Entropi
Pikiranku melayang masa delapan tahun yang silam. Saat itu ada satu matakuliah favoritku — Termodinamika* — yang memperkenalkanku kepada konsep mengenai entropi.
*Sebenarnya kecintaanku akan Termo ini adalah proses pembalikan keadaan. Sebelumnya aku benci, bukan hanya karena materinya yang sulit, tapi juga dosennya yang galak dan tidak segan membuat orang plegmatis seperti diriku ini mati kutu di depan kelas karena gagal menyelesaikan soal perhitungan siklus refrigrasi bertingkat bla bla bla. Cape deh!
Anyway, salah satu konsep yang masih melekat sampai sekarang adalah entropi. Intinya, alam semesta ini secara alami sedang bergerak ke arah ketidakteraturan alias kekacauan.
Rupanya konsep fisika ini tidak hanya berlaku di dunia science, tapi juga di aspek-aspek kehidupan lainnya. Katakan saja satu contoh: personality improvement. Tanpa mau berusaha mengikis sifat-sifat buruk, makin lama sifat itu makin membatu dalam diri. Hal lain: pekerjaan dan karir. Tanpa memiliki career goal, bisa dipastikan karir seseorang akan berakhir di suatu tempat yang tidak terpikirkan dalam arti terjebak, seperti masuk ke dalam lumpur penghisap. Contoh lain lagi: aspek finansial. Semakin besar pemasukan, akan semakin besar juga pengeluaran. Itu arus alami yang harus dilawan jika ingin sukses secara finansial. Demikian pula halnya dengan aspek spiritual. Tanpa mengusahakan hubungan yang baik dengan Sang Pencipta, perlahan namun pasti manusia akan menjauh dari Penciptanya.
Tanpa usaha melawan arus kekacauan ini, sudah pasti manusia akan berakhir di kekacauan itu sendiri.