…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for February 26th, 2008


…Fine Tuning…

Sebuah pesawat televisi mesti ¨diprogram¨, atau tepatnya di-tune, untuk dapat menerima dan menayangkan suatu siaran. Pesawat televisi keluaran baru biasanya menyediakan fasilitas autotuning. Tekan satu tombol, maka TV akan mencari dan menyimpan dengan sendirinya saluran-saluran yang berhasil dilacaknya. Tapi dua puluhan tahun yang lalu, tuning ini mesti dilakukan secara manual. Pelototi layar TV. Putar knop untuk tuning. Tunggu sampai muncul gambar di layar. Lalu hentikan. Jika gambar sudah terlihat, tapi masih kurang bagus, maka putar knop perlahan-lahan sampai ketemu gambar dengan kualitas yang paling baik. Proses yang terakhir ini disebut fine tuning.

Untuk melakukan tuning, kita hanya perlu membedakan antara ada gambar dan tidak ada gambar. Sedangkan dalam fine tuning, gambar sudah muncul, dan kita perlu meneliti gambar yang paling baik. Plus suara juga tentunya.

Dalam melakukan tuning, kita bisa memutar knop pengatur frekuensi dengan lebih cepat. Dalam fine tuning, gerakan perlu dibuat demikian perlahannya.

Dalam fine tuning, diperlukan tingkat ketelitian yang lebih. Mungkin ditambah kesabaran juga. Secara umum, dalam pendapat saya, melakukan fine tuning ini lebih sulit.

Demikian juga dalam melakukan tuning kehidupan diri kita, fine tuning sering kali lebih sulit dilakukan. Memilih yang baik dan tidak baik, tidak sulit. Tapi memilih di antara dua hal yang baik? Memilih di antara dua aktivitas yang memberi manfaat? Tidak selalu mudah. Atau yang lebih sulit lagi: memilih antara melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan yang menurut kebanyakan orang adalah tindakan yang benar.

Mungkin kedengarannya pertanyaan-pertanyaan di atas hanyalah menambah keruwetan kehidupan ini. Tapi memang kehidupan ini dalam kenyataannya tidak simple. Ketika seorang periset laboratorium menerapkan sebuah model matematis untuk menggambarkan aliran fluida dalam pipa, dia bisa memilih untuk menerapkan model yang sederhana, atau model yang lebih mendekati kenyataan.

Pada model yang sederhana, kalkulasi bisa dilakukan dengan lebih cepat dan mudah. Tapi hasilnya kurang akurat jika dibandingkan dengan model yang mendekati kenyataan, yang pada prakteknya sering lebih rumit untuk dipecahkan.

Demikian juga halnya dengan ¨model¨ yang kita terapkan untuk mencerna kehidupan ini. Terlalu menyederhanakan model kehidupan ini juga bisa membawa seseorang ke hasil kalkulasi yang agak melenceng dari kenyataan sebenarnya.

Melakukan fine tuning dalam kehidupan mungkin terdengar sebagai sikap perfeksionis. Dalam pendapat saya, bukan. Bukannya perfeksionis, tapi seeking for excellence. Apa bedanya? Seorang perfeksionis memfokuskan diri untuk menghindari cacat atau kegagalan. Tidak jadi soal betapa indahnya hasil karyanya, jika ada cacat setitik saja, seorang perfeksionis tidak akan bisa menghargai karya indah tadi. Tidak bisa menghargai jerih payah yang sudah dilakukan. Seorang yang seeking for excellence memfokuskan diri untuk menghasilkan atau melakukan sesuatu dengan lebih baik. Fokusnya adalah a better solution. Cacat atau kegagalan diterimanya sebagai bagian dari proses menuju ke arah yang lebih baik. Dia tetap bisa menghargai usaha yang sudah dilakukan, tapi tetap berusaha untuk menghasilkan yang lebih baik di kemudian hari.

Dua jenis manusia ini, keduanya berusaha menuju ke arah yang lebih baik. Tapi saya percaya, tipe yang seeking for excellence yang lebih berpotensi untuk berhasil mencapai tujuannya.

Let’s fine tune our lives. You’ll never know how life can be better if you don’t start caring about life.