…Backpacking to Italia: Part 1…
Setelah tiga bulan terdampar di Skandinavia, akhirnya tiba juga waktunya untuk mengintip dunia sekitar. Di Minggu pagi yang berawan, berangkatlah diriku ditemani dua gembol tas ransel kakak beradik, yang satu kecil, yang satunya lebih kecil lagi. Tujuan pertama: Belanda.
Alasan utama kunjungan ke Belanda adalah melepas kangen dengan seorang sobat yang dikenal di waktu kuliah dulu, teman sepermainan, teman seperjuangan, dan juga sering minjem PR-nya karena gua simply ngga bisa ngerjain. J
Penerbangan dari Stavanger ke Schippol ditempuh dalam waktu satu jam lebih. Kontras dengan Sola Airport di Stavanger, Schippol Airport di Amsterdam adalah bandara yang besar dan padat oleh manusia.
Begitu keluar dari klaim bagasi dan masuk ke Arrival Hall, terdengar suara memanggil: ”Vid…!!”. Mengingat diri gua yang rasanya belum pernah jadi bintang iklan di Belanda (anywhere, actually), rasanya hampir ngga mungkin mendengar suara fans yang memanggil seperti itu. Setelah berhasil mengidentifikasi sumber suara tadi, ternyata itu Gea, sobat yang pingin gua temui di Belanda ini.
Saling bertukar kabar, diputuskanlah untuk berangkat ke downtown Amsterdam. Begitu keluar dari stasion kereta, buset, rasanya banyak banget manusia di sini. Jalanan besar-besar. Ada kereta juga yang malang melintang di tengah jalan, macam busway di Jakarta. Lucu juga kalau ingat perasaan waktu itu. Jadi serasa orang yang tinggal di kampung, dan pertama kali melihat kota besar.
Jalan-jalanlah kita di sana, ikut tour boat yang mengitari kanal-kanal di dalam kota, makan siang, dan tidak sempat mampir ke lampu merah. Alasannya, buat apa liat lampu merah, di Jakarta juga banyak!. J Tapi bukan itu deng, alasannya karena kita ngejar waktu untuk bisa dinner di rumah bersama keluarganya Gea, yaitu istri tercinta, Ari, dan Naureen kecil yang lucu. Sungguh alasan yang mulia. J
Kunjungan ke Belanda ini sungguh berkesan. Banyak hal yang dipelajari dari kehidupan keluarga muda ini. Mungkin next time pengalaman dari kunjungan ini akan dirangkum dalam satu tulisan sendiri.
Singkat cerita, Belanda harus ditinggalkan. Terbanglah diriku bersama dua tas gembol ke arah selatan: Italia…!! The big plan adalah jalan-jalan keliling Italy. Istilah kerennya: backpacking. Terjemahan formalnya: berwisata dengan berusaha menekan ongkos sebisanya. Terjemahan bebasnya: Turis ngirit! J Milan adalah tanah pertama yang akan diinjak. Lalu Venice, Florence, dan berakhir di Roma. Perlengkapan yang ada di dalam tas gambol sudah dihitung dengan cermat dan akan mencukupi kebutuhan selama 15 hari. Ada 5 helai baju, 2 celana pendek, 1 celana jeans panjang (plus satu yang sedang dipakai), dan pakaian-pakaian lain yang masuk kategori urusan dalam. Ceritanya sih nanti baju-baju kotor akan dicuci, jadi gak perlu bawa banyak gembolan, karena mobilitas tinggi itulah yang diutamakan. Tapi pada prakteknya, 5 helai baju itu cukup untuk 15 hari dan tidak perlu dicuci, karena tidak kotor. Dan juga tidak bau. At least menurut saya sendiri, dan juga merujuk ke kenyataan bahwa tidak ada orang yang protes tentang itu, he he J. Go backpacking!!
Milan
Pengalaman pertama terbang dengan low budget airline cukup menyenangkan. Pesawatnya bagus, terlihat seperti baru, penumpang cukup tertib dalam memilih tempat duduk walaupun di tiket tidak disebutkan tempat duduknya di mana, pramugarinya ramah (dan manis, penting ini!). Penerbangan berlangsung dalam waktu satu jam lebih. Pesawat mendarat dengan mulus di Malpenza Aeroporto. Bandara ini terletak di luar kota Milan, sekitar 50 km dari pusat kota. Dari Bandara ada bis yang berangkat menuju ke stasion kereta api di pusat kota. Hari sudah malam, tapi matahari summer masih bersinar terik.
