…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for August 16th, 2007


…Debu debu…

Adalah sebuah rumah. Tidak terlalu besar. Sangat cukup untuk ditempati oleh seorang lajang. Rumah yang baru dibangun. Interiornya masih sederhana. Taman di halaman depan pun masih sederhana. Masih banyak tersedia ruang untuk kreativitas.

Jika seseorang memberi saya rumah semacam ini, saya akan senang sekali. Saya jadi punya tempat berteduh. Saya bisa berkreasi dengan interior dan taman. Saya bisa mengatur dan menghias bagian dalam rumah saya dengan furnitur yang akan membuat saya lebih betah lagi di rumah. Saya juga bisa menanam berbagai macam tanaman di taman, yang tujuannya tidak lain untuk menambah keindahan tempat tinggal saya.

Berkreasi, menghias, mempercantik rumah, itu semua pekerjaan yang menyenangkan. Sayangnya, kadang seseorang terlalu asyik berkreasi dengan rumahnya, sedang debu mulai menebal di dalam rumah. Debu yang tidak terlihat dari luar. Hanya terlihat dan terasakan oleh pemilik rumah, atau orang yang berkunjung ke dalam rumah.

Bukankan diri manusia itu ibarat rumah juga? Berkreasi menghias hidup memang mengasyikkan. Menambah pengetahuan, meniti karir, membangun kehidupan sosial, berkontribusi untuk komunitas, bagi saya adalah kegiatan menghias hidup. Kegiatan yang mengasyikkan. Namun sering keasyikkan ini juga yang membuat saya lupa untuk bersih-bersih debu di dalam rumah. Memurnikan hati.

Tiap-tiap orang mungkin punya definisi masing-masing tentang memurnikan hati. Buat saya, memurnikan hati adalah mengesampingkan kepuasan diri, dan mendahulukan kehendak Tuhan. Memang terdengar seperti ucapan yang klise dan "sok rohani". Tapi biar bagaimanapun, itulah yang saya percaya, saya alami, dan saya rasakan. Tanpa hati yang murni, sukar untuk menikmati keindahan. Karena hati yang tidak murni hanya menuntut pemuasan keinginan diri. Dan itu tidak ada ujung akhirnya.

Florence Tiga minggu yang lalu, saya jalan jalan ke tempat yang buat banyak orang adalah tujuan liburan impian. Italia! Memang saya akui itu adalah perjalanan yang menyenangkan. Satu hal saja yang saya sesali, adalah saya lupa tentang kemurnian hati. Saya merasa kurang puas dalam banyak hal. Setelah saya pikirkan, alasannya cuma satu. Waktu itu saya berangkat dengan hati yang tidak murni.

Lain halnya dengan perjalanan serupa yang sedang saya jalani sekarang. Perjalanan kerja ke platform platform di lepas pantai. Jika saya bandingkan, perjalanan kerja ini hampir mirip dengan perjalanan liburan kemarin. Beberapa malam menginap di satu tempat, lalu berpindah ke tempat lain. Setelah puas menjelajah di satu tempat, lalu pindah ke tempat lain.

Cimg3590Yang membuat saya agak heran, walaupun perjalanan sekarang ini adalah dalam konteks pekerjaan, saya malah bisa lebih menikmatinya dibanding perjalanan liburan impian ke Italia kemarin. Saya percaya ini benar-benar ada hubungannya dengan membersihkan hati.

Tentu pekerjaan bersih bersih ini bukanlah pekerjaan yang cukup dilakukan satu kali sepanjang hidup ini. Debu dan pasir akan terus datang. Bersih bersih perlu dilakukan lagi satu saat. Atau malahan setiap saat. Bersih bersih, yang dalam definisi saya adalah mengesampingkan atau mengabaikan pemuasan diri, dan mengutamakan untuk memuaskan Sang Pencipta.

Beberapa hal yang menginspirasi saya untuk menulis ini, selain backpacking liburan impian keliling Italia dan trip offshore ke Ekofisk dan Eldfisk di Northsea dalam urusan pekerjaan, adalah kesempatan untuk bertemu seorang sahabat saya di Belanda. Beruntung saya bisa bertemu lagi dengan beliau, yang sekarang sudah berkeluarga dan dikaruniai seorang anak yang sedang lucu-lucunya. DelftSeorang sahabat yang selalu mensyukuri apa yang diterimanya dalam hidupnya. Jelas sekali, dari sikap dan kebiasaan bersyukur itu, terbangunlah sebuah kehidupan yang bahagia. Saya senang bisa mencicipi kehidupan bersama-sama mereka ini untuk beberapa hari. Dan pastinya saya belajar sesuatu dari kehidupan beliau ini dan akan membawa pulang contoh contoh nyata yang dapat saya praktekkan dalam hidup sehari-hari.

Selain itu, satu hal lain yang memberikan inspirasi adalah email dari seorang senior di kantor, yang saya anggap sebagai ayah sendiri. Beliau bilang bahwa beliau jarang merasa cemburu atau iri hati terhadap orang lain, karena beliau sudah punya segalanya. Seandainya kalimat itu berhenti di sini, saya akan bilang beliau seorang yang sombong. Ada lanjutannya. Beliau bilang, beliau merasa begitu karena beliau punya Tuhan. Karena punya Tuhan, beliau jadi punya segalanya. Sebuah perkataan yang menggugah saya. Terlebih diucapkan oleh seseorang yang bagi saya seandainya beliau mau, beliau bisa saja tidak melanjutkan ucapannya dengan kalimat terakhir tadi. Karena memang beliau seakan punya segalanya secara materi. Tapi rupanya materi semata tidak cukup untuk menikmati indahnya hidup ini.

Mari bersihkan hati kita… Kebahagiaan tidak jauh lagi dari jangkauan…