…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for January, 2007


Sepi dan Bersyukur (Sebuah Kontemplasi)

Entah berapa lama telah kubiarkan setan kecil, yang awalnya tidak terasa mengganggu ini, menggerogoti kehidupanku. Perkenalkan, namanya Sepi, alias kosong, hampa, tanpa makna.

Ironisnya, perasaan sepi tidak konsisten dengan keadaan di sekeliling. Sahabat aku punya banyak. Tabunganku memang agak tipis bulan ini, tapi tetap aku akan bisa makan dan menikmati kesenangan hidup sampai gaji bulan ini turun. Karir, rasanya sih sedang menanjak walaupun bukan meroket. Pasangan hidup? Aku memang belum punya. Tapi bukan itu. Beberapa waktu yang lalu, ada seorang di sisiku. Tapi itu tidak lantas membuat segalanya jadi menyenangkan. Lalu apa dong?

Awalnya adalah terlena. Terlena dalam kelimpahan kehidupan. Kelimpahan hal-hal biasa yang saking biasanya sehingga tidak masuk hitungan. Tidak disyukuri. Semua terlampai biasa untuk dibalas dengan ucapan terima kasih. Badan yang sehat dan cenderung mengarah ke tongkrongan atletis. Karir yang memuaskan dan menjanjikan masa depan yang cerah. Sahabat-sahabat yang selalu membagikan sebagian dari jiwa mereka dengan menceritakan kisah kehidupannya. Orang tua yang selalu mendoakan.

Setiap struktur yang besar, kuat, tinggi, dan megah, terbangun dari struktur-struktur kecil di dalamnya. Logam-logam mesin, karet ban, busa jok, aki, kabel, bola lampu, tanki bensin membentuk sebuah mobil. Kayu, batu bata, paku, genteng, daun pintu, tegel, cat tembok menyatu dalam bangunan rumah. Begitu juga dengan kehidupan. Pantas saja kalau aku tidak merasa memiliki kehidupan, karena aku mengabaikan struktur-struktur kecil pembentuk kehidupan ini.

Bersyukurlah dalam segala hal. Ternyata ini bukan sekedar slogan belaka. Suatu kebiasaan yang jika ditumbuhkan dan dipelihara, akan membawa pelakunya ke dalam struktur kehidupan yang megah. Sebaliknya, tanpa bersyukur, hanya ada sepi dan hampa.

Hati dalam Pekerjaan

“Iya, mba.. Saya ini memang wanita paling jalang, paling cabul diseluruh Indonesia. Saya dihamili laki-laki setiap malam. Memang saya wanita yang paling cabul dari seluruh Indonesia”

Ucapan bernada kecewa, kesal, marah, dan frustasi ini terlontar dari bibir Tamara Bleszinky. Itu saya lihat dan dengar sendiri melalui layar televisi dalam salah satu acara yang menayangkan kisah kehidupan selebritis.

Kekesalan dan kemarahan tadi memang tidak datang sekonyong-konyong tanpa sebab. Beberapa pertanyaan dari pihak media yang mungkin dirasa sudah menembus terlalu dalam sisi privasi sang selebrity rupanya membuatnya meledak.

Dalam kesempatan lain, mungkin saja Tamara tidak akan melontarkan pernyataan sepahit tadi. Mungkin saja ia akan mampu mengendalikan emosinya.

Atau memang reaksi tadi adalah reaksi yang sengaja ia umbar di depan publik untuk mendapatkan simpati orang banyak. Atau untuk sekedar menjauhkan para wartawan gossip dari depan hidungnya.

Terlepas dari siapa yang benar atau siapa yang salah, ada satu hal yang mengusik saya. Ternyata, tidak ada batasan yang jelas mengenai seberapa besar perasaan atau hati yang dilibatkan dalam menjalankan pekerjaan.

Bekerja tanpa melibatkan hati, jelas akan menyamakan manusia dengan sebuah mesin. Di lain pihak, jika perasaan terlalu ditonjolkan, akan banyak sekali singgungan yang mesti dihadapi dan akhirnya pekerjaan tidak selesai.

Apakah pada akhirnya orang yang bisa mengendalikan perasaannyakah yang akan menang? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab.

Entropi

Pikiranku melayang masa delapan tahun yang silam. Saat itu ada satu matakuliah favoritku — Termodinamika* — yang memperkenalkanku kepada konsep mengenai entropi.

*Sebenarnya kecintaanku akan Termo ini adalah proses pembalikan keadaan. Sebelumnya aku benci, bukan hanya karena materinya yang sulit, tapi juga dosennya yang galak dan tidak segan membuat orang plegmatis seperti diriku ini mati kutu di depan kelas karena gagal menyelesaikan soal perhitungan siklus refrigrasi bertingkat bla bla bla. Cape deh!

Anyway, salah satu konsep yang masih melekat sampai sekarang adalah entropi. Intinya, alam semesta ini secara alami sedang bergerak ke arah ketidakteraturan alias kekacauan.

Rupanya konsep fisika ini tidak hanya berlaku di dunia science, tapi juga di aspek-aspek kehidupan lainnya. Katakan saja satu contoh: personality improvement. Tanpa mau berusaha mengikis sifat-sifat buruk, makin lama sifat itu makin membatu dalam diri. Hal lain: pekerjaan dan karir. Tanpa memiliki career goal, bisa dipastikan karir seseorang akan berakhir di suatu tempat yang tidak terpikirkan dalam arti terjebak, seperti masuk ke dalam lumpur penghisap. Contoh lain lagi: aspek finansial. Semakin besar pemasukan, akan semakin besar juga pengeluaran. Itu arus alami yang harus dilawan jika ingin sukses secara finansial. Demikian pula halnya dengan aspek spiritual. Tanpa mengusahakan hubungan yang baik dengan Sang Pencipta, perlahan namun pasti manusia akan menjauh dari Penciptanya.

Tanpa usaha melawan arus kekacauan ini, sudah pasti manusia akan berakhir di kekacauan itu sendiri.