The Angel of Guitar
Masih segar ingatan saya akan pagelaran gitar klasik yang diberi tajuk The Guitar Maestro Concert Series 2: The Angel of Guitar, di Erasmus Huis 28 November lalu. Sebagai seorang engineer, sudah barang tentu saya tidak terlalu mudah menerima informasi tanpa bukti. Angel gitu loch?! Buktikan dulu, kok sembrono memuji orang. Tapi setelah membaca selebarannya lebih jauh, di mana ada sebentuk foto perempuan yang menggenggam neck gitar sambil tertunduk tanpa dosa. Tak ayal integritas jiwa dan raga saya pun serasa dihantam oleh spool pipa berdiameter 26”. Sebentuk manusia dengan rambut panjang dan feature wajah memukau itu sudah cukup meyakinkan saya untuk menonton pagelaran tadi.
Saya jadi teringat masa-masa kuliah dulu. Ada seorang sobat yang pernah mencetuskan postulat demikian “Yeuh Vid, kalau beli kaset teh yang penyanyinya cantik. Kalau penyanyinya cantik, SUDAH PASTI lagunya enak!”. Dulu saya kurang percaya dengan tahayul yang tidak jelas juntrungannya begitu. Tapi kok sekarang saya tersadarkan bahwa rasa-rasanya pernyataan tadi itu benar adanya. Maka pada pagelaran kemarin, selain ingin menikmati suguhan seninya, saya juga ingin membuktikan perkataan sobat tadi. Hanya saja dalam kasus ini dia bukanlah penyanyi, melainkan seorang pemain gitar. Gitar klasik.
Saya memang suka sekali gitar. Saat ini saya punya tiga gitar, yaitu dua gitar klasik dan satu folk gitar. Walaupun begitu, sebenarnya saya kurang suka musik klasik. Menurut persepsi saya, musik klasik itu harmoninya mudah ditebak. Kaku, harus mengikuti setiap titik koma yang tercantum di music score atau partitur. Gak ada kesempatan buat improvisasi atau berkreasi sendiri. Lain dengan musik pop atau jazz. Anyway, segala keluhan dan keberatan tadi kali ini tertutupi oleh keelokan rupa sang musisinya. Jadi saya lupakan semua aspek negatif tadi dan mulai menerapkan positive thinking à Kapan lagi nonton cewek cantik molek aduhai jago gitar coy?!
So… Here I come! Dengan menumpangi kendaraan umum tercepat di Jakarta (ojek – red), saya tiba di EH jam 1 kurang sepuluh. Langsung bergegas ke meja penerima tamu di lantai dua, tepat di depan auditorium. Bagaimana bisa kurang beruntung, pas saat itu Ana tiba di lokasi. O iya, namanya Ana Vidovic, asli Croatia. Menurut legenda yang sangat bisa dipercaya, konon katanya manusia-manusia yang berasal dari benua Europa Timur sejak dari sononya memang sudah dikaruniai kesempurnaan feature wajah. Tadinya saya ingin membantah, tapi apa daya, fakta yang tersodor di depan hidung saya menegaskan kenyataan yang sesungguhnya. Legenda tadi tidak salah!
Singkat cerita, dari jam satu sampai jam empat adalah workshop “masterclass”. Karena tidak ada ancaman bahwa peserta harus membuktikan dirinya layak disebut master ketika menghadiri master class ini, saya pun berani untuk hadir di sana. Dalam sesi kelas ini, ada empat gitaris nasional yang tampil di depan berdampingan dengan Ana.
Para gitaris ini sudah memilih dan berlatih dengan lagunya masing-masing. Lalu mereka diberi kesempatan untuk menunjukkan kebolehannya di depan Ana. Satu jam untuk tiap peserta. Dan Ana pun memberi saran dan masukan untuk improvement permainan para gitaris nasional ini.
Berikut adalah saran-saran dari Ana yang saya catat karena saya yakin akan berguna. Bukan hanya di dunia gitar, musik, atau seni saja, melainkan di kehidupan sehari-hari secara lebih luas. Yang pertama adalah melatih kualitas suara gitar yang dihasilkan. Tidak terlalu tipis, tidak terlalu keras/kencang, harus bulat. Melodi dan bass line harus jelas terbentuk. Saya rasa ini adalah hal yang paling mendasar yang harus dimiliki seorang gitaris. Dia harus mengetahui potensi yang bisa dihasilkan oleh gitarnya sendiri, kemudian dia juga harus mampu mengeluarkan potensi tadi.
Kedua, mengenai kecepatan. Untuk bisa bermain dengan kecepatan tinggi, gitaris harus berlatih untuk bermain dengan baik pada tempo yang lebih lambat. Hanya itu kuncinya. Misalnya dalam teknik petikan tremolo, setiap petikan harus balanced baik pada kecepatan maupun pada keras/lembut tone yang dihasilkan. Ini mesti dilatih dengan tempo lambat. Maka ketika tremolo yang sesungguhnya akan ditampilkan, suara yang dihasilkan akan berkualitas baik. Kuncinya sih cuma satu: banyak banyak latihan!
