…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for October, 2007


…Backpacking to Paris…

Habis capek kerja, liburan lagi yukk. Kali ini yang jadi tujuan adalah kota yang *konon katanya* romantis. Tanpa ekspektasi yang terlalu muluk, apalagi sampai membiarkan diri terhanyut oleh mitos romantisme kota tua ini, berangkatlah saya ke sana. Penerbangan Stavanger-Paris cuma makan waktu 2 jam. Pantas aja cuaca di sana nggak terlalu beda jauh dengan di Stavanger, sering hujan dan terbilang dingin. Tapi beruntung di hari pertama masih sempat lihat langit biru cerah dan ambil foto-foto yang bagus.

Paris, kota yang kaya akan peninggalan bersejarah, memuaskan untuk para penikmat arsitektur bangunan. Juga bagi para pecinta seni. Walaupun saya bukan seorang fanatik pecinta seni rupa, diakui tanpa perlu ilmu yang tinggi-tinggi pun banyak karya seni lukisan dan patung/ukiran yang bisa segera dinikmati keindahannya. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya pingin bilang bahwa ada beberapa kelakuan dari para pengunjung museum yang terkesan kampungan. Yang paling tampak jelas adalah desak-desakan manusia di depan lukisan Monalisa, di mana orang berebut pingin difoto dengan latar belakang lukisan maha terkenal itu. Petugas penjaga di sana dibuat kewalahan untuk menertibkan. But.. that’s a part of the show. Jadi saya nikmati aja sambil tersenyum.

Hal lain yang menarik buat saya adalah koleksi pakaian baju perang para ksatria (armor) yang dipajang di museum militer. Karena sejak dulu saya suka dengan kisah-kisah ksatria berbaju besi Eropa, pengalaman untuk melihat sendiri benda peninggalan jaman itu memberikan kesan tersendiri. Walaupun sekarang ini kekaguman saya cukup berkurang secara signifikan, karena keberadaan baju perang itu berkaitan dengan kenyataan pahit bahwa pada jaman itu orang berperang demi agama atau dengan memakai agama sebagai justifikasi.

Yang lainnya yang berkesan buat saya adalah kesempatan bertemu dengan orang-orang yang travelling dari macam-macam negara, yang banyaknya masih muda-muda. Dari mereka juga kadang timbul inspirasi untuk mengunjungi satu tempat yang konon wajib dikunjungi. Sebagai tambahan, saya juga mendapatkan cerita tentang situasi di negara-negara tempat para traveller itu berasal. Sebagai tambahan lain, mereka juga kadang tidak terlalu sungkan menceritakan kisah pribadi mereka.

Menarik. Tidur di hostel di mana satu kamar berisi 4 tempat tidur. Dua tempat tidur bertingkat dua. Tiap malam, atau dua malam sekali, penghuninya berganti, karena ada yang pergi dan ada yang lain datang menggantikan. Di sana saya bertukar cerita dengan mereka. Sebut saja kawan asal Brasil ini yang mengaku penikmat marijuana. Atau Chris, anak muda dari Melbourne yang entah bagaimana ceritanya bisa kehabisan duit di Paris. Jadi tiap pagi Chris ini menyelusup ke hostel untuk menikmati sarapan gratis. Malamnya, katanya dia tidur di rumah sakit. Tenang, katanya, nanti hari senin juga mama bakal kirim uang. Rada gila, pikir saya.

Atau Kristin, asal dari Hongkong yang sangat menonjol perilaku spiritualnya. Sangat jelas dari caranya yang bersemangat ketika dia menceritakan pengalamannya ketika dia mulai senang beribadah. Juga saya bisa melihat betapa antusiasnya dia mendengarkan ketika saya balik bercerita tentang pengalaman spiritual saya. Ada lagi sepasang muda-mudi asal Australia yang nginap di kamar yang sama dengan saya. Yang cukup menakjubkan adalah mereka sepakat untuk berbagi bed space yang lebarnya paling banter 60-70 cm. Untuk saya seorang saja rasanya itu terlalu sempit. Curious bahwa mereka punya satu rencana tertentu, saya pun pura-pura tidur dan dengan sabar menunggu suara-suara yang diharapkan. Tapi sampai saya ketiduran, suara-suara yang ditunggu tidak kunjung terdengar. Ya sudahlah, mungkin belum rejeki.

