Hati dalam Pekerjaan
“Iya, mba.. Saya ini memang wanita paling jalang, paling cabul diseluruh Indonesia. Saya dihamili laki-laki setiap malam. Memang saya wanita yang paling cabul dari seluruh Indonesia”
Ucapan bernada kecewa, kesal, marah, dan frustasi ini terlontar dari bibir Tamara Bleszinky. Itu saya lihat dan dengar sendiri melalui layar televisi dalam salah satu acara yang menayangkan kisah kehidupan selebritis.
Kekesalan dan kemarahan tadi memang tidak datang sekonyong-konyong tanpa sebab. Beberapa pertanyaan dari pihak media yang mungkin dirasa sudah menembus terlalu dalam sisi privasi sang selebrity rupanya membuatnya meledak.
Dalam kesempatan lain, mungkin saja Tamara tidak akan melontarkan pernyataan sepahit tadi. Mungkin saja ia akan mampu mengendalikan emosinya.
Atau memang reaksi tadi adalah reaksi yang sengaja ia umbar di depan publik untuk mendapatkan simpati orang banyak. Atau untuk sekedar menjauhkan para wartawan gossip dari depan hidungnya.
Terlepas dari siapa yang benar atau siapa yang salah, ada satu hal yang mengusik saya. Ternyata, tidak ada batasan yang jelas mengenai seberapa besar perasaan atau hati yang dilibatkan dalam menjalankan pekerjaan.
Bekerja tanpa melibatkan hati, jelas akan menyamakan manusia dengan sebuah mesin. Di lain pihak, jika perasaan terlalu ditonjolkan, akan banyak sekali singgungan yang mesti dihadapi dan akhirnya pekerjaan tidak selesai.
Apakah pada akhirnya orang yang bisa mengendalikan perasaannyakah yang akan menang? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab.