…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for June 28th, 2008


…Talenta itu Apa Sih?…

"Jajang… Maman… Dadang… Cik pada ke sini"

"Muhun Abah.. Ada apa?"

"Yeuh Abah teh mau ada urusan. Abah bakal pergi jauh, belum tau kapan mau pulang. Sampai urusan nanti selesai, baru Abah pulang. Sok atuh kamu-kamu sekarang Abah titipin harta Abah ke kalian. Buat Jajang, Abah kasih lima kali gaji setaun, nih sok ambil"

"Aduh Abah, banyak gini? Terima kasih atuh"

"Buat Maman, nih dua kali gaji kamu setaun"

"Nuhun Abah, terima kasih. Sing selamet di perjalanan Abah"

"Nih buat Dadang. Uang sebesar setaun gaji kamu"

"Hatur nuhun Abah, sing selamet"

Singkat cerita, Abah pergi meninggalkan ketiga bujangnya. Musim demi musim berganti. Tahun demi tahun berganti. Di satu hari, Abah kembali dari perjalanannya. Ketiga bujangnya pun menyambut.

Jajang melaporkan bahwa modal yang waktu itu dititipkan oleh Abah sekarang sudah menghasilkan untung. Jumlahnya jadi dua kali lipat. Maman juga dengan gembira menyampaikan bahwa modal yang di tangannya sekarang berlipat dua. Keduanya membuat Abah senang. Mereka mendapat pujian dan diundang ikut ke pestanya Abah. Hanya Maman yang mengubur uang modal itu di tempat yang aman. Lalu dikembalikannya ke Abah. Maman juga bilang Abah itu maunya untung aja, tapi ngga mau usaha. Spontan Abah marah dan Maman pun diusirnya.

Kisah di atas adalah versi terjemahan bebas dari satu perumpamaan di dalam Alkitab. Perumpamaan tentang talenta.

Hari-hari ini talenta sering diterjemahkan menjadi bakat. Dalam zaman perumpamaan ini pertama kali diceritakan oleh Yesus, satu talenta adalah gaji satu orang untuk masa kerja satu tahun. It’s a lot of money. Diberi uang sebesar satu tahun gaji di muka adalah suatu berkah. Padahal kerjanya belum, tapi gaji sudah diberikan.

Lebih luar biasa lagi, ada bujang yang menerima gaji dua tahun di muka. Bahkan ada yang mendapat uang sejumlah gaji lima tahun. Kontan dan spontan!

Eits tunggu dulu. Kok si Abah pake beda-bedain sih? Kenapa ngga semuanya dikasih uang sejumlah yang sama aja? Kan ngga adil?

Abah ini seorang pengusaha yang cerdik dan berpengalaman. Dia bisa mengukur kemampuan bujang-bujangnya. Dan dari situlah Abah memutuskan seberapa jumlah hartanya yang akan dia titipkan ke setiap bujangnya.

Yang menarik adalah kenyataan bahwa dua bujang yang pertama punya niat untuk mengembangkan modal yang dititipkan ke mereka, sedangkan satu bujang mengubur dan memendam uang modalnya.

Ketika Abah pulang, bujang yang dua mengembalikan uang modal dan hasil dari modal mereka. Bujang yang satu mengembalikan modal tok.

Pertanyaan lagi. Kenapa si Abah marah waktu bujang yang satu ngembaliin duit sejumlah modal awal? Padahal nyuruh dia ngembangin juga ngga.

Saya ngga tahu pasti tentang jawabannya. Yang sempat kepikiran adalah mungkin karena sikap si bujang yang satu itu menunjukkan bahwa dia ngga mengerti keinginan Abah. Atau karena bujang ini mengembangkan impresi yang keliru tentang Abah, soalnya dia bilang Abah ini maunya untungnya aja, tapi kerjanya ngga mau. Saya ngga tau pasti. Tapi yang pasti, tindakan Maman ini mengecewakan Abah.

Jika kita refleksikan perumpamaan ini terhadap diri kita, bagaimana jadinya? Saya rasa perumpamaan ini sudah memberikan pesannya dengan jelas, bahwa Tuhan mengharapkan kita mengembangkan titipan-Nya yang diberikan ke diri kita. Perbuatan bujang yang menguburkan talentanya itu mengecewakan buat Dia.

Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana kita bisa tahu apakah kita ini diberi dua talenta atau lima talenta. Okey, sebelum itu mari kita kembali ke definisi talenta, apakah talenta itu cuma bakat? Atau itu juga termasuk uang, harta, kedudukan, profesi, anak, kesempatan, peluang, karakter kita, kesehatan? Yang disebut di Alkitab, tuan itu mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya. Kalau tuan kita adalah Tuhan, maka harta-Nya adalah segenap ciptaan-Nya. Jadi buat saya, itu tidak terbatas hanya dalam soal bakat.

