Jaga Penampilan itu Penting Kalee…
Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, ada kejadian menarik yang nggak terlupakan dalam hidup gua. Waktu itu gua masih mahasiswa di Itebe. Salah satu privilege seorang mahasiswa adalah bebas berpenampilan sesukanya. Mau datang ke ruang kuliah pake T-shirt, polo shirt, kemeja, sweater, jaket kulit, celana katun, celana jeans, rok, atau pakaian yang bernuansa keagamaan, terserah! Yang penting masih dalam batas kesopanan.
Waktu itu, entah hari apa dan jam berapa, tapi yang pasti judul kuliahnya adalah Laser dan Serat Optik. Entah dapat angin dari mana, sang dosen angkat bicara, “Yang pakai sendal silakan keluar.” Nggak ada nada kemarahan, atau kekesalan sedikitpun dari beliau, setidaknya waktu itu gua rasa sih begitu. Cool! Gua dong yang dongkol?! Apa salahnya sih pake sendal? Toh yang mikir otak gua, bukan si sendal atau sepatu? Nanti juga kalo gua lulus, yang diwisuda mah gua, bukan si sepatu. Gua ingat perjalanan keluar kelas waktu itu, bersama mahasiswa-mahasiswa lain yang tampangnya kayak penjahat. Okelah kalau mereka disuruh keluar. Tampang gua kan bukan tampang penjahat or atawa preman. Apa salahnya sih pake sendal? Pertanyaan yang terus terngiang sampai beberapa waktu yang lalu. (Tapi sekarang tampang mereka nggak lagi kayak penjahat lho. Kayak para bintang sinetron gitulah, cuma karena nasib aja gak tampil di TV)
Ingatan tadi muncul waktu gua nonton DVD “Passport to Promotion”, (by Robb Thompson). Om Robb ini bilang, salah satu langkah sederhana menuju sukses adalah menjaga penampilan. Awalnya sih kedengaran biasa aja, kayaknya hal sepele-lah itu. Tapi gua terhentak ketika dia bilang kalimat berikut. Bilangnya sih pake bahasa Inggris, tapi jaga-jaga ada yang belum ngerti bahasa Inggris, lebih baik kita terjemahin (rese banget!) “Seseorang bisa lebih cepat dikenal bukan dari apa yang dikatakannya, tapi dari penampilannya.” Kata-katanya yang lain lagi, “Orang lain belum tentu menuruti apa yang Anda katakan, tapi kemungkinan besar dia akan menuruti apa yang Anda lakukan.” Wow! Jadi selama ini orang-orang lebih "melihat" dari pada "mendengar"! Kalau begitu, pantas penampilan (termasuk juga tingkah laku) sangat berpengaruh terhadap performa seseorang.
Baju yang gua pakai, menceritakan siapa gua. Meja kerja gua, entah tertata rapi atau berantakan, menggambarkan isi kepala gua. Kalo mejanya berantakan, ya isi kepalanya juga berantakan. Tampang mobil gua, entah dekil atau kinclong, menceritakan siapa gua. Bahasa yang gua pakai, pola hidup gua, menceritakan siapa gua. Oh beratnya!
Ya… Orang bisa juga hanya fokus ke isi tanpa peduli kemasan, tapi itu perlu usaha karena pada dasarnya itu melawan hukum alam. Orang selalu lihat penampilan luar dulu. Setelah itu baru muncul keputusan, apa dia mau lihat isinya atau nggak.
Okelah.. Semoga ada manfaat yang bisa dipetik setelah meluangkan waktu baca ocehan gua ini. Tapi kalaupun belum ada, gua senang bisa berbagi kebahagiaan. Rupanya “misteri sendal” agak terungkap setelah beku selama sepuluh tahun J