…Caramel Macchiato…
"Caramel macchiato yang dingin, caramel syrupnya boleh minta banyakan yah..", tawar Sheila ketika memesan kopi kesukaannya. Siapa yang tega untuk pelit kalau mendapatkan senyuman manis yang tulus seperti yang baru saja menghias wajah ayunya. Sheila sering mampir ke kedai kopi ini. Tempatnya tidak terlalu besar, tapi penataan interiornya selalu menyuguhkan kenyamanan. Harumnya aroma kopi, tata cahaya yang lembut, sofa yang empuk, dan tentu pilihan musik yang mood-recharging, semuanya membentuk paduan yang pas untuk seorang Sheila melewatkan sorenya di sela kesibukan kerjanya.
"Caramel macchiato grande", suara di balik bar.
"Ma kasih"…ketika Sheila membalikkan badan, kopinya tersenggol. "Oops… yaah!" Tepat sebelum ia kehilangan pegangannya, ada tangan yang datang menyelamatkan.
"Sori… Harusnya aku berdiri agak lebih ke samping sana. Kamu ngga apa-apa?", tanya sebuah suara. Seorang lelaki yang sepantaran dengannya berdiri di depannya. Tangannya membantu memegang cangkir kopi yang hampir saja tumpah tadi.
"Ngga apa-apa. Aku yang salah tadi langsung ngebalik gitu aja, ngga liat dulu", Sheila menjawab. Kagetnya belum sepenuhnya hilang. Tapi senyumnya tetap mempesona.
Senyum dibalas senyum.
"Ma kasih. Biar kopinya aku bawa sekarang"
"Oh, iya. Sori", terpana oleh sosok di hadapannya, tangan pemuda ini seolah enggan melepaskan cangkir kopi yang bukan miliknya.
Sheila mengambil tempat di samping jendela besar. Dikeluarkannya kertas-kertas partitur lagu yang akan dia ajarkan ke salah satu muridnya malam nanti. S’Wonderful - judul lagunya. Ada beberapa chord yang perlu di-"modifikasi" supaya murid lesnya nanti tidak kewalahan.
Sebuah suara membuyarkan konsentrasi.
"Hai… Boleh duduk di sini? Aku ngga dapat tempat yang kosong"
Pemuda yang tadi.
"Oh iya, boleh", jawabnya sambil menggeser partitur-partitur tadi untuk memberi ruang bagi cangkir kopi yang lain.
"Kamu suka Diana Krall ya?"
"Hmm???… Oh.. Ini.. Iya"
"Aku suka sekali Diana Krall. Albumnya yang Live in Paris, aku ngga pernah bosan dengerinnya. Belum kesampaian ke Parisnya, yah dengerin albumnya dulu deh… :-)", selorohnya ramah.
"Iya.. Live in Paris bagus.."
"Aku Aryo, by the way.."
"Sheila…"
"Sheila punya band sendiri? Mau ada performance di mana?"
"Oh, engga.. Ini buat bahan les nanti. Muridku pingin mulai mainin lagu yang agak serius. Aku ngasih les piano"
"Kedengerannya menarik.
Spesial ngajar jazz piano?"
"Kadang jazz, kadang classic. Tapi aku lebih suka jazz. Kesannya lebih liberal dan engga kaku. Aku cepet bosan lagu-lagu klasik"
"Aku juga lebih suka jazz. Istilahnya ngga ada lagu yang bener-bener identik kalau di musik jazz. Maksudnya, katakan seorang pemain piano mainin lagu Sway. Kalau dia disuruh ulang lagi lagu itu dari awal, terutama pas live performance, pasti ada yang beda. Ngga akan tepat sama dengan lagu yang pertama. Entah pemilihan chordnya, entah melodinya, pokonya pasti ada variasi"
"Iya..
Kalau musik klasik kan lain lagi. Semua harus sesuai aturan. Titik koma semua harus dimainin tepat kaya yang tercetak di partitur", jawab Sheila. "Aryo seneng musik juga? Mainin alat musik apa?"
"Aku sih penikmat aja
Sempat pingin ambil sekolah musik waktu mau kuliah dulu. Aku dapat jalan yang lain, jadi tukang insinyur. Jadi sekarang, bukannya mainan senar gitar, aku malahan mainan kabel listrik
Tapi aku suka sekali dengerin musik. Kalau malam-malam di lapangan kan sepi. Jadi aku punya banyak waktu luang. Aku habiskan buat baca, dan seringnya sambil dengerin musik"
"Lulusan elektro ya? Kalau aku paling takut sama kabel. Apalagi sama yang namanya listrik. Kesannya berbahaya gitu"
"Iya bener, memang berbahaya
Tapi untunglah para tukang insinyur pendahulu kita udah nyiapin prosedur dan aturan buat main-main dengan listrik. Jadi tingkat bahayanya bisa dikontrol
Tapi tenang… Aku udah subscribe insurence kok :-)"
"Ah hahaha..
Tapi kan uangnya ngga bisa Aryo nikmatin? Percuma dong? :-)"
"Ga masalah.. Aku udah janjian sama adekku - dia kan ahli warisku - pokoknya kalau dia sampai dapet uang insurence itu, dia harus transfer ke rekeningku di surga :-)"
"Hi hi hi
kasian dong adeknya, udah dapet uang harus dibalikkin lagi. Kan Aryo bisa lamar-lamar lagi kerjaan jadi tukang insinyur di sana. Atau mencoba beralih profesi ke bidang lain mungkin?
Ah, kita jangan ngelantur ah :-)"
"Ha ha..
Aku semakin yakin sekarang bahwa yang namanya pemusik itu pasti smart
O iya..! Dia Diana Krall mau dateng bulan depan kan? Sheila bakal nonton dong?"
"Iya. Aku belum tau nih. Pengennya nonton bareng kakak. Tapi dia lagi sibuk buat defense PhDnya."
"Hmm.. Tau engga, kebetulan aku dikasih tiket gratis sama temenku yang kerja di Javamusikindo. Aku belum punya temen buat nonton. Temen-temen hang out-ku kurang pada terdidik untuk soal menikmati musik. Mereka mah maunya suaranya aja yang kenceng dan menghentak. Kita nonton barengan aja nanti?"
"Wah, assiikkk.. Tapi Sheila ngga enak, kan harga tiketnya mahal…"
"Kan aku dapetnya gratis..
Ngga bayar sepeserpun"
"Tapi tetep aja Sheilanya ngga enak. Kan masalahnya gimana, gitu.."
"Hmm.. Gini aja..
Gimana kalau kamu sekarang beliin aku kopi dan sandwich? Anggap aja itu pengganti tiket Diana Krall. Then, kita sama-sama happy.. :-)"
"Umm… Not a bad idea
Okey deh.. Tunggu yah, aku pesanin kopi dan sandwichnya. Mau kopi apa?"
"Sama kaya yang kamu pesen deh. Tapi yang panas. Thanks yah :-)"
Sheila beranjak ke arah bar untuk memesan kopi dan sandwich. Aryo bersandar di sofa, menikmati alunan musik riang yang bergejolak di dalam hatinya. Akankah ini menjadi sebuah awal dari cerita yang tak akan pernah berakhir? Akankah dua melodi menyatu menjadi sebuah lagu? Terlalu dini untuk mengharapkan jawaban. Biarlah waktu yang akan memberikan jawaban.