…Pentingnya Spesialisasi…
-Celebrating a hundred blog posts-
Menjadi tukang angkat-angkat barang sepintas terkesan bukanlah pekerjaan yang sulit. Mungkin agak sulit kalau barang yang mau diangkat itu bobotnya lebih berat dari usaha yang bisa dilakukan badan manusia (W=F.s, inga2 fisika, he he). Tapi manusia ngga kurang cerdas. Dibuatlah yang namanya crane. Singkatnya dengan menerapkan beberapa prinsip mekanika-fisika, seorang crane operator bisa mengangkat beban berton-ton dan memindahkannya ke lokasi lain.
Saya belum pernah masuk ke dalam crane operator cabin. Tapi saya bisa bayangkan minimal ada beberapa alat pengendali, buat mengangkat/menurunkan, dan juga buat mengarahkan gerakan. Tentu diperlukan pelatihan tersendiri bagi seseorang supaya bisa mengendalikan sebuah crane.
Di tengah laut, tingkat kesulitan pengendalian crane jadi bertambah. Sore ini saya beruntung bisa ngintip sedikit bagaimana seorang crane operator harus begitu terampilnya memindahkan, mengarahkan, dan menaruh container dari atas platform deck ke geladak kapal. Dan ombaknya hari ini ngga main-main. Kalau lagi pas kena satu gelombang penuh, kapalnya bisa turun naik 3 meter. Tentunya gerakan vertikal ini menambah kesulitan buat sang crane operator untuk menaruh objek yang diangkatnya di atas kapal yang terombang ambing ombak. Harus menunggu, melihat situasi, sabar, ulur sedikit, tarik lagi, tahan, ulur, tahan lagi, dan lalu jatuhkan (tentu bukan dari ketinggian 2 meter jatuhinnya).
Hari ini ada 3 container yang dipindahkan dari platform ke kapal. Container berukuran 2×1x2 (pxlxt). Dan ada satu yang berukuran dua kali lebih besar. Hebatnya sang crane operator ini bukan cuma berhasil menempatkan container di atas kapal dengan mulus (tanpa harus membanting), tapi juga bisa menyusun dengan rapi.
Selesai menyaksikan adegan ini, saya mencari orang yang mengoperasikan crane tadi. Kurang beruntung, rupanya orangnya ada di tempat lain. Tapi, ada orang lain dengan profesi serupa di sini. Kebetulan beliau sedang coffee break. Jadi saya wawancaralah dia.
Katanya semua itu dilakukan tanpa berkomunikasi dengan orang di atas kapal. Jadi dia melakukan pekerjaannya sendirian. Mengamati gelombang laut, memperhatikan gerakan naik turunnya kapal, dan mengambil keputusan sendiri kapan harus menurunkan objek yang diangkatnya atau kapan harus menunggu. Luar biasa!, pikir saya. Untuk barang seberat minimal 200 kg, tidak mudah untuk memindahkannya dari ketinggian 50 meter di atas laut ke atas kapal yang bergerak 3 meter naik turun mengikuti gelombang. Salah perhitungan sedikit, dia bisa merusak kapal, atau container dan isinya.
Di antara seratus orang di platform ini, hanya ada 3 orang crane operator. Sembilan puluh tujuh sisanya, tidak usah ditanya, kemungkinan besar tidak akan bisa melakukan tugas tadi. Spesialisasi, itu yang membuat crane operator ada di sini. Mungkin mereka mengerti soal listrik, atau ekonomi, atau psikologi, tapi bukan itu yang membuat mereka ada di sini. Mereka ada di sini karena mereka bisa mengoperasikan crane.
Keingintahuan tentang banyak hal sering membuat saya tidak terlalu semangat untuk menjadi seorang spesialis. Mungkin di sisi lain keingintahuan itu ada baiknya. Tapi di saat ini, saya diingatkan bahwa menjadi seorang spesialis itu penting.
"Orang memerlukan Anda bukan karena Anda sama dengan orang lain, melainkan karena Anda berbeda. Itu yang membuat Anda tidak tergantikan oleh orang lain" - Robb Thompson