Lalu, sekarang bagaimana menghitungnya? Apakah saya ini diberi dua talenta atau lima talenta? Saya rasa Yesus punya maksud sendiri ketika memberikan perumpamaan ini. Kenapa diambil contoh tiga jenis hamba, sedangkan di antara mereka hanya ada dua jenis sikap.

Pertama, sudah jelas hanya satu sikap yang dikenan oleh Tuhan, yaitu mengembangkan talenta.

Kedua, kita tidak bisa menghitung berapa tepatnya jumlah talenta yang Tuhan titipkan ke diri kita. Tapi kita bisa memilih untuk percaya bahwa kita diberi lima talenta, bukan dua. Kita diberi banyak, bukan sedikit. Kita diberi secara berlimpah, bukan pas-pasan.

Dengan memiliki mentalitas seperti ini, kita akan terpacu untuk memberikan lebih banyak lagi untuk Tuhan, sebagai pengembangan dari talenta yang telah Dia percayakan untuk kita. Mentalitas yang seperti inilah mentalitas seorang yang akan menghasilkan lebih dari orang-orang lain di sekitarnya. Mentalitas seorang juara.

Mari perhatikan lagi titipan-titipan yang Tuhan percayakan dalam hidup kita. Pekerjaan kita. Keluarga. Kesehatan. Bakat-bakat. Teman-teman dan relasi. Orang tua yang menyayangi kita. Kesempatan untuk membantu orang lain. Uang kita. Bukankah banyak yang sudah Tuhan titipkan di hidup kita? Banyak sekali bahkan tidak terhitung. Tinggal kita melangkah saja untuk mulai mengelola titipan-titipan itu dengan baik. Soal hasilnya apakah nantinya akan bisa sampai berlipat dua atau tidak, jangan terlalu dikhawatirkan. Melangkah dulu, maka hasilnya akan mengikuti.

…Menikmati Kehidupan…

Ada orang yang bilang: Hidup ini cuma sekali, jadi nikmatilah. Hmm, bener kali ya? Seandainya iya, terus cara menikmatinya gimana?

Tanyakan ini ke sepuluh orang, maka kita akan mendapatkan sepuluh jawaban yang berbeda. Tanyakan ke seratus orang, seratus orang akan memberi jawaban yang berlainan. Ya mungkin ada beberapa yang mirip, tapi nggak akan sama persis.

Ada orang yang menikmati hidup dengan mengeksploit kenikmatan. Yang gila makan. Pokonya semua yang lezat-lezat di lidah mesti disantap. Gak peduli ada di pelosok mana, dia uber terus. Yang penting menikmati hidup, jek! Gak peduli jarum timbangan terus nunjukkin angka yang makin berat tiap bulannya. Gak peduli hasil medical cek up bilang bahwa ada kadar-kadar ini itu yang udah kelebihan. Kan yang penting menikmati hidup, brur.

Ada yang menikmati hidup dengan cara melepaskan diri keduniawian. Mengabdikan diri kepada Sang Pencipta. Melayani umat. Tidak melirik kilapnya kilau harta dan uang. Melepaskan seluruh haknya atas dirinya dan menjadi seorang abdi. Kok bisa orang menikmati hidup dengan cara begini? Ya, banyak yang sudah dan sedang melakukan. Kalau ditanya bisa, ya bisa. Kalau ditanya apakah semua orang mau lakukan ini, belum tentu.

Ada orang yang menikmati hidup dengan mengeksplor hobi. Yang suka taman dan bunga, berkreasi di halaman belakang rumahnya. Yang suka seni, berkutat berlama-lama dengan kuasnya di depan kanvas. Sebagian dari mereka mendapatkan penghasilan berupa uang dari hasil karya mereka. Mereka menikmati hidup dengan menjalani profesi seperti yang mereka sukai.

Tanyakan lagi apa sih menikmati hidup itu, dan kita akan mendapatkan jawaban yang lain-lain lagi. Mungkin ada yang bilang: hidup tanpa stress. Atau hidup kaya raya. Atau, hidup sejahtera, tidak perlu kaya, yang penting segala sesuatu tercukupi. Ada yang bilang: hidup dalam kebebasan finansial. Hidup yang melayani. Hidup yang punya makna. Hidup yang membahagiakan orang tua. Membahagiakan keluarga. Hidup yang mengabdi kepada masyarakat. Hidup yang bisa mengaktualkan diri.

