…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for December, 2006


Kenapa Cowok Gak Mau Belajar?

TK Budi Mulia Pagi

Richard: Jenny, hari ini bekel makannya apa?

Jenny: Telor asin *cuek*

Richard: Asin engga rasanya?

Jenny: Nggak tau *memunggungi*

Richard: Nasinya kok sedikit sih?

Jenny: ……………….. *senyap*

Richard: Sini dikupasin telor asinnya *ambil telor asin punya Jenny*

Jenny: WHUAAA….. Bu Guru….!! Richard pengen pacaran sama Jenny, tapi Jenny gag mauuu!!

SD Kartika 1

Toto: Tina, pinjem PR matematiknya dong

Tina: Ih, enaknya. Kerjain sendiri dong

Toto: Kamu kok pelit sih. Pinjem dong. Aku suka tulisan kamu. Bagus dan lucu-lucu

Tina: Gak mau. Itu kan namanya nyontek

Toto: Tapi beneran, tulisan kamu itu bagus, imut lagi. Boleh ya pinjem, sebentar aja

Tina: Engga ah

Toto: Boleh engga pinjem pinsil kamu?

Tina: Toto kan punya sendiri?

Toto: Ih.. Kamu pelit! Aku kan suka pinsil kamu. Ya, udah. Nanti sore aku ke rumah kamu ya? Kita main PS bareng

Tina: KanToto punya PS di rumah? Kenapa main PS yang punya Tina?

Toto: Ih kamu gitu banget sih. Kan asik kalo ada lawan maen. Jadi bisa musuh-musuhan. Boleh ya?

Tina: Tina mau belajar buat ulangan besok

Toto: Ih, sebel sebel sebel..! SEBEEELLL!!!

Tina: Bu guruuuu….. Toto suka sama Tina, maksa-maksa Tina terus niih…

Departemen R&D Molecular Dynamic di SIEMENS Electronics

John: Kamu tahu engga, setiap kali aku lihat kamu, aku langsung teringat formasi kristal BCC yang anggun dan eksotik

Sarah: Ih, apa sih?

John: Beneran, Sarah. Dagu kamu itu bagaikan kurva potensial Lennard-Jones yang begitu cantik

Sarah: Kamu nggak usah mengada-ngada deh

John: Sinar mata kamu bagaikan energi eksitasi elektron penghasil laser. Begitu memukau…

Sarah: Kamu mabuk, John?

John: Dan gerak tubuh kamu ketika melangkah.

Sarah: Stop John! Kamu melanggar kode etik. Saya bisa laporkan ke ethics committee, dan kamu akan tanggung akibatnya.

Kenapa sih cowok gak mau belajar? J

Dunia Penuh Ego

Di dalam diri setiap manusia tertanam suatu tiang pancang yang disebut ego. Menurut www.dictionary.com, definisi ego adalah the “I” or self of any person; a person as thinking, feeling, and willing, and distinguishing itself from the selves of others and from objects of its thought.

Ego ini diperlukan untuk dapat bertahan, bertumbuh, dan berkuasa sebagai seorang manusia. Tanpa ego, seorang manusia hanya akan terombang-ambing tanpa eksistensi di jagad raya ini.

Di pihak lain, ego manusia jugalah yang membatasi dirinya mendapatkan segala sesuatu yang mungkin mestinya bisa dia dapatkan. Kenapa? Di dalam kehidupan sehari-hari, selalu terjadi pergesekan ego antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Entah akibat pergesekan itu bisa diterima oleh semua pihak, hanya salah satu, atau bahkan tidak oleh pihak mana pun. Padahal kunci untuk mendapatkan sesuatu dari orang lain adalah dengan cara memuaskan ego orang yang bersangkutan.

Masalahnya, memuaskan ego orang lain ini belum tentu berarti memuaskan ego diri sendiri. Ketika terjadi tarik-tarikan ego inilah seseorang harus memutuskan untuk memilih memuaskan ego siapa.

Bagi segolongan orang, memuaskan ego orang lain akan menjadi tantangan yang luar biasa berat. Orang-orang tipe dominan, atau kolerik kemungkinan besar akan menemukan tantangan yang berat ini. Orang kolerik pada dasarnya sudah terprogram untuk menjadi pemuas ego pribadi. Consumption rate untuk bahan bakar ego mereka besar sekali dibandingkan golongan yang lain. Tunggu dulu. Saya tidak menyatakan golongan ini berperilaku buruk. Mereka adalah calon pemenang sejati. Hanya saja sering kali mereka gagal mencapai hasil yang optimal karena mereka tidak tertarik untuk memuaskan ego orang lain. Sialnya, jika kelakuan seperti itu tetap dipelihara, pada suatu waktu dia akan kena batunya sendiri. Dia berpotensi berubah status dari pemenang sejati menjadi public enemy!

