…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for June 28th, 2007


…A Messenger…

Penerus pesan, mungkin itu terjemahan yang aku pilih. Sebuah bacaan yang mengguggah yang kubaca beberapa hari yang lalu, menceritakan sebuah analogi yang sangat menarik. Terutama untuk diriku.

Manusia adalah messenger, tutur sang penulis. Penerus pesan dari Sang Pencipta kepada lingkungan sekitar kita. Pesan yang sangat penting. Pesan yang menceritakan siapakah Sang Pencipta itu.

Apa yang terjadi ketika seorang messenger mulai mengalihkan bobot penting itu dari pesan ke dirinya sendiri? Penulis buku It’s Not about Me, Max Lucado, memberikan sebuah ilustrasi yang menggugah.

Adalah seorang pemandu yang baru memulai pekerjaannya di sebuah museum. Tugasnya adalah mengantar para pengunjung dan memberi penjelasan tentang karya-karya seni yang ada di dalam museum itu. Hari pertama, dia memulai pekerjaannya dengan memandu sekumpulan pengunjung. Memberi salam, memperkenalkan dirinya dengan singkat, lalu mengajak mereka ke lukisan pertama yang terpajang di dinding. ”Ini karya Van Gogh”, ujarnya sambil berdiri di samping lukisan, sembari memastikan dirinya tidak menghalangi pandangan para pengunjung. ”Ooohh”, para pengunjung bergumam. Hmm, not bad! Pikir si pemandu. Setelah memberi cukup waktu, dia mengajak para pengunjung beranjak ke lukisan selanjutnya, dan selanjutnya, dan selanjutnya.

Satu minggu berlalu. Si pemandu mulai menyenangi pekerjaannya. Dia senang dengan respons para pengunjung terhadap penjelasannya. ”Oohh… ahhh” dan decak kagum terhadap lukisan-lukisan itu mulai mengubah cara kerjanya. Dia mulai merasa dirinya berarti. Dia mulai merasa dirinya penting. Dia mulai merasa decak kagum itu adalah untuk dirinya, bukan untuk karya seni dipajang di sana.

Kali ini si pemandu mulai berdiri agak dekat dengan lukisan. Dia mulai kurang peduli apakah dirinya menghalangi pandangan pengunjung ke arah lukisan. Bahkan kadang dia berdiri di tengah-tengah lukisan. Seraya menikmati orang-orang yang memandang dirinya. Dia menutupi lukisan-lukisan itu dengan dirinya. Sejak saat itu, para pengunjung tidak bisa lagi menikmati karya seni di sana.

Hal yang sama terjadi pada diriku. Setelah sekian lama mendengar decak kagum para pengunjung, aku mulai merasa decak kagum itu adalah untuk diriku. Sampai satu saat terdengar komentar ”Minggir luh…!!” Komentar yang kurang sedap. Komentar yang direpresentasikan oleh "kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan" dalam hidup ini. Di saat itulah aku tersadar. Aku ini pemandu, bukan Pencipta karya seni yang terpajang di museum tempat aku bekerja.