…Racun-racun Manis…
Manis itu enak. Enak di lidah dalam hal makanan. Sedap dipandang dalam hal kecantikan. Enak didengar dalam hal perkataan.
Racun adalah zat yang membahayakan. Efeknya bisa menyebabkan sakit, tidak berfungsinya organ tubuh, dan kematian.
Racun manis? Ya gitu deh.. Rasanya bisa jadi enak, tapi dampaknya bisa menyebabkan sakit. Atau bahkan kematian.
Dalam setiap hubungan antar manusia, racun-racun manis selalu mengancam. Dalam pertemanan, persahabatan, pacaran, pernikahan, hubungan orang tua-anak, kehidupan bermasyarakat, dalam kalangan gereja, di kantor, di mana pun.
Membahagiakan. Pada dasarnya orang akan merasa senang jika bisa membahagiakan orang lain. Terlebih jika itu adalah orang yang dia sayangi. Akan ada kepuasan tersendiri. Yang bahaya adalah jika "kepuasan" ini yang kemudian selalu dijadikan tujuan utama. Efeknya, orang bisa jadi enggan mengatakan hal yang sebenarnya karena khawatir orang lain sedih, atau marah. Padahal bisa jadi hal itu demikian pentingnya untuk jangka waktu yang lebih panjang. Bukannya lebih baik marahan dua hari dengan istri terus kemudian jadi tambah mesra untuk puluhan tahun ke depan? Dari pada selalu berfokus untuk menyenangkan dirinya, dan mengabaikan hal yang lebih penting. Bagaimana orang lain mengendalikan emosinya adalah urusan dia sendiri. Yang jadi urusan Anda adalah bagaimana Anda mengendalikan emosi diri sendiri. Bagaimana Anda membalikkan rasa marah menjadi bahan bakar yang kemudian menelurkan solusi. Bagaimana memutar rasa kesal menjadi sebuah peluang untuk menyampaikan harapan dalam hati Anda. Mengatur kalimat dengan baik sehingga bisa diterima dengan jelas oleh lawan bicara Anda. Itu semua ada dalam kendali Anda. Perkara bagaimana orang lain akan menanggapinya, itu urusan dia. Entah dia jadi sedih atau marah, itu bukan dalam kendali Anda. Pada umumnya tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya menunjukkan personal insecurity dari seseorang.
Menasehati. Selalu menyenangkan jika kita melihat segala sesuatu berlaku seperti semestinya. Jika ada orang yang tidak melakukan hal "yang seharusnya", maka dia harus dinasehati. Bukan begitu? SALAH! Menasehati tidak perlu dijadikan tindakan standar yang akan Anda lakukan di saat Anda melihat suatu hal berjalan tidak seperti yang Anda inginkan. Di saat dia, pasangan Anda, memilih tindakan yang tidak akan Anda lakukan seandainya Anda jadi dia. Ada waktunya untuk mengerti "her side of the story". Dia toh pada dasarnya sudah melewati satu proses berpikir sebelum kemudian mengambil tindakan. Menasehati bukanlah satu-satunya respons yang bisa Anda ambil. Dengan terlalu sering menasehati bisa jadi Anda sedang menghambat proses pendewasaan seseorang. Atau mungkin saja Anda sedang menghambat proses pendewasaan diri Anda sendiri.
Racun-racun manis ini walau bagaimanapun akan selalu membahayakan. Hubungan Anda dengan orang yang Anda sayangi bisa "sakit" atau bahkan "mati" jika Anda terus mencekokinya dengan racun-racun manis. Karena walaupun manis, racun tetaplah zat yang mematikan.