Di sisi lain, ada golongan orang plegmatik, yang dari sananya sudah terprogram untuk memuaskan ego orang lain. Kok bisa? Tanya saja sama Sang Penciptanya. Saya rasa ini adalah mekanisme alam untuk mewujudkan keseimbangan. Orang-orang plegmatik ini secara alami akan memuaskan ego orang-orang lain sembari memuaskan egonya sendiri. Wah, kalau begitu, golongan orang-orang ini berpotensi lebih besar mendapatkan apa yang mereka inginkan dong? Kan tadi katanya cara mendapatkan sesuatu dari orang lain itu dengan memuaskan ego orang yang bersangkutan. Hmm.. Sialnya, ngga begitu juga. Orang-orang plegmatik yang menyenangkan ini sayangnya sering kali tidak mempunyai angan-angan yang tinggi karena ego mereka cenderung rendah. Sudah barang tentu, tanpa cita-cita tinggi, mustahil seseorang bisa bertumbuh mencapai potensi kesuksesannya.

Di dalam diri tiap manusia ada tertanam sisi kolerik maupun plegmatik. Hanya kadarnya saja yang berbeda untuk tiap-tiap individu. Jika Anda sampai saat ini merasa masih terlalu banyak hal yang belum Anda dapatkan di dalam hidup Anda, mungkin ada baiknya Anda bertanya kepada diri Anda sendiri bahwa selama ini ego siapa yang lebih sering Anda puaskan. Diri sendiri atau orang lain? Sekarang yang diperlukan adalah kemauan untuk menyeimbangkan kedua sisi tadi. Selamat menikmati dunia yang penuh ego.

The Angel of Guitar

Masih segar ingatan saya akan pagelaran gitar klasik yang diberi tajuk The Guitar Maestro Concert Series 2: The Angel of Guitar, di Erasmus Huis 28 November lalu. Sebagai seorang engineer, sudah barang tentu saya tidak terlalu mudah menerima informasi tanpa bukti. Angel gitu loch?! Buktikan dulu, kok sembrono memuji orang. Tapi setelah membaca selebarannya lebih jauh, di mana ada sebentuk foto perempuan yang menggenggam neck gitar sambil tertunduk tanpa dosa. Tak ayal integritas jiwa dan raga saya pun serasa dihantam oleh spool pipa berdiameter 26”. Sebentuk manusia dengan rambut panjang dan feature wajah memukau itu sudah cukup meyakinkan saya untuk menonton pagelaran tadi.

Anavidovic_17

Saya jadi teringat masa-masa kuliah dulu. Ada seorang sobat yang pernah mencetuskan postulat demikian “Yeuh Vid, kalau beli kaset teh yang penyanyinya cantik. Kalau penyanyinya cantik, SUDAH PASTI lagunya enak!”. Dulu saya kurang percaya dengan tahayul yang tidak jelas juntrungannya begitu. Tapi kok sekarang saya tersadarkan bahwa rasa-rasanya pernyataan tadi itu benar adanya. Maka pada pagelaran kemarin, selain ingin menikmati suguhan seninya, saya juga ingin membuktikan perkataan sobat tadi. Hanya saja dalam kasus ini dia bukanlah penyanyi, melainkan seorang pemain gitar. Gitar klasik.

Saya memang suka sekali gitar. Saat ini saya punya tiga gitar, yaitu dua gitar klasik dan satu folk gitar. Walaupun begitu, sebenarnya saya kurang suka musik klasik. Menurut persepsi saya, musik klasik itu harmoninya mudah ditebak. Kaku, harus mengikuti setiap titik koma yang tercantum di music score atau partitur. Gak ada kesempatan buat improvisasi atau berkreasi sendiri. Lain dengan musik pop atau jazz. Anyway, segala keluhan dan keberatan tadi kali ini tertutupi oleh keelokan rupa sang musisinya. Jadi saya lupakan semua aspek negatif tadi dan mulai menerapkan positive thinking à Kapan lagi nonton cewek cantik molek aduhai jago gitar coy?!

So… Here I come! Dengan menumpangi kendaraan umum tercepat di Jakarta (ojek – red), saya tiba di EH jam 1 kurang sepuluh. Langsung bergegas ke meja penerima tamu di lantai dua, tepat di depan auditorium. Bagaimana bisa kurang beruntung, pas saat itu Ana tiba di lokasi. O iya, namanya Ana Vidovic, asli Croatia. Menurut legenda yang sangat bisa dipercaya, konon katanya manusia-manusia yang berasal dari benua Europa Timur sejak dari sononya memang sudah dikaruniai kesempurnaan feature wajah. Tadinya saya ingin membantah, tapi apa daya, fakta yang tersodor di depan hidung saya menegaskan kenyataan yang sesungguhnya. Legenda tadi tidak salah!

Singkat cerita, dari jam satu sampai jam empat adalah workshop “masterclass”. Karena tidak ada ancaman bahwa peserta harus membuktikan dirinya layak disebut master ketika menghadiri master class ini, saya pun berani untuk hadir di sana. Dalam sesi kelas ini, ada empat gitaris nasional yang tampil di depan berdampingan dengan Ana.

