…A 3 Phase Fluid Human…
—Melewatkan pagi hari ditemani secangkir cappuccino bisa menjadi sebuah momen yang memberi inspirasi.—
Fisika dan Manusia
Dalam pelajaran fisika kita pernah diperkenalkan bahwa suatu zat bisa berada dalam wujud yang berbeda. Istilah ilmiahnya adalah fase. Katakanlah air. Air bisa berwujud cairan, bisa berupa es, atau uap. Liquid, solid, atau gas. Kita tahu air membeku menjadi es pada 0 C. Air mendidih dan menjadi uap pada 100 C. Dalam pelajaran fisika yang lebih advance, diperkenalkan bahwa titik beku dan titik uap ini dipengaruhi oleh tekanan. Katakanlah ada pabrik yang memproduksi sebuah ban mobil raksasa. Lalu ban itu diisi udara sampai jadi keras sama seperti ban mobil pada umumnya. Jika sekarang kita panaskan satu baskom air di dalam ban raksasa tadi, airnya tidak akan mendidih pada 100 C lagi. Anyway, Anda bisa tanyakan ke kawan atau teman Anda yang paham hal-hal beginian jika Anda tertarik akan detailnya.
Ketika saya pikir-pikir, keberadaan kita sebagai manusia sebenarnya bisa dianalogikan dengan fase-fase ini. Ada waktunya seorang harus solid tentang apa yang dipercayainya, yang bisa berupa iman, ideologi, filosofi, cara hidup, atau apapun namanya. Orang lain bisa melihat wujudnya yang outstanding, merasakan kerasnya batas antara dirinya dengan dunia luar. Ada saatnya seorang menjadi liquid. Dia begitu fleksibel mengikuti bentuk cangkir yang ditempatinya. Mengisi celah-celah kosong. Mungkin memberi kesegaran untuk yang haus. Atau menghangatkan seperti sebuah kolam air hangat. Ada kalanya juga seorang berada dalam wujud gas. Orang lain tidak melihat atau merasakan dia ada di sana. Tapi dia ada di sana. Ada waktunya dia menjadi angin sepoi yang menyejukkan, ada kalanya dia menjadi angin yang berhembus kuat mengusir daun-daun kering, debu, dan kotoran.
Yang menarik adalah kenyataan bahwa sebuah substance tidak bisa lari dari hukum alam yang mengatur kapan dirinya akan berubah wujud. Ada macam-macam Physical Properties Table di pasaran, semuanya akan menyebutkan titik beku air adalah 0 C pada 1 atm. Mau tidak mau, air patuh akan hukum itu. Dia tidak bisa menjadi es seenak maunya. Tapi manusia bisa punya kebebasan itu. Dia bisa memilih kapan waktunya dia menjadi solid, atau kapan waktunya dia menjadi liquid dan membiarkan dirinya mengikuti bentuk lingkungan sekitarnya. Manusia bisa memilih. Walaupun pada kenyataannya justru kebebasan memilih ini malah mendatangkan masalah baru, yaitu bingung kapan waktunya berubah wujud, harus jadi wujud apa sekarang, seberapa kuat tiupan yang harus diberikan, atau seberapa hangat kolam air panas ini seharusnya.
A 3 Phase Fluid Human
Dengan menjadi solid kita bisa melihat batas yang jelas antara diri kita dengan dunia luar atau dengan orang lain. Kita bisa mempunyai cengkeraman yang kuat. Dengan demikian, kita juga bisa memberikan kesempatan untuk orang lain mengagumi bentuk kita. Dan kemudian mengagumi Sang Pencipta. (Mari kita ingat-ingat, rasanya tidak ada lukisan terkenal atau patung terkenal yang berupa liquid atau gas).
Dalam wujud liquid kita bisa dengan mudah masuk ke dalam lingkungan yang baru. Kita bisa mengalir di atas permukaan yang bentuknya semrawut sekalipun. Kita bisa membersihkan luka. Kita bisa menyejukkan jiwa.
Dalam wujud gas kita bisa masuk dalam dunia orang milik orang lain tanpa harus mengusik dia. Kita bisa melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Kita bisa mencoba merasakan apa yang dia rasa, atau sekedar menelusur jalan pikirannya. Dalam wujud gas juga kita bisa meniupkan angin sepoi yang menyejukkan. Atau ketika diperlukan, memberikan tiupan dashyat untuk menyadarkan seseorang.
Now… You are a 3 phase fluid human J
December 29th, 2007 at 11:34 pm
hah…