…Ngopi dulu yuk…

Berpaling sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin Anda… Atau melewati sore dan malam yang dingin dengan secangkir kopi hangat di tangan, sembari menikmati tulisan-tulisan berikut.. Kita akan menyelam bersama-sama.. membuang pikiran penat di dasar danau.. lalu muncul lagi ke permukaan dengan keadaan yang segar..

Archive for August, 2008


…Gelasnya Setengah Penuh atau Setengah Kosong?…

Optimisme dan pesimisme? Yang mana yang lebih baik? Tentu jawabannya: Optimisme. WRONG! Saya rasa dua-duanya diperlukan dan berguna dalam kehidupan setiap orang. Perkaranya, yang mana yang mendominasi kehidupan seseorang? Itu yang jadi soal.
Ngomong-ngomong "setengah penuh" itu maksudnya dipenuhi oleh air atau udara? Toh dua-duanya sama-sama setengah penuh. Yang lucu, seandainya saya disuruh memilih buat "nyemplung" ke salah satu "setengahan" tadi, saya seringnya lihat kehidupan di setengah yang sana lebih menyenangkan. Katakan saya pilih untuk nyemplung ke air, saya kok sering pengen nyebrang ke bagian yang cuma terisi udara.
Oke, katakan saya sudah nyebrang. Sama aja, ketika saya lagi terbang melayang-layang di udara, saya pingin berenang.
Sekarang pertanyaannya: yang mana yang lebih penting, nyemplung di air, terbang di udara, atau "bisa" pindah dari dan ke dua tempat tadi?
Kalau dilihat dari pinggir, iya gelas itu bisa kelihatan setengah kosong atau penuh. Tapi coba kalau dilihat tegak lurus dari atas? Bukannya semua kelihatan penuh?
Apa itu yang Tuhan lihat juga ketika Dia lihat kita dari atas? Just curious.

…Kesombongan karena Belajar…

Waktu pertama kali saya dikenalkan kepada metode pengelompokan kepribadian (MBTI, Personality Plus), saya merasa sangat excited dengan pengetahuan baru ini. Pengetahuan yang besar manfaatnya untuk lebih mengenal dan mengerti tentang diri sendiri. Juga untuk mengerti tentang kepribadian orang-orang di sekitar kita. Asyik bermain-main menganalisis kepribadian setiap orang yang saya temui. Menerka respons yang akan diberikan terhadap suatu kondisi atau situasi. Mencoba menebak "unspoken language" yang mereka transmit melalui bahasa tubuh. Tidak saya pungkiri, semuanya itu mengasyikkan.
Keasyikan dan ketertarikan saya dengan pengetahuan tentang manusia ini terus saya perdalam dan saya latih. Tapi rupanya ada efek bumerangnya. Pada satu saat, saya sering merasa kesal kalau bertemu dengan orang yang tidak "care" tentang pengelompokan kepribadian-kepribadian ini. Kadang saya menuntut orang lain mengerti "pesan* yang saya transmit dari sikap dan kelakuan saya. Di saat yang sama, saya enggan menyampaikan "pesan" itu secara verbal. Alasan saya: kenapa sih orang ngga "care" tentang hal penting begini? Masa sih gitu aja ngga ngerti?
Perkara orang lain mau care atau tidak care, itu bukan urusan saya. Dan bukan hak saya juga untuk menuntut orang lain care. Dalam taraf tertentu, ini yang disebut kesombongan. I have done that, so you should have done that too. WRONG!
Mau mengerti adanya perbedaan personality tetap akan memberikan manfaat dalam kehidupan sosial. Tapi pengetahuan itu bukanlah "substitute" dari komunikasi. Mengharapkan orang lain mengerti apa yang ada di dalam kepala kita tanpa kita mengatakannya. That’s crazy! Akan lebih baik jika pengetahuan ini dilengkapi juga dengan kemampuan untuk menyampaikan pesan secara verbal dengan benar.