…Me, Myself, and I…
Dari sekian banyak pilihan kegiatan, salah satu favorit saya adalah mengamati. Banyak hal yang bisa dipelajari dari mengamati sesuatu. Ini yang mendorong saya untuk memilih jurusan ilmu pasti sewaktu SMA dan kuliah dulu.
Tapi mengamati kan tidak hanya bisa dilakukan di bangku sekolah saja. Bangku di sudut cafe pun bisa jadi tempat yang kondusif untuk mengamati. Dari mulai mengamati trend mode pakaian, hairstyle, sampai menerka-nerka siapa yang sedang "pdkt" ke siapa di antara pasangan yang duduk di bangku sebelah. Ya. Manusia adalah mahluk yang menarik untuk diperhatikan.
Dari sekian banyak orang di sekitar kita, entitas yang paling dekat dengan diri kitalah yang seringnya luput dari perhatian. Dialah diri kita sendiri. Sebenarnya kalau mau ditelusuri lebih jauh, banyak hal menarik yang bisa ditemukan di dalam diri sendiri.
Salah satunya adalah kadar extrovertion/introvertion. Setiap orang memiliki kedua sisi tersebut dalam personalitynya. Orang-orang yang sisi extrovert-nya lebih kuat, untuk mudahnya kita sebut mereka extrovert. Demikian sebaliknya. Sedangkan orang-orang yang tidak tahu dengan pasti mereka termasuk yang mana, mari kita biarkan mereka kebingungan
Seorang extrovert selalu kelihatan energik, selalu siap bergerak, cepat memberikan respons, aktif. Seorang introvert lebih banyak memproses sesuatu dalam alam pikirannya sendiri, lebih terlihat pendiam, tenang, kadang terkesan tidak supportif terhadap tim.
Seorang extrovert tertarik akan keramaian, pesta, dikerubungi banyak orang, menjalani adventure, tidak suka sendirian terlalu lama, agak sulit fokus berdialog satu lawan satu. Seorang introvert lebih suka bergaul dengan sedikit orang tapi lebih intens, senang berdialog dengan pikirannya sendiri, punya memori yang baik tentang detail, agak tertekan kalau harus terlalu lama berada di keramaian, terlihat lebih pasif secara motorik.
Sisi mana yang lebih baik? Extrovert? Introvert? Keduanya baik dan bisa didayagunakan untuk mendukung kehidupan ke arah yang lebih baik. Masalahnya sekarang adalah bagaimana me-manage energy level diri sendiri sehingga kita selalu siap action.
Sebagai contoh, ada pasangan suami istri, extrovert dan introvert, yang diundang ke sebuah pesta. Sang suami begitu excited karena dia suka bertemu banyak orang dan menikmati keramaian. Sedangkan istrinya perlu "usaha" untuk bisa enjoy berada di dalam pesta itu. Hal menarik yang dilakukan sang istri adalah setiap kali dia merasa jenuh atau lelah karena keadaan, dia akan pergi ke toilet, menyendiri sebentar. Menyelami ketenangan. Mengamati warna-warni wallpaper dan pernak pernik toilet yang bagi dia adalah kegiatan menarik. Setelah beberapa menit, dia merasa siap lagi untuk terjun ke dunia extrovert. Dia akan melangkah dengan perasaan lebih nyaman, kembali ke sisi suaminya yang masih dikelilingi orang-orang dan asik ngobrol.
Hal serupa bisa diterapkan dalam diri kita sendiri. Entah kita lebih extrovert, atau lebih introvert, pasti ada caranya untuk membalance energi. Tubuh kita ini sudah dilengkapi dengan sensor-sensor yang akan memberi tahu bahwa diri kita perlu re-charge energy. Sebut saja contohnya rasa bosan, overwhelmed, rasa kesal, dll. Jika kemampuan membalance energy level ini kemudian dikombinasikan dengan keterampilan kita menyusun rencana dan aktivitas keseharian, niscaya kita akan selalu siap action untuk menjalani kehidupan, bahkan sambil meningkatkan kualitas hidup.
–Terinspirasi dari Introvert Advantage, How to Thrive in an Extrovert World (Marti Olsen Laney, Psy.D)–yang belum selesai dibaca.