Berbeda dengan pendapat sebagian orang yang menyebutkan orang-orang di Paris arogan atau kurang friendly, saya malah berpendapat sebaliknya. Saya masih banyak menemukan orang yang mau dengan senang hati menolong atau menjelaskan arah buat saya. Perkara mereka tidak fasih berbahasa Inggris, saya pikir itu tidak ada hubungannya dengan friendly atau tidak friendly. Ya, mereka memberikan impression yang baik di mata saya.

…Tentang Pencarian…

Membaca buku The Universe in a Nutshell, by Stephen Hawking (tepatnya mendengarkan audiobook yang didownload ke ipod) mengingatkan saya lagi ke masa kuliah 9 tahun yang lalu. Sebut saja matakuliah seperti Fisika Modern, Medan Elektromagnet, dan Dinamika Molekuler, yang menarik perhatian tapi cukup mengintimidasi karena memerlukan daya khayal tentang apa yang diajarkan. Ajaibnya, buku yang ditulis Hawking ini menyajikan fisika modern, atau quantum mechanics, secara lebih ringan dan tidak mengintimidasi (karena tidak ada ujian setelahnya dan pembaca tidak perlu bergulat dengan persamaan matematik yang rumit).

Hawking menceritakan secara kronologis bagaimana fisika modern ini berkembang dari sejak Albert Einstein memperkenalkan teori relativitas dan pencarian manusia akan satu equation yang berlaku global untuk jagat raya yang masih terus berlangsung sampai hari ini. Eksperimen yang saat ini dilakukan di level molekuler telah membuka wawasan baru bagi manusia sekaligus menjanjikan perkembangan masa depan yang jauh di atas bayangan kita sekarang.

Yang menarik adalah bagaimana para ilmuwan masih belum bisa mencerna secara utuh pengertian tentang waktu. Manusia sudah terlanjur menerima bahwa waktu adalah seumpama sebuah garis. Seseorang hanya bisa menjalani waktu ke satu arah, tapi tidak bisa ke arah sebaliknya. Tapi berdasarkan eksperimen di level mikroskopis, perlu diterapkan pendekatan lain terhadap waktu.

Masih banyak detail teknis yang akan lebih menarik kalau pembaca menelusuri buku Stephen Hawking ini. Satu hal yang saya tarik, dan cukup menjadi sebuah a-ha moment adalah bahwa ilmu pasti itu sepenuhnya pasti. Apa yang dilakukan para ilmuwan adalah mereka terus mencari, berdasarkan ilmu yang sekarang sudah diketahui dan dipercayai berlaku, sambil terus menguji kebenarannya dan berusaha menemukan pengertian baru. Ada sesuatu yang dipertaruhkan ketika seorang mendasarkan project eksperimennya atas hasil pemikiran atau penemuan orang lain. Tapi itulah caranya sebuah ilmu bisa berkembang. Salut untuk para ilmuwan yang mendayagunakan anugerah kemampuan berpikir untuk mencari dan membawa kehidupan ke arah yang lebih baik.

…Cerita Seorang Mekanik…

Namaku Jørgen Rørtveit. Hari ini genap satu tahun aku bekerja sebagai mechanical technician di sini. Orang sering menyingkatnya menjadi mekanik. Sebagai bagian dari Maintenance Team, tugasku adalah men-support teman-teman di Dept. Operations agar aliran minyak dan gas mereka tidak pernah terhenti. Well, ya mungkin kadang terhenti, tapi tidak sampai terlalu sering.

