…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for July 5th, 2007


…Metamorfosis…

Interaksi antar manusia selalu menarik perhatian saya. Buat saya, seorang manusia adalah sebuah sistem yang dinamis. Selalu berubah tiap detiknya. Baik secara fisik maupun mental spiritual.

Saya suka meneliti sesuatu. Mungkin karena terpengaruh oleh latar belakang pendidikan teknik yang saya kenyam (atau kunyah?) beberapa tahun yang lalu. Tidak mesti meneliti secara formal sih, tapi setidaknya sekedar berusaha mencerna sebuah fenomena.

Hasil penelitian saya tidak mesti berupa sebuah report, atau journal, tapi mungkin berupa satu patah kalimat saja. Atau mungkin jika hati sedang berbunga-bunga, satu patah kalimat tadi bisa berkembang menjadi sebuah tulisan pendek. Dan tentunya, tidak ada jaminan benar salahnya. Karena pada dasarnya itu adalah suatu snapshot dari proses berpikir saya yang dinamis juga.

Metamorfosis. Kata ini pertama kalinya saya kenal di pelajaran IPA. Kata ibu guru, ini adalah suatu proses lahirnya seekor kupu-kupu. Bermula dari telur, menetas dan muncul seekor ulat (larva), lalu menjadi kepompong, dan akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang cantik.

Saya melihat pola yang sama juga terjadi pada perkembangan mental spiritual seorang manusia. Ulat mewakili sikap rendah hati, merasa diri belum sempurna, mau menjadi lebih baik. Kepompong adalah lambang proses pembelajaran, kontemplasi, refleksi diri. Kupu-kupu mewakili pencapaian kedewasaan di jenjang yang lebih tinggi.

Siklus ini terus berulang dan berulang. Hanya berhenti jika seseorang mandeg alias terhambat di salah satu fase. Bisa jadi karena dia merasa dirinya sudah sempurna, atau karena tidak lagi belajar, atau juga karena tidak pernah "get the point".

Hal yang paling menarik bagi saya adalah kenyataan bahwa proses perubahan dari kepompong menjadi kupu-kupu harus dijalani sendiri oleh sang kupu-kupu. Dia sendiri yang harus berhasil keluar dari kepompong itu. Apa yang terjadi jika proses itu dibantu dari luar? Kupu-kupu itu akan mati.

Dari hal ini saya memetik satu point. Saya perlu belajar untuk rela melihat seseorang yang struggling tanpa harus memberikan uluran tangan untuk membantu. Karena sebenarnya struggle itu akan men-trasform dia menjadi a better person. Membantu yang saya maksud di sini adalah "mengoyak" kepompongnya agar dia bisa segera keluar. Tentu saja saya masih bisa membantu dengan memberikan dorongan semangat dan berdoa untuknya.

Manusia dan kupu-kupu. Dua ciptaan yang berbeda. Dua bahasa yang berbeda. Satu makna yang terungkap.