…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for November, 2007


…Belajar “Mendengarkan” dari Sahabat…

Sebuah komunikasi selalu melibatkan dua aktivitas ini: berbicara dan mendengarkan. Keduanya sulit. Diperlukan latihan untuk mempertajam kemampuan berbicara maupun mendengarkan.

Untuk berbicara, seseorang minimal perlu tahu kosakata yang akan dipergunakan untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya. Bahasa verbal. Semakin spesifik topik pembicaraan, semakin spesifik pula vocabulary yang dipergunakan. Lain suasana, lain pula gaya berbicara. Berbicara di dalam pengadilan tentu berbeda dari berbicara di warung nasi. Sekilas terkesan berbicara di warung nasi akan lebih mudah. Tapi, siapa bilang? Tetap saja ada kasus orang berkelahi bahkan sampai bunuh-bunuhan karena salah bicara.

Di sisi lain, mendengarkan tampaknya lebih mudah dilakukan. Pasang saja telinga. Biarkan lawan bicara kita mengeluarkan kata-kata. Habis perkara. Tapi apakah cukup sampai di situ?

Sebutlah nama seorang sahabat yang sangat mengerti Anda. Kenapa dia menjadi sahabat Anda? Saya percaya salah satu alasan yang paling kuat adalah karena dia mau mendengarkan Anda. Tapi apa sih definisi sahabat? Mungkin setiap orang punya pengertian yang berbeda tentang arti kata sahabat ini. Buat saya, seorang sahabat adalah seseorang yang dengannya saya bisa berbagi cerita, terutama tentang sisi gelap kehidupan saya. Orang yang dengannya saya bisa bercerita tentang kebodohan saya, tentang kesalahan pengambilan keputusan, tentang pergumulan dengan dosa, tentang sifat jelek saya, tentang kekhawatiran, tentang mimpi saya yang bahkan bagi saya sendiri mungkin terlalu tinggi. Seseorang yang bisa mendengarkan cerita Anda tentang apa saja. Seseorang yang memperkuat spirit Anda. Anda berani bercerita tentang apa saja dan tidak takut kehilangan dia sebagai sahabat.

Saya tahu tidak mudah bagi kita untuk mengambil keputusan untuk menceritakan sisi negatif dari diri kita. Ini disebabkan kekhawatiran kita untuk mendapatkan respons yang malah akan menghancurkan diri kita. Cemooh. Celaan. Digoblok-goblok. Atau sekedar dijauhi dan dihindari. Kita tidak ingin hal itu terjadi. Dan seringnya kita jadi memilih sisi aman untuk tidak bercerita atau berbagi kehidupan kita dengan orang lain.

Kembali ke bahasan tentang komunikasi, ada banyak panduan praktis yang mengajarkan bagaimana menjadi seorang pendengar yang baik. Maintain eye contact. Menyampaikan kembali apa yang disampaikan lawan bicara dalam kalimat lain. Sikap duduk yang menunjukkan rasa ketertarikan. Dan sebagainya. Sebenarnya semuanya itu terangkum dengan lengkap dalam sikap yang diambil oleh sahabat Anda ketika Anda bercerita kepada dia. Kalau saja Anda bisa menayang ulang situasinya, Anda bisa belajar dari sahabat Anda bagaimana caranya menjadi seorang pendengar.

Kemampuan berkomunikasi adalah skill set penting yang akan membawa kebahagiaan dalam kehidupan kita. Tidak pernah ada kata terlambat untuk peduli tentang itu.

…Belajar “Mendengarkan” dari Sahabat…

Sebuah komunikasi selalu melibatkan dua aktivitas ini: berbicara dan mendengarkan. Keduanya sulit. Diperlukan latihan untuk mempertajam kemampuan berbicara maupun mendengarkan.

Untuk berbicara, seseorang minimal perlu tahu kosakata yang akan dipergunakan untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya. Bahasa verbal. Semakin spesifik topik pembicaraan, semakin spesifik pula vocabulary yang dipergunakan. Lain suasana, lain pula gaya berbicara. Berbicara di dalam pengadilan tentu berbeda dari berbicara di warung nasi. Sekilas terkesan berbicara di warung nasi akan lebih mudah. Tapi, siapa bilang? Tetap saja ada kasus orang berkelahi bahkan sampai bunuh-bunuhan karena salah bicara.

Di sisi lain, mendengarkan tampaknya lebih mudah dilakukan. Pasang saja telinga. Biarkan lawan bicara kita mengeluarkan kata-kata. Habis perkara. Tapi apakah cukup sampai di situ?

Sebutlah nama seorang sahabat yang sangat mengerti Anda. Kenapa dia menjadi sahabat Anda? Saya percaya salah satu alasan yang paling kuat adalah karena dia mau mendengarkan Anda. Tapi apa sih definisi sahabat? Mungkin setiap orang punya pengertian yang berbeda tentang arti kata sahabat ini. Buat saya, seorang sahabat adalah seseorang yang dengannya saya bisa berbagi cerita, terutama tentang sisi gelap kehidupan saya. Orang yang dengannya saya bisa bercerita tentang kebodohan saya, tentang kesalahan pengambilan keputusan, tentang pergumulan dengan dosa, tentang sifat jelek saya, tentang kekhawatiran, tentang mimpi saya yang bahkan bagi saya sendiri mungkin terlalu tinggi. Seseorang yang bisa mendengarkan cerita Anda tentang apa saja. Seseorang yang memperkuat spirit Anda. Anda berani bercerita tentang apa saja dan tidak takut kehilangan dia sebagai sahabat.

