…Sweet Florence…
Donny kembali melirik jam tangannya. Jam 16.56. Sial, kenapa hari ini macet sekali? Untuk ukuran kota semungil Florence, mestinya lalu lintas tidak akan begitu lambatnya seperti sekarang ini. Setelah menimbang-nimbang sejenak, dia memutuskan untuk turun di halte bis selanjutnya. Lalu dari situ dia akan berjalan kaki ke Piazza Michaelangelo. Dia bisa menghemat waktu lebih banyak. Dan dengan berjalan kaki, ia bisa menikmati panorama di sepanjang sisi Sungai Arno. Ya. Pilihan yang bijaksana. Mengingat bahwa sebentar lagi Donny akan menemui Sofia. Donny tidak ingin menemui Sofia dengan perasaan dongkol akibat macet. Mereka janjian bertemu untuk ngobrol dan menikmati kopi. Ada kafe kecil yang tidak terlalu gaduh di bukit di puncak Piazza Michaelangelo. Sofia suka tempat itu. Alasannya, selain karena kopi mereka enak, orang bisa mengobrol dengan nyaman di sana tanpa perlu mengencangkan volume suara melawan musik seperti di kebanyakan kafe lain yang gaduh. Donny melirik lagi jamnya. 17.03. Dia turun dari bis. Dia hitung, lima belas menit lagi dia akan sampai di kafe favorit Sofia.
Donny, yang nama lengkapnya Dionisius Aryo Pratomo, adalah seorang mahasiswa. Kuliah S1-nya dia selesaikan delapan tahun yang lalu. Dia sempat bekerja di tiga perusahaan yang berlainan bidang. Dua di negara asalnya, sedang yang satu di Belanda. Tahun lalu dia memutuskan untuk sementara waktu berhenti bekerja dan mengambil pendidikan lanjutan master degree. Florence menjadi pilihan pertamanya. Saat pertama kali dia berkunjung ke sana, dia langsung jatuh cinta dengan kota itu. Arsitekturnya yang indah, orang-orangnya yang ramah dan hangat, makanannya yang enak-enak. Beruntung dia menemukan sebuah universitas yang menyediakan program studi yang ingin dipelajarinya. Dan yang paling dia suka: memandang kota sembari menikmati matahari terbenam dari bukit di puncak Piazza Michaelangelo. Sebuah pemandangan yang fantastis, bahkan dalam cuaca yang paling mendung sekalipun.
Donny berjalan menaiki tangga raksasa yang akan mengantarnya ke bukit. Sebentar lagi dia akan sampai di sana. Pikirannya melayang ke pertemuan pertamanya dengan Sofia Constanza. Di kafe yang sama. Sofia berasal dari Barcelona. Saat ini dia sedang mengambil studi lanjutan di Florence. Usianya dua puluh empat tahun. Donny kagum akan sifat dewasa yang ditunjukkan oleh Sofia. Apalagi jika dikaitkan dengan usia Sofia, Donny bisa bilang bahwa Sofia lebih dewasa dan bijaksana dibanding para wanita seusianya yang pernah Donny kenal. Itu sebabnya Donny senang sekali waktu Sofia mengiriminya SMS dan mengajaknya minum kopi.
Tujuh menit sudah berlalu. Donny sedang asyik menikmati panorama sore kota Florence. Duomo yang megah dikelilingi oleh bangunan-bangunan lain yang lebih kecil dan jembatan tua di depan Uffizi tidak pernah membuatnya bosan. Sore yang cerah, tidak ada pertanda akan turun hujan. Angin bertiup lembut. Temperatur di kisaran 22-23 celsius. Sempurna! Handphonenya berdering. Pasti Sofia. Yepp! Ditekannya tombol "answer".
"Hai Sofia."
"Hallo Donny.. Kamu udah sampai? Aku udah di atas nih", suara Sofia.
"Iya, aku lagi nikmatin pemandangan kota nih. Lagi duduk di tangga yang paling kiri. Kamu di sebelah mana? Aku ngga liat kamu", jawab Donny sembari beranjak berdiri.
"Oh, sebentar… aku ke situ deh. Aku sekarang di dekat Patung David. Aku ke situ ya? Kamu tunggu aja.. Oh.. Itu kamu! Pakai kaos tangan panjang warna coklat kan?", tanya Sofia dengan nada cerianya.
"Iya.. Okey, aku juga lihat kamu.. Eh, jangan dadah dadah gitu.. Nanti banyak orang yang liatin loh..", gurau Donny.
"Hahaha, biarin aja. Kan setiap manusia punya hak untuk dilihat dan melihat..", jawab Sofia, "Udah ya.. Aku ke situ."
