…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for July, 2007


…Harga Diri…

Saya sering mendengar anjuran untuk menghargai orang lain. Menghormati hak orang lain sebagai sesama manusia. Selama saya duduk di bangku sekolah, juga ketika duduk di bangku kuliah, ada mata pelajaran yang khusus mengajarkan hal ini. Tapi seingat saya, tidak ada mata pelajaran yang mengajarkan bagaimana menghargai diri sendiri. Sungguh menarik! Apakah ini berarti menghargai diri sendiri kurang penting dibandingkan menghargai orang lain?

Menghargai diri erat kaitannya dengan pengenalan akan diri sendiri. Seperti ada kata pepatah "tak kenal maka tak sayang", demikian juga berlaku untuk diri kita. Mengenali dan mengerti diri sendiri adalah sebuah proses, yang mungkin tidak akan pernah berakhir. Namun begitu, saya percaya ada satu saat di sepanjang garis hidup ini di mana kita bisa menggali pengertian akan diri sendiri dengan cukup dalam.

Berikut ini saya angkat beberapa hal, yang mungkin terbilang sederhana, yang sempat saya amati.

1. Mood

Mood sangat berpengaruh terhadap produktivitas. Baik itu dalam pekerjaan, dalam peran Anda di dalam sebuah relationship, dalam kehidupan berkeluarga, maupun dalam kehidupan spiritual. Mood atau emosi atau suasana hati sangat mudah dipengaruhi oleh panca indera. Bagi saya. view yang saya lihat, musik yang saya dengarkan, cuaca panas/dingin, kata-kata yang saya keluarkan, semuanya berpengaruh terhadap mood saya. Ada kalanya saya harus menutup telinga saya terhadap musik yang tidak sesuai, karena itu hanya akan membawa saya ke arah batas kritis saya secara emosional. Ada waktunya saya harus mematikan atau memindahkan channel televisi (atau kalau itu tidak mungkin, memindahkan posisi saya ke tempat lain). Seberapa jauh Anda sadar bahwa Anda perlu membatasi, atau sebaliknya menambah input ke salah satu panca indera Anda?

2. Fisik

Ketika lulus kuliah, berat badan saya 83 kg. Dengan tinggi badan 169 cm, tentu saya kelebihan berat. Saya selalu membeli celana jeans dengan ukuran 36. Apa penyebabnya? Jelas karena saya tidak peduli dengan "pengenalan" akan tubuh fisik saya. Sekarang ini banyak pengetahuan tentang makanan dan gizi yang bisa dengan mudah diakses oleh siapapun. Kita bisa memilih makanan yang akan kita makan. Kita bisa mencari tahu aktivitas olah raga apa yang akan membuat tubuh kita lebih fit sehingga mendongkrak produktivitas. Di lain pihak, kita juga bisa mencari batas-batas latihan olah raga di mana kita mulai merasa kelelahan dan tidak bisa bekerja. Selain pola makan dan olah raga, tubuh pun perlu istirahat. Ada orang yang tidur cukup 4 jam, ada yang perlu 8 jam. Berapa lama jam tidur yang tepat untuk tubuh Anda? Hanya Anda sendiri yang bisa mencari tahu.

3. Personal Boundary dalam interaksi antarmanusia

Sebagai seorang manusia, kita memerlukan orang lain. Kita perlu teman, istri/suami, kolega dalam pekerjaan, partner bisnis, dan lain sebagainya. Di dalam suatu relationship yang sehat, kedua belah pihak merasa nyaman karena prinsip-prinsip pribadi mereka (yang mungkin saja ada yang berbeda pihak satu dan lainnya) bisa terjalankan. Namun sering kali orang terjebak dalam relationship yang tidak sehat. Orang terjebak untuk tetap menyenangkan orang lain walaupun prinsip-prinsipnya dilanggar/terlanggar oleh counterpart-nya. Padahal kalau ditelusur lebih jauh, "menyenangkan orang lain" itu bukanlah ultimate goal dari relationship manapun. Saya percaya bahwa mengenal personal boundaries diri kita sendiri sangatlah penting dalam menentukan sikap. Mengetahui apa yang saya inginkan, bagaimana saya akan mengerjakan sesuatu, tindakan apa yang tidak akan pernah saya lakukan, sangatlah menentukan penghargaan terhadap diri saya. Baik itu penghargaan dari orang lain terhadap diri saya, maupun penghargaan dari diri saya sendiri.

