…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for December 10th, 2006


Dunia Penuh Ego

Di dalam diri setiap manusia tertanam suatu tiang pancang yang disebut ego. Menurut www.dictionary.com, definisi ego adalah the ā€œIā€ or self of any person; a person as thinking, feeling, and willing, and distinguishing itself from the selves of others and from objects of its thought.

Ego ini diperlukan untuk dapat bertahan, bertumbuh, dan berkuasa sebagai seorang manusia. Tanpa ego, seorang manusia hanya akan terombang-ambing tanpa eksistensi di jagad raya ini.

Di pihak lain, ego manusia jugalah yang membatasi dirinya mendapatkan segala sesuatu yang mungkin mestinya bisa dia dapatkan. Kenapa? Di dalam kehidupan sehari-hari, selalu terjadi pergesekan ego antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Entah akibat pergesekan itu bisa diterima oleh semua pihak, hanya salah satu, atau bahkan tidak oleh pihak mana pun. Padahal kunci untuk mendapatkan sesuatu dari orang lain adalah dengan cara memuaskan ego orang yang bersangkutan.

Masalahnya, memuaskan ego orang lain ini belum tentu berarti memuaskan ego diri sendiri. Ketika terjadi tarik-tarikan ego inilah seseorang harus memutuskan untuk memilih memuaskan ego siapa.

Bagi segolongan orang, memuaskan ego orang lain akan menjadi tantangan yang luar biasa berat. Orang-orang tipe dominan, atau kolerik kemungkinan besar akan menemukan tantangan yang berat ini. Orang kolerik pada dasarnya sudah terprogram untuk menjadi pemuas ego pribadi. Consumption rate untuk bahan bakar ego mereka besar sekali dibandingkan golongan yang lain. Tunggu dulu. Saya tidak menyatakan golongan ini berperilaku buruk. Mereka adalah calon pemenang sejati. Hanya saja sering kali mereka gagal mencapai hasil yang optimal karena mereka tidak tertarik untuk memuaskan ego orang lain. Sialnya, jika kelakuan seperti itu tetap dipelihara, pada suatu waktu dia akan kena batunya sendiri. Dia berpotensi berubah status dari pemenang sejati menjadi public enemy!

Di sisi lain, ada golongan orang plegmatik, yang dari sananya sudah terprogram untuk memuaskan ego orang lain. Kok bisa? Tanya saja sama Sang Penciptanya. Saya rasa ini adalah mekanisme alam untuk mewujudkan keseimbangan. Orang-orang plegmatik ini secara alami akan memuaskan ego orang-orang lain sembari memuaskan egonya sendiri. Wah, kalau begitu, golongan orang-orang ini berpotensi lebih besar mendapatkan apa yang mereka inginkan dong? Kan tadi katanya cara mendapatkan sesuatu dari orang lain itu dengan memuaskan ego orang yang bersangkutan. Hmm.. Sialnya, ngga begitu juga. Orang-orang plegmatik yang menyenangkan ini sayangnya sering kali tidak mempunyai angan-angan yang tinggi karena ego mereka cenderung rendah. Sudah barang tentu, tanpa cita-cita tinggi, mustahil seseorang bisa bertumbuh mencapai potensi kesuksesannya.

Di dalam diri tiap manusia ada tertanam sisi kolerik maupun plegmatik. Hanya kadarnya saja yang berbeda untuk tiap-tiap individu. Jika Anda sampai saat ini merasa masih terlalu banyak hal yang belum Anda dapatkan di dalam hidup Anda, mungkin ada baiknya Anda bertanya kepada diri Anda sendiri bahwa selama ini ego siapa yang lebih sering Anda puaskan. Diri sendiri atau orang lain? Sekarang yang diperlukan adalah kemauan untuk menyeimbangkan kedua sisi tadi. Selamat menikmati dunia yang penuh ego.