…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for June 24th, 2008


…Menanti…

Matahari baru saja tenggelam di ujung barat. Meninggalkan jejak warna-warna indah di hamparan langit. Desiran angin yang menyapu daun-daun seolah seperti alunan simfoni. Mengiringi lagu yang sedang dinyanyikan oleh hatiku.

Sudah setengah jam aku berdiri di sini. Terlindung aman di sini. Dia sedang terduduk di sana. Kadang memainkan jari-jarinya. Menengok ke sana dan ke sini. Berpangku tangan. Lalu bersandar. Gelisah menunggu. Memainkan jari-jarinya lagi. Sedang yang ditunggu tak kunjung datang.

Mestinya aku sudah ada di sana setengah jam yang lalu. Menemuinya di tempat dia sedang duduk sekarang. Aku… aku takut. Nyeri luka ini masih belum hilang. Aku takut sakit lagi.

Dia begitu bersemangat mengajakku bertemu di sini. Dia yang baru saja muncul di tengah kehidupanku. Dia bilang di sini aku bisa melihat lukisan yang paling indah. Hamparan langit indah warna warni yang sedang kupandang sekarang. Aku terbawa oleh semangatnya. Perangainya yang penuh semangat seakan menghembuskan harapan baru dalam diriku. Aku suka berada di dekatnya.

Tapi aku takut. Bayang-bayang akan sakitnya luka hati ini kembali menghantuiku. Bagaimana kalau aku terluka lagi?

Dia yang di sana. Dia yang telah mengobati luka lamaku. Lambat laun aku mulai percaya lagi. Percaya akan cinta. Berani untuk kembali berharap. Menaruh harap bahwa cintaku akan bertahan. Tak habis dimakan waktu dan dihempas usia.

Tapi aku masih takut. Bagaimana kalau kali ini dia yang menyakitiku? Betapa getirnya pahit yang nanti mesti kutanggung. Akankah aku bisa bangkit lagi? Bagaimana akan kuobati lukaku nanti?

Ahh, kenapa mesti ada dua sisi? Tak bisakah cinta hadir tanpa harus dibayangi rasa kecewa?

Dia masih terduduk di sana. Terlihat semakin gelisah. Sedang yang ditunggunya tak kunjung datang.

Maafkan aku yang telah membuatmu kecewa hari ini. Seandainya kamu mau memberiku waktu sedikit lagi saja. Sedikit waktu saja. Karena kamulah yang mungkin akan memiliki hatiku untuk selamanya nanti.