Sofia menutup telefonnya. Dia berjalan ke arah Donny. Donny memandang langkah demi langkah Sofia. Rambutnya yang sebahu tergerai cantik. Sofia selalu berdandan dengan sederhana. Tapi dia selalu tampil cantik. Pakaian yang dipilihnya selalu tampak pas untuk dia kenakan. Kepribadiannya yang cerdas bisa terlihat dari setelan yang dipilihnya hari ini. Sofia semakin dekat.
"Hai..! Apa kabar hari ini?", tanya Sofia, sambil melemparkan tangannya ke bahu Donny. Dia memeluk Donny dengan erat.
"Baik.. Kamu apa kabar?", tanya Donny. Sofia masih belum melepaskan peluknya. Baru setelah dua detik kemudian..
"Baik juga.. Gimana kuliah kamu hari ini, sibuk?", Sofia ganti bertanya.
"Lumayan sih. Tapi pelajarannya menarik. Waktu engga terasa berlalu. Kamu gimana, kuliah hari ini?", tanya Donny.
"Uhh.. padet..! Aku mulai dari jam 8 pagi. Ini baru aja selesai. Oya, tadi aku praktikum ngukur tekanan darah loh. Juga CPR…. Itu loh.. pernafasan buatan. Aku suka pelajaran-pelajaran yang praktikal gitu… Yuk kita sambil jalan ke kafe?", ajak Sofia.
Donny dan Sofia bertukar cerita tentang kegiatan hari ini sembari melangkah menuju kafe mereka. Kafe itu tidak terlalu penuh sore ini. Ada tiga meja di bagian depan yang sudah terisi. Orang-orang sedang asik mengobrol. Sofia memesan kopinya. Donny memesan cappuccino. Donny bilang kali ini giliran dia yang bayar. Sofia mengecek situasi di sisi sebelah belakang kafe. Belum ada orang di sana. Sofia mengajak Donny untuk mengambil tempat di situ. Donny setuju. Dia mengerti, Sofia ingin bisa lebih tenang mengobrol tanpa harus beradu suara dengan orang lain. Mereka memilih meja yang di sebelah jendela. Kopi pesanan mereka akan diantar sebentar lagi.
"Kuliah apa aja tadi hari ini?", tanya Sofia. Sofia memilih duduk di sofa yang lebih panjang. Sedangkan Donny di sofa yang untuk satu orang.
"Hari ini Sosiologi, Sejarah Christianity, dan Bahasa Yunani", jawab Donny.
"Menarik.. Tau engga..? Aku kagum loh dan ngga pernah habis pikir kok kamu berani ambil pilihan ini. Kamu pernah cerita sebelumnya kamu kerja di bank berskala internasional. Kehidupan berlangsung baik, kesejahteraan terjamin, masa depan juga. Tapi ya kok kamu bisa-bisanya ambil kuliah Teologi. Apa yang penting buat kamu dalam hidup ini?", tanya Sofia.
Ini dia…! kata Donny dalam hatinya. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang menstimulasi energi dalam diri Donny. Pertanyaan tentang arti dan arah tujuan kehidupan. Pertanyaan yang berkaitan dengan api yang menyala menerangi jiwanya. Sofia suka mengobrol tentang ini. Dan itu yang membuat Donny suka dengan Sofia. Alasan pertama, pertanyaan Sofia membuat Donny memvisualisasikan lagi kehidupannya yang sudah dijalaninya, merangkai urutan kejadian, dan menarik makna dari cerita kehidupan yang sudah terjalin. Ini selalu membuat Donny semakin bersyukur kepada Tuhan, karena dia bisa melihat betapa ajaibnya rencana yang dirancang Tuhan untuk kehidupannya. Kedua, Donny memang sangat peduli dengan makna dan tujuan kehidupan. Perenungan dan kontemplasi menjadi bagian penting dalam hidupnya. Penting baginya untuk bisa melihat ke arah mana dia akan melangkahkan kakinya seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan Sofia sering membantu dia untuk menggali jawaban-jawaban yang belum ditemukannya. Ketiga, pertanyaan seperti ini membuat Sofia terdengar cerdas. In fact, she is! Dan Donny suka dengan wanita yang cerdas. Donny sering takjub sendiri. Dia yang biasanya sukar bercerita tentang apa pun, tapi di hadapan Sofia, dia bisa bercerita dengan panjang lebar dan penuh semangat. Seringkali ketika Donny mengobrol dengan teman-teman lainnya, terutama yang perempuan, lebih banyak dia berada dalam posisi "pendengar yang budiman". Kadang lawan bicaranya sadar sendiri dan meminta Donny ganti yang bercerita. Tentu saja Donny tidak bisa berkata-kata banyak karena dia tidak pandai bercerita. Dia bukan manusia tipe itu. Kecuali dengan Sofia.