Berhubung ini pertama kalinya sekali berkunjung ke Itali, dan hari mulai beranjak gelap, maka diputuskanlah untuk naik taksi dari central station ke hotel. Ternyata letaknya tidak jauh. Tapi ongkosnya lumayan, hampir 10 euro. Bayar taksi harus pakai cash. Dan taksi drivernya tidak bisa bahasa Inggris. Well, untuk selanjutnya, banyak sekali orang-orang yang ditemui di jalan yang tidak bisa berbahasa Inggris. Bahkan di saat-saat kritis seperti misal ketika hampir ketinggalan kereta pun, mereka tetap tidak berbahasa Inggris. Buset!
Malam itu dilewati dengan duduk santai di Corso Garibaldi. Menikmati segelas wine di bar seberang penginapan. Sambil bercakap-cakap dengan dua orang ibu yang dengan semangatnya memberi arahan tempat-tempat mana yang wajib dikunjungi di Itali ini. Menyenangkan bisa bertemu dengan orang-orang ramah seperti ini.
Dua hari diperuntukkan bagi Milan. Setelah cukup beristirahat, besok paginya pergerakan pun dimulai. Tujuan utama: Duomo, yaitu Cathedral of Milan. Kalau lihat di peta sih masih dalam jangkauan pejalan kaki. Dan syukurlah memang betul begitu. Kira-kira setengah jam jalan kaki dari Corso Garibaldi, tempat penginapan berada, Itu sudah termasuk waktu untuk nyasar, tanya-tanya, dan sedikit foto-foto.
Bangunan megah pertama yang terlihat adalah Galeria. Diakui pertama kali melihat struktur megah ini, perasaan capek karena berjalan kaki langsung sirna. Galeria ini sebenarnya bisa dibilang bagian dari jalanan yang di sepanjangnya terletak toko toko, yang kemudian diberi atap kaca, sehingga terkesan sebagai sebuah mall outdoor. Di sisi sisinya berjejer toko-toko yang menjual tas dan pakaian dengan merk terkenal. Di salah satu ujung Galeria ini, berdirilah Duomo, Cathedral of Milan. Dengan didominasi warna putih, dan ukiran-ukiran yang “delicated”. Sayang saat itu masih ada bagian bangunan yang sedang dalam tahap rekonstruksi. Jadi masih terlihat scaffolding di beberapa tempat dan lumayan mengganggu, terutama untuk foto-foto.
Dua hari terasa begitu cepat berlalu. Tujuan selanjutnya adalah Venice. Untuk ke sana bisa menggunakan kereta, dan waktu tempuhnya sekitar dua jam.
Venice Perjalanan menggunakan kereta Eurostar secara overall terbilang nyaman. Dengan interior sedikit di bawah kualitas interior kabin pesawat terbang, dan dengan sedikitnya berhenti-berhenti, perjalanan jadi serasa nyaman dan cepat. Kecuali di trip Milan-Venice ini, entah kenapa, para penumpang harus turun dan ganti kereta yang lain sampai dua atau tiga kali. Anyway, akhirnya sampai juga di Stasion Santa Lucia, Venezia.
Begitu keluar pintu stasion kereta, pemandangan memukau langsung menyambut. Bukannya jalan raya yang ada di depan mata, melainkan sungai, atau kanal. Venice adalah kota yang dikelilingi air. Tidak ada jalan untuk mobil atau kendaraan bermotor lainnya. Yang ada hanyalah jalan kecil untuk pejalan kecil, dan kanal-kanal tadi di mana berseliweran berbagai macam perahu. Itulah sarana transportasi utama di sini. Yesss!!! Bakal asik nih di Venice ini.
Hari sudah sore. Setelah berhasil menemukan lokasi hotel dan menaruh tas gembol-tas gembol, yang ingin segera dilakukan adalah menjelajah kota antik ini. Tujuan utamanya adalah Piazza San Marco. Tapi mengingat hari yang sudah hampir malam, dan juga mengacu kepada buku panduan dan peta bahwa lokasi Piazza ini cukup jauh, maka diputuskanlah untuk menunda pencarian ini ke esok harinya. Sebagai gantinya, malam ini akan dilewatkan dengan makan enak di restoran. Memang agak bertentangan dengan prinsip turis ngirit, tapi kapan lagi makan spaghetti asli Itali plus menikmati Italian wine? Now is the time, man!!
