…Mataku Jendela Hatiku…
Berada di atas ketinggian, di dalam kabin helikopter Superpuma. Beralaskan permadani lautan North Sea yang hari ini terbilang tenang, menembus cuaca yang cukup bersahabat. Namun hatiku tidak tenang. Ada sebersit rasa khawatir. Bagaimana kalau mesin helikopter ini tiba-tiba mati? Laut di bawah sana paling tinggi temperaturnya 10 C. Dingin.
Sisi baiknya, saat-saat seperti ini membuatku ingat kepada Sang Pencipta. Tentu aku berdoa untuk keselamatan dalam perjalanan ini. Tapi lebih dari itu, aku bisa melihat lagi tayangan momen-momen yang sudah kulalui dan mensyukurinya. Baik itu susah maupun senang.
Kira-kira dua tahun yang lalu, ada satu saat yang mengguncang hidupku. Mestinya aku tidak begitu kaget, karena seharusnya aku sudah bisa menduga. Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa menahan shock, yang berlanjut dengan depresi dan frustasi.
Pada saat aku berusia 5 tahun, aku, atau lebih tepatnya, orang tuaku mulai ngeh bahwa ada sesuatu yang salah dengan daya penglihatanku. Di tempat yang gelap, atau remang, sering kali aku menabrak ke sana sini. Aku dibawa ke dokter mata. Pulangnya dapat resep kacamata.
Tapi rupanya memakai kacamata tidak menyelesaikan masalahku. Aku masih belum bisa melihat sebaik orang lain di tempat yang pencahayaannya kurang. Rabun ayam. Itu yang tadinya kami semua kira.
Dua tahun yang lalu, singkat cerita, aku mendapatkan kesempatan untuk menjalani pemeriksaan, oleh spesialis mata nomer satu di Indonesia untuk bidang retina. Hasilnya, beliau bilang ini adalah kasus retinitis pigmentosa (RP). Sebuah kondisi degeneratif retina, di mana sel-sel retina ”meluruh” dan mati. Untuk lebih yakinnya, beliau merujuk ke koleganya di Singapore. Spesialis retina juga. Dokter di Singapore ini mengkonfirmasi kasus RP.
Retina terdiri dari sel batang dan sel kerucut. Sel batang bertugas menangkap terang dan gelap. Sel kerucut bertugas menangkap warna warni. Rupanya sedikit sekali sel batang yang tersisa dalam retinaku. Itu sebabnya aku susah melihat di tempat yang kurang cahaya.
Tidak ada obatnya, kata dokter. Belum ada. Ada beberapa penelitian yang mengarah ke penyembuhan kondisi unik ini. Tapi itu masih dalam tahap penelitian di laboratorium.
Kabar lebih buruknya lagi, kerusakan ini bisa bertambah parah. Lajunya berbeda pada satu penderita dibanding yang lainnya. Ruang pandang bisa mengecil. Lama kelamaan, penderita akan seolah melihat dunia ini melalui teropong. Atau mungkin sama sekali kehilangan penglihatannya. Buta.
Bukan berita yang yang menyenangkan. Di usia yang sedang dipenuhi semangat untuk meraih cita-cita. Di saat peluang karir kelihatannya sedang menjanjikan.
Marah. Kesal. Frustasi. Dongkol. Marah lagi. Marah terhadap Tuhan. Kenapa Dia mempermainkan hidupku seperti ini? Apa maksudnya? Di satu sisi, Dia memberi harapan tentang masa depan yang baik. Di sisi lain Dia seolah menghancurkan masa depanku. What a big joke!
Aku tidak ingat berapa lama tepatnya aku berada dalam situasi frustasi saat itu. Satu hal yang aku ingat, Dia selalu memanggilku untuk kembali mempercayai-Nya. Entah lewat kotbah di rumah ibadah, entah lewat teman, atau kejadian-kejadian sehari-hari yang sederhana. Dan akhirnya aku berserah. Aku memilih untuk percaya, bahwa ini terjadi seizin-Nya. Dan Dia punya rencana yang besar di balik semua ini. Apa itu? Aku belum tahu. Mungkin satu cara untuk membentuk karakterku agar tidak sombong. Mungkin satu cara untuk memberi dorongan semangat bagi orang lain di sekitarku. Aku tidak tahu pasti. Tapi satu hal yang aku percaya. Tujuan dari semua ini adalah untuk memberikan pengagungan bagi Dia.
Dua tahun berlalu dari saat itu. Aku masih seorang penderita retinitis pigmentosa. Tapi satu hal yang baru aku sadari, jarang sekali aku merasa menderita. Seorang penderita yang tidak merasa menderita. Aku tidak tahu bagaimana caranya Dia membuat aku merasa begitu. Ajaib.
Di sisi lain, Dia terus bekerja merajut masa depanku. Hadiah tahun baruku di tahun 2007 ini adalah assignment di Norwegia. Nggak pernah mimpi. Wow! What can I say to give thanks to you, Lord? Tidak ada kata-kata yang bisa mewakili seluruh ucapan terima kasih yang bisa kuucapkan.