Saya tahu tidak mudah bagi kita untuk mengambil keputusan untuk menceritakan sisi negatif dari diri kita. Ini disebabkan kekhawatiran kita untuk mendapatkan respons yang malah akan menghancurkan diri kita. Cemooh. Celaan. Digoblok-goblok. Atau sekedar dijauhi dan dihindari. Kita tidak ingin hal itu terjadi. Dan seringnya kita jadi memilih sisi aman untuk tidak bercerita atau berbagi kehidupan kita dengan orang lain.

Kembali ke bahasan tentang komunikasi, ada banyak panduan praktis yang mengajarkan bagaimana menjadi seorang pendengar yang baik. Maintain eye contact. Menyampaikan kembali apa yang disampaikan lawan bicara dalam kalimat lain. Sikap duduk yang menunjukkan rasa ketertarikan. Dan sebagainya. Sebenarnya semuanya itu terangkum dengan lengkap dalam sikap yang diambil oleh sahabat Anda ketika Anda bercerita kepada dia. Kalau saja Anda bisa menayang ulang situasinya, Anda bisa belajar dari sahabat Anda bagaimana caranya menjadi seorang pendengar.

Kemampuan berkomunikasi adalah skill set penting yang akan membawa kebahagiaan dalam kehidupan kita. Tidak pernah ada kata terlambat untuk peduli tentang itu.

…Belajar “Mendengarkan” dari Sahabat…

Sebuah komunikasi selalu melibatkan dua aktivitas ini: berbicara dan mendengarkan. Keduanya sulit. Diperlukan latihan untuk mempertajam kemampuan berbicara maupun mendengarkan.

Untuk berbicara, seseorang minimal perlu tahu kosakata yang akan dipergunakan untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya. Bahasa verbal. Semakin spesifik topik pembicaraan, semakin spesifik pula vocabulary yang dipergunakan. Lain suasana, lain pula gaya berbicara. Berbicara di dalam pengadilan tentu berbeda dari berbicara di warung nasi. Sekilas terkesan berbicara di warung nasi akan lebih mudah. Tapi, siapa bilang? Tetap saja ada kasus orang berkelahi bahkan sampai bunuh-bunuhan karena salah bicara.

Di sisi lain, mendengarkan tampaknya lebih mudah dilakukan. Pasang saja telinga. Biarkan lawan bicara kita mengeluarkan kata-kata. Habis perkara. Tapi apakah cukup sampai di situ?

Sebutlah nama seorang sahabat yang sangat mengerti Anda. Kenapa dia menjadi sahabat Anda? Saya percaya salah satu alasan yang paling kuat adalah karena dia mau mendengarkan Anda. Tapi apa sih definisi sahabat? Mungkin setiap orang punya pengertian yang berbeda tentang arti kata sahabat ini. Buat saya, seorang sahabat adalah seseorang yang dengannya saya bisa berbagi cerita, terutama tentang sisi gelap kehidupan saya. Orang yang dengannya saya bisa bercerita tentang kebodohan saya, tentang kesalahan pengambilan keputusan, tentang pergumulan dengan dosa, tentang sifat jelek saya, tentang kekhawatiran, tentang mimpi saya yang bahkan bagi saya sendiri mungkin terlalu tinggi. Seseorang yang bisa mendengarkan cerita Anda tentang apa saja. Seseorang yang memperkuat spirit Anda. Anda berani bercerita tentang apa saja dan tidak takut kehilangan dia sebagai sahabat.

Saya tahu tidak mudah bagi kita untuk mengambil keputusan untuk menceritakan sisi negatif dari diri kita. Ini disebabkan kekhawatiran kita untuk mendapatkan respons yang malah akan menghancurkan diri kita. Cemooh. Celaan. Digoblok-goblok. Atau sekedar dijauhi dan dihindari. Kita tidak ingin hal itu terjadi. Dan seringnya kita jadi memilih sisi aman untuk tidak bercerita atau berbagi kehidupan kita dengan orang lain.

Kembali ke bahasan tentang komunikasi, ada banyak panduan praktis yang mengajarkan bagaimana menjadi seorang pendengar yang baik. Maintain eye contact. Menyampaikan kembali apa yang disampaikan lawan bicara dalam kalimat lain. Sikap duduk yang menunjukkan rasa ketertarikan. Dan sebagainya. Sebenarnya semuanya itu terangkum dengan lengkap dalam sikap yang diambil oleh sahabat Anda ketika Anda bercerita kepada dia. Kalau saja Anda bisa menayang ulang situasinya, Anda bisa belajar dari sahabat Anda bagaimana caranya menjadi seorang pendengar.

Kemampuan berkomunikasi adalah skill set penting yang akan membawa kebahagiaan dalam kehidupan kita. Tidak pernah ada kata terlambat untuk peduli tentang itu.