Bangun dari tidur nyenyak yang cukup panjang, badan pun terasa segar. Ditambah lagi penginapan yang nyaman di Venice ini. Setelah sarapan pagi, perjalanan pencarian Piazza San Marco pun dimulai. Berbekal peta dan buku panduan, mestinya tidak terlalu susah untuk menemukan jantung kota Venice ini. Tapi kenyataan berkata lain, bung! Berjalan-jalan di Venice serasa berjalan di dalam labirin raksasa. Semua jalanan kelihatannya sama. Jalanan kecil-kecil dan tak sedikit yang berakhir buntu. Ditambah lagi bisa ada beberapa jalan yang share nama yang sama. Alhasil, peta pun tidak terlalu banyak membantu.
Setelah berjalan cukup jauh dari penginapan, sampailah backpacker ini di kerumunan keramaian. Yeah, pasti ini tempatnya nih. Segera mengeluarkan kamera dan jepret sana sini. Hmm, tapi kok kayaknya ada yang kurang ya? Rasanya kurang megah dan kurang pantas tempat ini disebut pusat kota. Padat oleh turis sih iya. Tapi mana bangunan megahnya? Selidik punya selidik, ternyata itu adalah pasar ikan! Fuihh, bukan Piazza San Marco. Rupanya ini baru setengah perjalanan. Tapi rasanya kok jauh betul tadi jalan kaki. Yaa, okelah… Istirahat dulu sebentar di sini.
Setelah merasa cukup refreshed, sekian lama berjalan dan disemprot matahari musim panas yang terik, pencarian pun dimulai lagi. Lorong demi lorong, jembatan demi jembatan dilewati. Akhirnya, setelah bertanya beberapa kali ke orang-orang, sampai jugalah di Piazza San Marco. Perasaan capek dan kesal karena labirin konyol pun segera terobati oleh pemandangan yang memukau. Piazza San Marco, dan Basillica San Marco yang dibangun pada abad ke-4 ini begitu berbeda dari pemandangan Venice pada umumnya. Kentara sekali bahwa inilah pusat jantung kota. Pusat kemegahan pada zamannya, dan juga masih valid untuk masa sekarang ini.
Setelah puas menikmati berada di tempat ini, perjalanan balik ke penginapan pun dilakukan. Bukan pengalaman yang menarik kalau harus terjebak dalam kegelapan dan nyasar-nyasar lagi di dalam labirin raksasa Venice. Apalagi orang-orang yang ditanya belum tentu bisa menjelaskan arah dalam bahasa Inggris. Besok pagi-pagi, niatnya pingin ke sini lagi dan ambil foto-foto. Semoga kalau pagi-pagi nggak terlalu banyak turis seperti jam sekarang ini.
Keesokan harinya, pagi-pagi betul, perjalanan ke San Marco diulang lagi. Kali ini dengan harapan tidak akan terlalu banyak nyasar dan segera tiba di sana sebelum terlalu banyak orang supaya bisa ambil foto-foto yang bagus. Tapi, biar bagaimanapun, labirin Venice ini memang merupakan tantangan tersendiri. Dibuat nyasar beberapa kali, beruntung sampai juga di tujuan, dan harapan pun terpenuhi.
Belum banyak orang, dan cahaya matahari belum terlalu kuat sehingga memungkinkan untuk menghasilkan gambar-gambar yang bagus. Hajar deh foto-foto! J
Pemandangan malam hari Venice pun tidak kalah menariknya. Sayang karena khawatir nyasar dan tidak bisa balik ke hotel, perjalanan malam hari hanya dibatasi di daerah-daerah dekat penginapan. Namun pemandangan yang bisa dinikmati tetap tidak mengecewakan.
Rencana semula adalah stay 4 malam di Venice. Namun setelah hari ke 3, diputuskanlah untuk melanjutkan perjalanan ke kota lain. Alasan utama adalah kurang tercapainya misi utama kunjungan ke Venice ini, yaitu untuk menyepi dan menikmati kedamaian. Tapi lautan turis mengubah keadaan kota menjadi terlalu hiruk pikuk. Mungkin lain kali kunjungan perlu diubah waktunya ke musim lain selain summer.
Good bye Venice. Florence, here I come!! …to be continued…