…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for October 30th, 2007


…Backpacking to Paris…

Habis capek kerja, liburan lagi yukk. Kali ini yang jadi tujuan adalah kota yang *konon katanya* romantis. Tanpa ekspektasi yang terlalu muluk, apalagi sampai membiarkan diri terhanyut oleh mitos romantisme kota tua ini, berangkatlah saya ke sana. Penerbangan Stavanger-Paris cuma makan waktu 2 jam. Pantas aja cuaca di sana nggak terlalu beda jauh dengan di Stavanger, sering hujan dan terbilang dingin. Tapi beruntung di hari pertama masih sempat lihat langit biru cerah dan ambil foto-foto yang bagus.

Paris, kota yang kaya akan peninggalan bersejarah, memuaskan untuk para penikmat arsitektur bangunan. Juga bagi para pecinta seni. Walaupun saya bukan seorang fanatik pecinta seni rupa, diakui tanpa perlu ilmu yang tinggi-tinggi pun banyak karya seni lukisan dan patung/ukiran yang bisa segera dinikmati keindahannya. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya pingin bilang bahwa ada beberapa kelakuan dari para pengunjung museum yang terkesan kampungan. Yang paling tampak jelas adalah desak-desakan manusia di depan lukisan Monalisa, di mana orang berebut pingin difoto dengan latar belakang lukisan maha terkenal itu. Petugas penjaga di sana dibuat kewalahan untuk menertibkan. But.. that’s a part of the show. Jadi saya nikmati aja sambil tersenyum.

Hal lain yang menarik buat saya adalah koleksi pakaian baju perang para ksatria (armor) yang dipajang di museum militer. Karena sejak dulu saya suka dengan kisah-kisah ksatria berbaju besi Eropa, pengalaman untuk melihat sendiri benda peninggalan jaman itu memberikan kesan tersendiri. Walaupun sekarang ini kekaguman saya cukup berkurang secara signifikan, karena keberadaan baju perang itu berkaitan dengan kenyataan pahit bahwa pada jaman itu orang berperang demi agama atau dengan memakai agama sebagai justifikasi.

Yang lainnya yang berkesan buat saya adalah kesempatan bertemu dengan orang-orang yang travelling dari macam-macam negara, yang banyaknya masih muda-muda. Dari mereka juga kadang timbul inspirasi untuk mengunjungi satu tempat yang konon wajib dikunjungi. Sebagai tambahan, saya juga mendapatkan cerita tentang situasi di negara-negara tempat para traveller itu berasal. Sebagai tambahan lain, mereka juga kadang tidak terlalu sungkan menceritakan kisah pribadi mereka.

Menarik. Tidur di hostel di mana satu kamar berisi 4 tempat tidur. Dua tempat tidur bertingkat dua. Tiap malam, atau dua malam sekali, penghuninya berganti, karena ada yang pergi dan ada yang lain datang menggantikan. Di sana saya bertukar cerita dengan mereka. Sebut saja kawan asal Brasil ini yang mengaku penikmat marijuana. Atau Chris, anak muda dari Melbourne yang entah bagaimana ceritanya bisa kehabisan duit di Paris. Jadi tiap pagi Chris ini menyelusup ke hostel untuk menikmati sarapan gratis. Malamnya, katanya dia tidur di rumah sakit. Tenang, katanya, nanti hari senin juga mama bakal kirim uang. Rada gila, pikir saya.

Atau Kristin, asal dari Hongkong yang sangat menonjol perilaku spiritualnya. Sangat jelas dari caranya yang bersemangat ketika dia menceritakan pengalamannya ketika dia mulai senang beribadah. Juga saya bisa melihat betapa antusiasnya dia mendengarkan ketika saya balik bercerita tentang pengalaman spiritual saya. Ada lagi sepasang muda-mudi asal Australia yang nginap di kamar yang sama dengan saya. Yang cukup menakjubkan adalah mereka sepakat untuk berbagi bed space yang lebarnya paling banter 60-70 cm. Untuk saya seorang saja rasanya itu terlalu sempit. Curious bahwa mereka punya satu rencana tertentu, saya pun pura-pura tidur dan dengan sabar menunggu suara-suara yang diharapkan. Tapi sampai saya ketiduran, suara-suara yang ditunggu tidak kunjung terdengar. Ya sudahlah, mungkin belum rejeki.

Berbeda dengan pendapat sebagian orang yang menyebutkan orang-orang di Paris arogan atau kurang friendly, saya malah berpendapat sebaliknya. Saya masih banyak menemukan orang yang mau dengan senang hati menolong atau menjelaskan arah buat saya. Perkara mereka tidak fasih berbahasa Inggris, saya pikir itu tidak ada hubungannya dengan friendly atau tidak friendly. Ya, mereka memberikan impression yang baik di mata saya.