Satu hal yang unik, jika kita tanya seseorang apakah dia menikmati hidupnya, sering kita dapati jawaban: belum. Kebanyakan orang mengasosiasikan menikmati hidup dengan mencapai tujuan atau impian. Selama tujuan hidup ini belum tercapai, selama impian belum terwujud, hidup ini tidak nikmat.

Capek kali ya? Terus gimana kalau impian itu belum terwujud, padahal kita udah nunggu lama? Yang ada orang jadi kecapekan. Kapan dong menikmati hidup? Sedih banget.

Gini deh. Oke, katakan kita punya impian. Cita-cita. Tujuan yang ingin kita capai. Untuk sampai ke sana, tentu kita mesti bergerak. Melangkah. Kalau nggak, ya ngga akan pernah sampai. Berjalan selangkah demi selangkah. Menuju kepada impian kita.

Belum sampai tujuan? Ngga masalah. Yang penting melangkah mendekat. Oke, mungkin kadang langkah yang diambil itu salah. Mungkin kadang jalan yang kita pilih buntu. Ya balik lagi ke persimpangan, terus pilih jalur yang lain. Kan gampang. Kadang jalannya nanjak dan bikin ngos-ngosan. Kadang jalannya muluuusss jadi bisa ngebut. Yang pasti, kita sedang bergerak mendekati ke tujuan.

Di setiap langkah kecil yang kita ambil, coba tengok sisi kiri dan kanan. Mungkin ada pemandangan yang indah. Hamparan sawah hijau berlatar belakang pegunungan. Mungkin kerumunan anak-anak yang sedang bermain dan bercanda gembira. Bunga-bunga indah warna warni di sepanjang tepi jalan. Nyanyian burung-burung yang menghiasi terbitnya matahari pagi. Mungkin kita melewati pesisir pantai pasir putih dengan langitnya yang biru. Aroma laut yang menyegarkan. Atau, mungkin juga hamparan gurun pasir yang panas menyengat. Mungkin langit berawan gelap dan guntur sahut menyahut. Masih banyak lagi kemungkinan yang lain.

Okey, perjalanan mengejar impian ini mungkin akan menyenangkan seandainya di sepanjang perjalanan kita selalu melihat pemandangan yang indah. Hamparan pasir putih di pesisr pantai yang tenang. Hijaunya padang rumput. Danau yang indah. Kicauan burung-burung yang bernyanyi. Bunga penuh warna warni bermekaran.

Tapi kebanyakan, perjalanan kita akan bervariasi antara pemandangan yang menyenangkan dan membosankan. Atau kadang menakutkan. Berhari-hari melewati padang gurun dengan panas menyengat pastinya ngga mengenakkan. Berbulan-bulan melihat awan mendung tanpa ada tanda-tanda matahari mungkin membuat suasana hati jadi ikut mendung.

Sebagian orang ketika menghadapi situasi seperti ini menjadi kehilangan tujuan. Mereka seolah lupa bahwa mereka sedang melakukan perjalanan mengejar impian di ujung sana. Pandangan mereka dipenuhi oleh situasi suram dalam penggalan perjalanan mereka. Menjadi kehilangan arah. Lupa akan tujuan.

Ada yang memutar balik, kembali ke penggalan sebelumnya. Menuju pantai pasir putih di persimpangan yang lalu. Di sana hidup terasa lebih nikmat. Pemandangan lebih menyenangkan. Mood jadi bagus. Walaupun impian jadi terlupakan, ya sudahlah. Dari pada menjalani perjalanan yang penuh penderitaan. Lupakan saja impian.

Padahal, siapa yang tahu bahwa sedikit lagi saja kita akan keluar dari padang gurun dan menemukan padang rumput hijau yang dikelilingi air terjun? Di sana kita bisa menyejukkan diri, beristirahat, dan mengumpulkan tenaga. Dan yang lebih menggembirakan, kita semakin dekat ke tujuan kita! Jadi kegembiraan kita berlipat.

Nikmatnya kehidupan tidak hanya bisa dirasakan ketika kita berhasil menggapai impian. Tapi dalam setiap langkah menuju ke sana. Dalam setiap perjuangan. Dalam setiap reward yang kita dapat setelah melewati kesulitan. Dalam setiap kesempatan untuk berbalik ke persimpangan sebelumnya ketika kita menemui jalan buntu. Semua itu adalah "paket" menikmati kehidupan. Dengan begitu, hidup ini akan terasa nikmat setiap hari, setiap jam, setiap detik. Tidak peduli kita sedang di tengah padang rumput sejuk ataupun gurun pasir panas. Tidak peduli di tengah ombak lautan yang ganas atau di puncak gunung yang tinggi. Yang penting kita sedang terus bergerak mendekati dan menggapai impian.

Nikmati hidup kita, sekarang.