Satu jam berlalu. Donny tersadar bahwa dalam satu jam terakhir Sofia menjadi tahu lebih banyak tentang dirinya ketimbang dia tentang diri Sofia. Sedangkan Donny juga ingin tahu lebih banyak tentang diri Sofia. Donny pun gantian bertanya.
"Kalau kamu, sejak kapan kamu mulai merantau dari rumah?", tanya Donny.
"Dari umur 18. Pas aku selesai SMA", jawab Sofia.
"Wah.. Udah lama yah..? Selain karena kuliah, ada alasan lain?", tanya Donny.
"Iya.. Terutama karena kuliah. Tapi juga sebenernya karena aku waktu itu pingin lepas dari orang tua. Dulu aku sering berantem sama mama. Mama pingin aku kuliah teknik atau engineering, sedangkan aku engga suka itu. Mama berusaha keras ngeyakinin aku bahwa kuliah teknik adalah pilihan yang benar. Tapi aku ngga mau. Lagi pula, aku pingin memilih apa yang bener-bener jadi keinginanku, bukan kerena ditentuin orang lain. Syukurlah setelah selang berapa lama, mama mulai bisa nerima. Jujur aku juga ngga sepenuhnya yakin kalau mama salah. Mungkin ada benernya juga kalau aku pilih teknik, karirku bisa lebih bagus ke depannya. Buat aku, kekayaan material bukan yang terpenting dalam hidup ini. Dan memang itu ngga pernah membuat aku bahagia. Aku bahagia kalau aku bisa melayani orang lain dengan bakat dan keahlianku. Aku suka menghibur orang-orang yang sedang dalam kesusahan. Berbagi beban dengan mereka yang sedang terbaring di rumah sakit. Makanya sekarang aku ambil kuliah ini.", Sofia bercerita.
"Aku kagum dengan kamu yang berani ambil pilihan yang sulit. Memilih kuliah apa yang kamu pingin dan bersitegang dengan mama kamu, itu bukan variasi situasi yang menyenangkan, bukan? Terus terang aku masih sering sulit buat ambil pilihan yang bener-bener aku pingin. Sering kepikiran inilah, itulah…", jawab Donny.
"Iya, memang engga mudah. Tapi aku pikir, hidup ini kan hanya satu kali. Aku mau lakukan yang terbaik.", jawab Sofia.
Donny dan Sofia semakin asik bertukar cerita dan pandangan tentang kehidupan. Semakin lama mereka semakin tahu bahwa mereka mempunyai banyak kesamaan dalam memandang kehidupan ini. Saling mengutarakan kekaguman dan rasa setuju. Malam semakin larut. Jam-jam berlalu tanpa terasa. Semakin lama mengobrol, keduanya merasakan energi dan semangat yang baru. Kemudian hanphone Sofia berdering. Sofia permisi dari Donny dan menjawab telefonnya dalam bahasa yang Donny tidak mengerti.
"Aku udah dijemput.. Aku seneng ngobrol dengan kamu. Aku bisa belajar dari pengalaman kamu dan bisa lihat kehidupan dari sisi lain. Ma kasih ya.. Kamu mau kita antar pulang?", tanya Sofia.
"Sama-sama, aku juga senang ngobrol sama kamu.. Ngga apa-apa deh, kamu kan engga searah dengan aku.", jawab Donny.
"Engga apa-apa kok! Giuseppe pasti mau nganterin.. Yukk?", kata Sofia sembari berdiri dari tempat duduknya.
Giuseppe adalah pacar Sofia. Donny baru bertemu dengannya satu kali di jalan ketika tak sengaja mereka berpapasan. Lelaki yang beruntung punya pacar seperti Sofia, pikir Donny dalam hati. Tapi tidak ada gunanya iri hati. Semua sudah dirancang Tuhan menurut rencana-Nya yang ajaib. Donny bersyukur dia bisa berkenalan dengan Sofia. Bisa berbagi cerita tentang kehidupan. Bisa saling bertukar pandangan dan pengalaman dalam obrolan. Bisa saling melontarkan kekaguman. Bisa saling mengerti walaupun mereka berasal dari dua sisi dunia yang berbeda. Soal memiliki? Apa sih milik manusia di dunia ini? Bahkan badannya sendiri pun titipan dari Tuhan. Donny mengerti bahwa dia bisa mencintai tanpa harus memiliki. Tanpa harus merusak hubungan orang yang disukainya dengan pasangannya. Tanpa harus serakah. Karena Tuhan sudah mempersiapkan masa depan yang paling indah untuk dirinya. Yes. Itulah cinta yang sejati. Terima kasih Tuhan, Engkau telah berbagi keindahan ciptaan-Mu dengan diriku, ujar Donny dalam hati. Terima kasih Tuhan, Kau telah menuliskan sepenggal chapter ini dalam kehidupanku. That was a beautiful story.