…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for October 10th, 2007


…The Movie…

Dimana ambil kostumnya, Bang?, tanya Rahma

Tuh dipojokan sono. Entar elu ketemu sama si Dadang. Dia ahlinya dah soal baju. Udah gitu, langsung turun ke depan kamera. Jangan buang waktu lama-lama di kamar ganti!, sahut Bang Arja.

Ini adalah hari pertama Rahma memulai profesinya. Bidang baru yang mungkin akan mengubah kehidupannya selamanya. Dua tahun belakangan ini, Rahma bersama band-nya mengisi live music di kafe-kafe di Jalan Dago. Dua kali seminggu, kadang tiga kali. Jadwal yang terbilang terlalu padat. Belum lagi harus latihan lagu-lagu baru. Beruntung mereka punya Idang, yang jago ngulik gitar. Semua lagu di tangga top 40 dihajar semua sama dia dalam hitungan menit. Tapi sekarang semua itu sudah jadi masa lalu. Hari Jumat kemarin, Rahma menandatangani kontrak untuk main di film ini. Itulah alasan dia berada di tempat ini sekarang. Hari ini adalah hari pertama Rahma memulai pekerjaan baru sebagai pemain film. Terlalu dini untuk disebut bintang film, pikirnya. Tapi Rahma tidak bisa berbohong bahwa sebenarnya dalam hati kecilnya dia juga pingin jadi bintang.

Bang Arja adalah sang produser film merangkap sutradara. Usianya sudah lewat 50 tahun, tapi fisiknya masih tampang 40an. Rambutnya yang panjang tersisir dengan rapi, lengkap dengan kuncir di belakang. Dengan tinggi badan di atas rata-rata, wajahnya yang ganteng, dan postur tubuh yang atletis, beliau lebih cocok jadi bintang utama ketimbang sutradara. Setelan pakaiannya selalu pas dan elegan. Memancarkan karisma seorang artis senior. Tapi di luar semuanya itu, para pemain dan kru sering dibuat jengah oleh temperamen Bang Arja yang unik. Tidak terkecuali juga Rahma hari ini.

Oke Bang. Sayah siap nih. Mana yah skrip-nyah**?, Rahma bertanya, tak lupa menebar senyum

Oh, oke! Langsung aja elu ke sono, ke depan kamera noh. Jawabnya tanpa menoleh.

Bingung bercampur heran, Rahma mencoba mencari kejelasan.

Mmm, maap… Iyah tapi apa peran sayah? Apa yang mau saya kerjain di depan kamera kalo ngga tau skrip-nyah?

Bang Arja terusik oleh komentar Rahma ini, mengalihkan pandangannya sebentar dari PDA di tangannya ke wajah penuh kebingungan di hadapannya. Tapi tidak lama. Empat detik kemudian beliau kembali ke PDA sambil menyahut.

Kan udah gue bilang kemaren. Tugas elu di sini maen filem. Gua udah kasih tau elu, gua lagi bikin filem yang bakalan bikin gebrakan. Tanggung jawab elu adalah mendukung impian gua. Udah, sekarang sono ke depan kamera.

Maap, bukannya sayah ngga ngerti perintah Abang, tapi sayah bingung ajah, mau ngapain di depan kamera kalo sayah ngga tau skrip-nyah, Rahma masih belum terbebas dari kebingungannya.

Sekrap sekrip sekrap sekrip… Sekripnya ada di dalem kepala gua! Udah sono deh lu!, Bang Arja menjawab tanpa merasa ada yang salah dalam jawabannya.

Rahma masih bingung. Tapi dia memilih untuk menuruti Bang Arja. Paling tidak untuk kali ini, pikirnya dalam hati. Masa di hari pertama kerja udah dipecat, kan gak lucu.

Dia mulai melangkah menuju ke arah cameraman. Penuh konsentrasi dan juga agak berdebar. Kekonyolan apa lagi yang menunggu di depan kamera nanti?, pikirnya. Pokonya yahh, kalau itu cameraman sampe nyuruh yang macem-macem, gua quit!

Dialognya dengan pikirannya sendiri membuat Rahma tersentak ketika seseorang menyapa di sampingnya. Seorang wanita. Cantik juga. Dan, kayaknya cukup bersahabat kalau dilihat dari penampilannya.

Hai, sori ya aku ngagetin kamu. Nora. Sapanya sambil mengulurkan tangan

Eh engga apa-apa. Maap juga, tadi sayah lagi agak bingung jadi ngga merhatiin ada yang manggil. Sayah Rahma. Jawabnya sambil menyambut uluran tangan di sampingnya.

Hari pertama ya? Pasti lagi bingung deh :-)

He-eh, kok kamu tau? Dulu juga gituh yah?

Well, mungkin nggak se-ekstrim pengalaman kamu hari ini. Di hari pertamaku dulu, Bang Arja lagi hepi. Aku agak lebih beruntung :-)

Tapi, apa bener inih filem ngga ada skrip-nyah? Terus gimana jalan ceritanyah yah?

:-) Aku juga awalnya kaget. Bang Arja bilang, skripnya ada di dalam pikirannya. Tapi lama kelamaan, aku mulai ngerti gimana stylenya Bang Arja. Pada dasarnya dia baik kok. Bahkan jauuuuh lebih baik dari yang pernah aku duga.