Para gitaris ini sudah memilih dan berlatih dengan lagunya masing-masing. Lalu mereka diberi kesempatan untuk menunjukkan kebolehannya di depan Ana. Satu jam untuk tiap peserta. Dan Ana pun memberi saran dan masukan untuk improvement permainan para gitaris nasional ini.

Berikut adalah saran-saran dari Ana yang saya catat karena saya yakin akan berguna. Bukan hanya di dunia gitar, musik, atau seni saja, melainkan di kehidupan sehari-hari secara lebih luas. Yang pertama adalah melatih kualitas suara gitar yang dihasilkan. Tidak terlalu tipis, tidak terlalu keras/kencang, harus bulat. Melodi dan bass line harus jelas terbentuk. Saya rasa ini adalah hal yang paling mendasar yang harus dimiliki seorang gitaris. Dia harus mengetahui potensi yang bisa dihasilkan oleh gitarnya sendiri, kemudian dia juga harus mampu mengeluarkan potensi tadi.

Kedua, mengenai kecepatan. Untuk bisa bermain dengan kecepatan tinggi, gitaris harus berlatih untuk bermain dengan baik pada tempo yang lebih lambat. Hanya itu kuncinya. Misalnya dalam teknik petikan tremolo, setiap petikan harus balanced baik pada kecepatan maupun pada keras/lembut tone yang dihasilkan. Ini mesti dilatih dengan tempo lambat. Maka ketika tremolo yang sesungguhnya akan ditampilkan, suara yang dihasilkan akan berkualitas baik. Kuncinya sih cuma satu: banyak banyak latihan!

Ketiga, setelah menguasai teknik dasar, pada penyajian sebuah lagu, gitaris diharapkan bisa mengaktualkan diri melalui gitarnya. Sang gitaris mempunyai karakter. Lagu yang dimainkan pun memiliki karakter. Sebagai perpaduan keduanya, suara yang dikeluarkan melalui gitar harus memancarkan karakter tadi. Kata Ana, jangan ragu ketika memulai suatu lagu. Mulailah dengan yakin! Demikian juga ketika akan mengakhiri lagu tadi. Harus yakin juga. Pernyataan ini cukup menggebrak saya. Mungkin sama halnya dengan memulai sebuah relationship. Harus yakin! Demikian juga pas mau mengakhirinya, harus yakin! Ha ha.

Masterclass

Di akhir sesi masterclass ini, saya menanyakan sebuah pertanyaan sederhana kepada Ana. Why do you love classical music? Respons pertamanya adalah tertawa, mungkin karena dia tidak menyangka akan munculnya pertanyaan non teknis seperti tadi. Namun selanjutnya Ana berusaha menjawab dengan menjelaskan bahwa memang dari kecil dia sudah suka musik klasik, dan dia memang belajarnya itu terus dari dulu. Musik ini bikin dia tenang. Tapi buat saya, jawaban-jawaban itu malah seakan menunjukkan bahwa Ana sebenarnya tidak tahu alasan yang sesungguhnya kenapa dia cinta musik klasik. Mungkin.. Ini hanya mungkin… Mungkin memang cinta itu tidak memerlukan alasan, Lha wong sudah cinta, jadi lupa alasannya. Mungkinn…

Setelah menunggu jeda cukup lama, tibalah waktu pagelaran yang dinantikan. Pukul 19.30 konser pun dimulai. Ketika usai perkenalan dari pembawa acara, Ana muncul di podium dengan anggun dan cantiknya. Kontan punggung saya yang lelah berdiri lama ketika mengantri untuk masuk auditorium serasa disegarkan seketika. Dia belum memetik gitarnya loh! Ketika konsernya dimulai, semua penonton benar-benar terpukau oleh penampilan sang Angel of Guitar ini. Luar biasa! Teknik yang benar-benar matang dan memang punya nilai jual tinggi. Tidak aneh, karena Ana sudah memulai pelajaran gitarnya sejak usia sekolah dasar. Dan setelah beranjak dewasa, Ana mempelajari musik di Amerika. Performance-nya di depan umum telah melebihi hitungan 1000 kali. Belum lagi gelar juara dunia yang disandangnya. Perpaduan sempurna antara kecantikan fisik dan kecerdasan musikal. Ini mengingatkan saya akan Sang Pencipta yang benar-benar Mahahebat.

20061128ana1

Singkat cerita, sekitar ada  lima atau enam lagu dilantunkan oleh Ana. Jujur (bukan Jujur lagunya Radja), terus terang satu pun dari antara lagu-lagu itu tidak ada yang saya kenal. Tapi yang pasti, Ana menampilkannya dengan luar biasa baik. Benar-benar memukau.

Konser pun ditutup dengan applause dari para penonton. Saya pulang dengan penuh damai di hati. Sudah dapat ilmunya, melihat sendiri kebolehannya, sempat foto bareng pula. Semoga di lain waktu kita bisa bertemu lagi, Ana. Mungkin saat itu, saya akan ajak kamu menikmati dinner di tempat yang paling romantis untuk pasangan muda seperti kita. Boleh doong…

20061128ana2

For more detail please visit www.anavidovic.com