4. Bekerja dan Beristirahat

Saya senang bekerja keras dan mengatasi tantangan dalam pekerjaan. Saya sadar bahwa semakin sulit tantangan yang bisa saya atasi, semakin besar kepuasan yang saya rasakan. Namun begitu, bekerja tanpa apresiasi yang cukup terhadap jerih payah saya bisa membuat saya tertekan. Ada waktunya di mana saya perlu menikmati hasil pekerjaan saya dan mengapresiasi diri sendiri. Bisa dengan membeli barang yang saya suka, menikmati liburan di tempat yang saya inginkan, atau sekedar melupakan sama sekali pekerjaan saya dan menikmati waktu luang di rumah dengan melakukan kegiatan yang benar-benar menyenangkan bagi diri sendiri. Sayang dong uangnya, kan bisa dipakai untuk hal lain yang lebih berguna? Bagi saya, mengetahui bahwa saya rela mengeluarkan sejumlah uang untuk menyenangkan diri saya sendiri, itu membuat saya semakin yakin bahwa diri saya layak dihargai.

Memang menyenangkan diri sendiri ini tidak baik jika dilakukan secara berlebihan. Tapi toh siapa lagi manusia di muka bumi ini yang paling bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup diri Anda kalau bukan Anda sendiri? Penghargaan terhadap diri Anda dimulai dari bagaimana Anda menghargai diri Anda sendiri. Saya ingat perkataan ini: "Jika Anda membiarkan orang lain membuat dunia bagi Anda, kemungkinan besar dunia itu akan terlalu kecil bagi diri Anda". Jika demikian, buatlah dunia yang cukup besar bagi diri Anda sendiri.

…Metamorfosis…

Interaksi antar manusia selalu menarik perhatian saya. Buat saya, seorang manusia adalah sebuah sistem yang dinamis. Selalu berubah tiap detiknya. Baik secara fisik maupun mental spiritual.

Saya suka meneliti sesuatu. Mungkin karena terpengaruh oleh latar belakang pendidikan teknik yang saya kenyam (atau kunyah?) beberapa tahun yang lalu. Tidak mesti meneliti secara formal sih, tapi setidaknya sekedar berusaha mencerna sebuah fenomena.

Hasil penelitian saya tidak mesti berupa sebuah report, atau journal, tapi mungkin berupa satu patah kalimat saja. Atau mungkin jika hati sedang berbunga-bunga, satu patah kalimat tadi bisa berkembang menjadi sebuah tulisan pendek. Dan tentunya, tidak ada jaminan benar salahnya. Karena pada dasarnya itu adalah suatu snapshot dari proses berpikir saya yang dinamis juga.

Metamorfosis. Kata ini pertama kalinya saya kenal di pelajaran IPA. Kata ibu guru, ini adalah suatu proses lahirnya seekor kupu-kupu. Bermula dari telur, menetas dan muncul seekor ulat (larva), lalu menjadi kepompong, dan akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang cantik.

Saya melihat pola yang sama juga terjadi pada perkembangan mental spiritual seorang manusia. Ulat mewakili sikap rendah hati, merasa diri belum sempurna, mau menjadi lebih baik. Kepompong adalah lambang proses pembelajaran, kontemplasi, refleksi diri. Kupu-kupu mewakili pencapaian kedewasaan di jenjang yang lebih tinggi.

Siklus ini terus berulang dan berulang. Hanya berhenti jika seseorang mandeg alias terhambat di salah satu fase. Bisa jadi karena dia merasa dirinya sudah sempurna, atau karena tidak lagi belajar, atau juga karena tidak pernah "get the point".

Hal yang paling menarik bagi saya adalah kenyataan bahwa proses perubahan dari kepompong menjadi kupu-kupu harus dijalani sendiri oleh sang kupu-kupu. Dia sendiri yang harus berhasil keluar dari kepompong itu. Apa yang terjadi jika proses itu dibantu dari luar? Kupu-kupu itu akan mati.

Dari hal ini saya memetik satu point. Saya perlu belajar untuk rela melihat seseorang yang struggling tanpa harus memberikan uluran tangan untuk membantu. Karena sebenarnya struggle itu akan men-trasform dia menjadi a better person. Membantu yang saya maksud di sini adalah "mengoyak" kepompongnya agar dia bisa segera keluar. Tentu saja saya masih bisa membantu dengan memberikan dorongan semangat dan berdoa untuknya.

Manusia dan kupu-kupu. Dua ciptaan yang berbeda. Dua bahasa yang berbeda. Satu makna yang terungkap.