Rahma menghela nafas panjang. Hmmf, rupanya kebingungan ini belum akan segera berakhir. Sekarang ditambah cerita Nora yang sangat berkebalikan dengan kenyataan yang dihadapinya.

Eh, liat ngga cowo ganteng yang di deket BMW hitam itu?

Iyah, siapa ya?

Itu Mas Prasetya. Dia bintang film kesayangannya Bang Arja lho. Itu BMWnya yang ke-4 yang dia beli tahun ini. Gila ya? Gak kebayang berapa gaji dia.

Haaaa??!!? Dia punya empat BMW? Engga salah, Norah?

Beneran. Semua pemain film di sini pada tau kok.

Waaah… Bisa kaya yah main filem teh?, Rahma tidak bisa menutupi rasa kagetnya. Secercah harap mulai muncul lagi di dalam hatinya. Rahma juga pingin jadi bintang film terkenal, pikirnya. Tapi, tentang skrip tadi, pertanyaannya masih belum terjawab.

Norah, terus gimana kita maen filemnya? Kan sekripnya engga dikasih.

Oh, itu :-) Itu kamu harus deketin Bang Arja. Kamu harus coba kenal dia lebih akrab. At least tahu sedikit latar belakang beliau, sifat-sifatnya, dan apa impian beliau ke depan dengan filem yang sedang digarapnya ini.

Gituh yah?

Mas Prasetya, misalnya, udah akrab sekali sama Bang Arja. Bahkan bisa dibilang, Mas Pras adalah orang yang paling ngertiin Bang Arja di antara kita-kita semua di sini.

Hmm

Mas Pras malahan bisa tau peran apa yang harus dia ambil dalam tiap scene. Dialog apa yang mesti dia ucapkan. Dan kapan dia harus bicara, atau sekedar duduk diam. Dan semua tindakannya selalu cocok dengan pikiran Bang Arja. Orang bilang, dia punya sambungan "Bluetooth" ke otaknya Bang Arja. Itu sebabnya Bang Arja care banget sama Mas Pras. Dan gak aneh Mas Pras dapet gaji paling besar dibanding kita-kita.

Aduh… Jadi kayanya mustahil deh sayah bisa ngelakuin itu

Jangan bilang mustahil. Percaya aja kamu bisa. Toh ini kan baru hari pertama. Dan pastinya semua itu nggak bisa kamu dapet dalam satu hari juga toh? Jadi ya kita jalanin aja dulu. Mmm. Pokonya sekarang kamu kan kenal aku. Jangan ragu cerita sama aku kalau kamu punya unek-unek atau pertanyaan tentang style pekerjaan di sini. Percaya deh, kalau kamu udah jalanin, kamu akan bisa nikmati perasaan yang sebelumnya kamu belum pernah rasa. Perasaan jadi seorang partner. Bukan sekedar pekerja. Perasaan bangga karena kamu juga punya peran dalam menentukan cerita film ini, bukan sekedar mengikuti skrip yang kaku. Perasaan bahwa kamu juga dilibatkan dalam berkreasi. Dan kamu juga punya peranan dalam memilih seberapa besar efek yang akan ditimbulkan dari kehadiran tokoh kamu di film ini ke dalam cerita keseluruhan.

Rahma terdiam. Tapi kata-kata Nora disimpannya baik-baik dalam hatinya. Mungkin ada benarnya, pikirnya. Terlalu banyak informasi yang Rahma dapatkan di hari pertama ini. Dia pun merasa lelah dan perlu beristirahat sebentar. Rahma pamitan dengan Nora, lalu menuju ke kafetaria. Secangkir kopi mungkin akan sedikit mencerahkan lagi pikirannya. Jalan masih panjang, gumamnya.

Secangkir cafe latte sudah di tangannya. Rahma mengambil tempat agak di sudut, tapi justru di sana dia bisa melihat sekeliling dengan lebih leluasa. Semua orang-orang ini. Aktor dan aktris. Kru film. Hairdresser. Kalau mereka semua bisa tahan berkarir sampai hari ini, kenapa aku nggak? Kalau mereka bisa bilang hidupnya bahagia, kenapa aku ngga bisa? Mungkin sekarang aku belum mengerti. Tapi satu saat nanti, mungkin aku akan mengerti. Mungkin satu saat aku akan berada di posisinya Mas Pras, jadi bintang kesayangan Mas Arja. Bukan cuma mungkin, tapi harusss!!

——————————-

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda mulai mempelajari dialog dan karakter yang Anda perankan dalam hidup ini? Supaya dialognya sesuai dengan keinginan Sang Sutradara dan tidak ngalor ngidul ke sana ke sini. Atau mungkin ada di antara Anda yang lupa bahwa kontrak itu sudah Anda tanda tangani di detik pertama Anda keluar dari rahim ibu? Pernahkah ada keinginan dalam diri Anda untuk bisa memerankan seorang tokoh yang jadi tokoh kebanggaan Sang Sutradara? Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin menarik untuk dipikirkan. :-)

——————————-

**Logat Bandung: terinspirasi dari novel-novel Aditya Mulya