Ketiga, setelah menguasai teknik dasar, pada penyajian sebuah lagu, gitaris diharapkan bisa mengaktualkan diri melalui gitarnya. Sang gitaris mempunyai karakter. Lagu yang dimainkan pun memiliki karakter. Sebagai perpaduan keduanya, suara yang dikeluarkan melalui gitar harus memancarkan karakter tadi. Kata Ana, jangan ragu ketika memulai suatu lagu. Mulailah dengan yakin! Demikian juga ketika akan mengakhiri lagu tadi. Harus yakin juga. Pernyataan ini cukup menggebrak saya. Mungkin sama halnya dengan memulai sebuah relationship. Harus yakin! Demikian juga pas mau mengakhirinya, harus yakin! Ha ha.
Di akhir sesi masterclass ini, saya menanyakan sebuah pertanyaan sederhana kepada Ana. Why do you love classical music? Respons pertamanya adalah tertawa, mungkin karena dia tidak menyangka akan munculnya pertanyaan non teknis seperti tadi. Namun selanjutnya Ana berusaha menjawab dengan menjelaskan bahwa memang dari kecil dia sudah suka musik klasik, dan dia memang belajarnya itu terus dari dulu. Musik ini bikin dia tenang. Tapi buat saya, jawaban-jawaban itu malah seakan menunjukkan bahwa Ana sebenarnya tidak tahu alasan yang sesungguhnya kenapa dia cinta musik klasik. Mungkin.. Ini hanya mungkin… Mungkin memang cinta itu tidak memerlukan alasan, Lha wong sudah cinta, jadi lupa alasannya. Mungkinn…
Setelah menunggu jeda cukup lama, tibalah waktu pagelaran yang dinantikan. Pukul 19.30 konser pun dimulai. Ketika usai perkenalan dari pembawa acara, Ana muncul di podium dengan anggun dan cantiknya. Kontan punggung saya yang lelah berdiri lama ketika mengantri untuk masuk auditorium serasa disegarkan seketika. Dia belum memetik gitarnya loh! Ketika konsernya dimulai, semua penonton benar-benar terpukau oleh penampilan sang Angel of Guitar ini. Luar biasa! Teknik yang benar-benar matang dan memang punya nilai jual tinggi. Tidak aneh, karena Ana sudah memulai pelajaran gitarnya sejak usia sekolah dasar. Dan setelah beranjak dewasa, Ana mempelajari musik di Amerika. Performance-nya di depan umum telah melebihi hitungan 1000 kali. Belum lagi gelar juara dunia yang disandangnya. Perpaduan sempurna antara kecantikan fisik dan kecerdasan musikal. Ini mengingatkan saya akan Sang Pencipta yang benar-benar Mahahebat.
Singkat cerita, sekitar ada lima atau enam lagu dilantunkan oleh Ana. Jujur (bukan Jujur lagunya Radja), terus terang satu pun dari antara lagu-lagu itu tidak ada yang saya kenal. Tapi yang pasti, Ana menampilkannya dengan luar biasa baik. Benar-benar memukau.
Konser pun ditutup dengan applause dari para penonton. Saya pulang dengan penuh damai di hati. Sudah dapat ilmunya, melihat sendiri kebolehannya, sempat foto bareng pula. Semoga di lain waktu kita bisa bertemu lagi, Ana. Mungkin saat itu, saya akan ajak kamu menikmati dinner di tempat yang paling romantis untuk pasangan muda seperti kita. Boleh doong…
For more detail please visit www.anavidovic.com




December 10th, 2006 at 3:40 pm
ok bro .. ga minta email nya biar bisa dikontak
January 5th, 2007 at 12:17 am
gua engga kuat pacaran long distance euy.. jadi percumalah minta alamat emailnya.. huehehe
March 5th, 2007 at 5:38 am
Mararoncrot, eta teori urang dipake kabeh! Tapi saya juga turut senang, bahwa teori teori saya tersebut pada akhirnya dapat anda terima walaupun melalui jalan panjang… makanya, belilah kaset setelah melihat bungkus depannya, jangan belakangnya…
Dah gitu masih sempet wae eta poto bareng! cuman kok posisi sikap sempurna gitu hahahaha
Yah, saya bisa dibilang cukup sirik utk tidak ikut menikmati alunan gitarnya.
Cuman ada satu rahasia/tips yg sama dia ngga dibuka.. untuk jadi juara dunia gitar PENAMPILAN juga PENTING! huehehe (siga ceuk koh stepen chow yg menganulir juara masak gara2 beungeutna goreng :D)
March 6th, 2007 at 12:42 am
Saya setuju, Bang Yudha.
Kata pepatah mah: “Don’t judge a book by its cover”
Tapi kalau sudah tau bahwa orang pada awalnya akan menilai covernya dulu sebelum menilik isinya, bikin dong cover yang menarik.
Makanya… Anda juga tolong perbaiki itu massa dan volume otot dada dan bahu. Hahahahah..
May 21st, 2007 at 11:33 pm
Perasaan pepatahnya udah berubah deh sekarang: “don’t judge a book by its MOVIE”
Hayang bubur ayam mang oyo euy…