…Mataku Jendela Hatiku…

Berada di atas ketinggian, di dalam kabin helikopter Superpuma. Beralaskan permadani lautan North Sea yang hari ini terbilang tenang, menembus cuaca yang cukup bersahabat. Namun hatiku tidak tenang. Ada sebersit rasa khawatir. Bagaimana kalau mesin helikopter ini tiba-tiba mati? Laut di bawah sana paling tinggi temperaturnya 10 C. Dingin.
Sisi baiknya, saat-saat seperti ini membuatku ingat kepada Sang Pencipta. Tentu aku berdoa untuk keselamatan dalam perjalanan ini. Tapi lebih dari itu, aku bisa melihat lagi tayangan momen-momen yang sudah kulalui dan mensyukurinya. Baik itu susah maupun senang.
Kira-kira dua tahun yang lalu, ada satu saat yang mengguncang hidupku. Mestinya aku tidak begitu kaget, karena seharusnya aku sudah bisa menduga. Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa menahan shock, yang berlanjut dengan depresi dan frustasi.
Pada saat aku berusia 5 tahun, aku, atau lebih tepatnya, orang tuaku mulai ngeh bahwa ada sesuatu yang salah dengan daya penglihatanku. Di tempat yang gelap, atau remang, sering kali aku menabrak ke sana sini. Aku dibawa ke dokter mata. Pulangnya dapat resep kacamata.
Tapi rupanya memakai kacamata tidak menyelesaikan masalahku. Aku masih belum bisa melihat sebaik orang lain di tempat yang pencahayaannya kurang. Rabun ayam. Itu yang tadinya kami semua kira.
Dua tahun yang lalu, singkat cerita, aku mendapatkan kesempatan untuk menjalani pemeriksaan, oleh spesialis mata nomer satu di Indonesia untuk bidang retina. Hasilnya, beliau bilang ini adalah kasus retinitis pigmentosa (RP). Sebuah kondisi degeneratif retina, di mana sel-sel retina ”meluruh” dan mati. Untuk lebih yakinnya, beliau merujuk ke koleganya di Singapore. Spesialis retina juga. Dokter di Singapore ini mengkonfirmasi kasus RP.
Retina terdiri dari sel batang dan sel kerucut. Sel batang bertugas menangkap terang dan gelap. Sel kerucut bertugas menangkap warna warni. Rupanya sedikit sekali sel batang yang tersisa dalam retinaku. Itu sebabnya aku susah melihat di tempat yang kurang cahaya.
Tidak ada obatnya, kata dokter. Belum ada. Ada beberapa penelitian yang mengarah ke penyembuhan kondisi unik ini. Tapi itu masih dalam tahap penelitian di laboratorium.
Kabar lebih buruknya lagi, kerusakan ini bisa bertambah parah. Lajunya berbeda pada satu penderita dibanding yang lainnya. Ruang pandang bisa mengecil. Lama kelamaan, penderita akan seolah melihat dunia ini melalui teropong. Atau mungkin sama sekali kehilangan penglihatannya. Buta.
Bukan berita yang yang menyenangkan. Di usia yang sedang dipenuhi semangat untuk meraih cita-cita. Di saat peluang karir kelihatannya sedang menjanjikan.
Marah. Kesal. Frustasi. Dongkol. Marah lagi. Marah terhadap Tuhan. Kenapa Dia mempermainkan hidupku seperti ini? Apa maksudnya? Di satu sisi, Dia memberi harapan tentang masa depan yang baik. Di sisi lain Dia seolah menghancurkan masa depanku. What a big joke!
Aku tidak ingat berapa lama tepatnya aku berada dalam situasi frustasi saat itu. Satu hal yang aku ingat, Dia selalu memanggilku untuk kembali mempercayai-Nya. Entah lewat kotbah di rumah ibadah, entah lewat teman, atau kejadian-kejadian sehari-hari yang sederhana. Dan akhirnya aku berserah. Aku memilih untuk percaya, bahwa ini terjadi seizin-Nya. Dan Dia punya rencana yang besar di balik semua ini. Apa itu? Aku belum tahu. Mungkin satu cara untuk membentuk karakterku agar tidak sombong. Mungkin satu cara untuk memberi dorongan semangat bagi orang lain di sekitarku. Aku tidak tahu pasti. Tapi satu hal yang aku percaya. Tujuan dari semua ini adalah untuk memberikan pengagungan bagi Dia.
Dua tahun berlalu dari saat itu. Aku masih seorang penderita retinitis pigmentosa. Tapi satu hal yang baru aku sadari, jarang sekali aku merasa menderita. Seorang penderita yang tidak merasa menderita. Aku tidak tahu bagaimana caranya Dia membuat aku merasa begitu. Ajaib.
Di sisi lain, Dia terus bekerja merajut masa depanku. Hadiah tahun baruku di tahun 2007 ini adalah assignment di Norwegia. Nggak pernah mimpi. Wow! What can I say to give thanks to you, Lord? Tidak ada kata-kata yang bisa mewakili seluruh ucapan terima kasih yang bisa kuucapkan.