sadar ketika dibohongi cewe. Cewe juga sadar ketika dibohongi cowo.

Cuma…

…satu tantangan yang berat bagi seorang wanita bukanlah untuk mengetahui bahwa sebagian perkataan laki-laki yang disukainya adalah bohong, melainkan untuk menerima kenyataan bahwa kebohongan itu benar-benar bohong. Karena kadang yang bohong itu lebih indah.