…Talenta itu Apa Sih?…
"Jajang… Maman… Dadang… Cik pada ke sini"
"Muhun Abah.. Ada apa?"
"Yeuh Abah teh mau ada urusan. Abah bakal pergi jauh, belum tau kapan mau pulang. Sampai urusan nanti selesai, baru Abah pulang. Sok atuh kamu-kamu sekarang Abah titipin harta Abah ke kalian. Buat Jajang, Abah kasih lima kali gaji setaun, nih sok ambil"
"Aduh Abah, banyak gini? Terima kasih atuh"
"Buat Maman, nih dua kali gaji kamu setaun"
"Nuhun Abah, terima kasih. Sing selamet di perjalanan Abah"
"Nih buat Dadang. Uang sebesar setaun gaji kamu"
"Hatur nuhun Abah, sing selamet"
Singkat cerita, Abah pergi meninggalkan ketiga bujangnya. Musim demi musim berganti. Tahun demi tahun berganti. Di satu hari, Abah kembali dari perjalanannya. Ketiga bujangnya pun menyambut.
Jajang melaporkan bahwa modal yang waktu itu dititipkan oleh Abah sekarang sudah menghasilkan untung. Jumlahnya jadi dua kali lipat. Maman juga dengan gembira menyampaikan bahwa modal yang di tangannya sekarang berlipat dua. Keduanya membuat Abah senang. Mereka mendapat pujian dan diundang ikut ke pestanya Abah. Hanya Maman yang mengubur uang modal itu di tempat yang aman. Lalu dikembalikannya ke Abah. Maman juga bilang Abah itu maunya untung aja, tapi ngga mau usaha. Spontan Abah marah dan Maman pun diusirnya.
Kisah di atas adalah versi terjemahan bebas dari satu perumpamaan di dalam Alkitab. Perumpamaan tentang talenta.
Hari-hari ini talenta sering diterjemahkan menjadi bakat. Dalam zaman perumpamaan ini pertama kali diceritakan oleh Yesus, satu talenta adalah gaji satu orang untuk masa kerja satu tahun. It’s a lot of money. Diberi uang sebesar satu tahun gaji di muka adalah suatu berkah. Padahal kerjanya belum, tapi gaji sudah diberikan.
Lebih luar biasa lagi, ada bujang yang menerima gaji dua tahun di muka. Bahkan ada yang mendapat uang sejumlah gaji lima tahun. Kontan dan spontan!
Eits tunggu dulu. Kok si Abah pake beda-bedain sih? Kenapa ngga semuanya dikasih uang sejumlah yang sama aja? Kan ngga adil?
Abah ini seorang pengusaha yang cerdik dan berpengalaman. Dia bisa mengukur kemampuan bujang-bujangnya. Dan dari situlah Abah memutuskan seberapa jumlah hartanya yang akan dia titipkan ke setiap bujangnya.
Yang menarik adalah kenyataan bahwa dua bujang yang pertama punya niat untuk mengembangkan modal yang dititipkan ke mereka, sedangkan satu bujang mengubur dan memendam uang modalnya.
Ketika Abah pulang, bujang yang dua mengembalikan uang modal dan hasil dari modal mereka. Bujang yang satu mengembalikan modal tok.
Pertanyaan lagi. Kenapa si Abah marah waktu bujang yang satu ngembaliin duit sejumlah modal awal? Padahal nyuruh dia ngembangin juga ngga.
Saya ngga tahu pasti tentang jawabannya. Yang sempat kepikiran adalah mungkin karena sikap si bujang yang satu itu menunjukkan bahwa dia ngga mengerti keinginan Abah. Atau karena bujang ini mengembangkan impresi yang keliru tentang Abah, soalnya dia bilang Abah ini maunya untungnya aja, tapi kerjanya ngga mau. Saya ngga tau pasti. Tapi yang pasti, tindakan Maman ini mengecewakan Abah.
Jika kita refleksikan perumpamaan ini terhadap diri kita, bagaimana jadinya? Saya rasa perumpamaan ini sudah memberikan pesannya dengan jelas, bahwa Tuhan mengharapkan kita mengembangkan titipan-Nya yang diberikan ke diri kita. Perbuatan bujang yang menguburkan talentanya itu mengecewakan buat Dia.
Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana kita bisa tahu apakah kita ini diberi dua talenta atau lima talenta. Okey, sebelum itu mari kita kembali ke definisi talenta, apakah talenta itu cuma bakat? Atau itu juga termasuk uang, harta, kedudukan, profesi, anak, kesempatan, peluang, karakter kita, kesehatan? Yang disebut di Alkitab, tuan itu mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya. Kalau tuan kita adalah Tuhan, maka harta-Nya adalah segenap ciptaan-Nya. Jadi buat saya, itu tidak terbatas hanya dalam soal bakat.
Lalu, sekarang bagaimana menghitungnya? Apakah saya ini diberi dua talenta atau lima talenta? Saya rasa Yesus punya maksud sendiri ketika memberikan perumpamaan ini. Kenapa diambil contoh tiga jenis hamba, sedangkan di antara mereka hanya ada dua jenis sikap.
Pertama, sudah jelas hanya satu sikap yang dikenan oleh Tuhan, yaitu mengembangkan talenta.
Kedua, kita tidak bisa menghitung berapa tepatnya jumlah talenta yang Tuhan titipkan ke diri kita. Tapi kita bisa memilih untuk percaya bahwa kita diberi lima talenta, bukan dua. Kita diberi banyak, bukan sedikit. Kita diberi secara berlimpah, bukan pas-pasan.
Dengan memiliki mentalitas seperti ini, kita akan terpacu untuk memberikan lebih banyak lagi untuk Tuhan, sebagai pengembangan dari talenta yang telah Dia percayakan untuk kita. Mentalitas yang seperti inilah mentalitas seorang yang akan menghasilkan lebih dari orang-orang lain di sekitarnya. Mentalitas seorang juara.
Mari perhatikan lagi titipan-titipan yang Tuhan percayakan dalam hidup kita. Pekerjaan kita. Keluarga. Kesehatan. Bakat-bakat. Teman-teman dan relasi. Orang tua yang menyayangi kita. Kesempatan untuk membantu orang lain. Uang kita. Bukankah banyak yang sudah Tuhan titipkan di hidup kita? Banyak sekali bahkan tidak terhitung. Tinggal kita melangkah saja untuk mulai mengelola titipan-titipan itu dengan baik. Soal hasilnya apakah nantinya akan bisa sampai berlipat dua atau tidak, jangan terlalu dikhawatirkan. Melangkah dulu, maka hasilnya akan mengikuti.
June 30th, 2008 at 3:05 am
Wow, Dave..
This post makes me speechless and drawn in deep thinking of how many talents I have now and how to improve it. Really, it’s inspiring and motivating.
Keep writing and share your thoughts ya..
July 3rd, 2008 at 9:35 am
Thanks for the compliment. I like your writings too. Full of passion and love.