Aku mengawali karirku sebagai kru kapal. Aku memulainya 40 tahun yang lalu, ketika aku berusia 16 tahun. Aku sudah mengitari bola bumi ini. Well, mungkin bukan mengitari, tapi menjelajah. Sebut saja Amerika Selatan, Terusan Suez, Laut Merah, sampai ke Australia. Oya, aku suka Australia. Buatku, orang-orang di sana sangat bersahabat. Aku jadi ingat waktu itu aku menumpang di rumah seorang ibu. Aku dan temanku pulang ke penginapan dalam keadaan setengah sadar. Pengaruh alkohol. Ibu itu mengurus kami bagai anak-anaknya sendiri. Pula, ia menagih biaya yang tidak terlalu mahal untuk penginapan kami. Aku juga pernah singgah di Singapura. Tahun 1986. Saat itu Kota Singapura sedang banyak proyek konstruksi di mana-mana. Sebagai tambahan, sebelas tahun aku bekerja di sebuah survey boat, bersama tim seismic yang bekerja memetakan isi perut bumi di dasar laut. Apa lagi yang mereka cari kalau bukan minyak.

Kini tiba kesempatanku untuk bekerja di oil company. Sudah dari dulu aku kepingin, tapi kecintaanku terhadap petualangan laut selalu membuatku menunda kepindahan profesiku. Sekarang aku bekerja untuk sebuah perusahaan Amerika yang beroperasi di negeriku. Perusahaan yang dari sejak tahun 70an telah menimba minyak dari Norwegia ini. Lima tahun yang lalu, mereka melakukan merging membentuk sebuah perusahaan raksasa. Dan sekarang diriku ada di sini.

EKO-M, itulah platformku. Setiap platform di sini dinamai dengan aksara seperti H, X, M, Q, dan J. Lengkapnya EKO-H, EKO-X, dan seterusnya. Beberapa platform dibangun tahun 1970an. EKO-M tempatku bekerja adalah platform yang paling muda, diinstall tahun 2000an. Platform-platform tadi dihubungkan dengan jembatan. Ada yang panjangnya 50 meter, 80 meter, sampai yang paling panjang yaitu jembatan dari J ke M: 125 meter. Setiap pagi, lunch time, dan malam aku harus berjalan dari sini menuju living quarter atau sebaliknya. Itu bisa memakan waktu 15 menit. Aku bermalam di Port Rigmar, sebuah barge yang disulap menjadi living quarter. Dengan 3 buah jack up legs, Port Rigmar berdiri di sebelah EKO-Q dan terhubungkan dengan sebuah jembatan kecil.

Kali ini job orderku adalah menginstall sebuah multiphase flow meter. Dengan diameter 5", panjang sekitar 1 meter, dan berat sekitar 300 kg, pekerjaan ini minimal memerlukan dua orang mekanik. Aku sedang menunggu kawanku mengambil belt yang akan digunakan untuk lifting equipment ini. Kesempatan ini kupakai untuk bercakap dengan seorang anak muda yang tampaknya bukan orang sini. Dari tampangnya, dia mesti berasal dari Asia. Kelihatannya sih dia seumuran dengan anakku yang sulung.

Dia bilang dia berasal dari Indonesia. Hmm, itu dekat dengan Australia. Aku jadi ingat lagi hari-hari penuh petualangan di sana. Satu saat aku ingin berlibur lagi ke sana.

Ah, jam 11.45. Waktunya makan siang. Waktunya untuk kembali berjalan melintasi 5 jembatan di antara platform-platform ini menuju Rigmar. Hari ini hari Minggu. Semoga ada menu spesial di kantin. Aku bisa membayangkannya dari sini. Pintu masuk depan, turun tangga, lepas coverall dan taruh di locker, naik tangga lain, cuci tangan, lalu menuju kantin. Selepas makan siang aku akan kembali ke processdeck sini untuk meneruskan pekerjaanku.

Tidak perlu terburu-buru. Semua harus dilakukan dengan safe.