…To Blog or not to Blog…
Ngapain sih orang nulis blog? Emang apa nikmatnya? Hmm, ya nikmat lagi nulis itu. Mengingat hukum kekekalan energi di pelajaran IPA, kalau satu wadah terus diisi tanpa ada yang dikeluarin, ya lama-lama wadah itu jadi penuh. Terus meletus. Kalau udah meletus, harus berabe lagi bersihin. Begitu juga halnya kepala kita. Jangan percaya seratus persen. Mungkin gua salah.
Nge-blog. Enaknya apa yang ditulis ya? Bikin diary atau personal journal yang bisa dibaca oleh khalayak? Why not?
For example: Yuhuu! Hari ini gua beli laptop! Gila, gua bela-belain beli laptop di sini (yang mana harga-nya lebih nyesek dari harga di Jakarta) hanya demi extra tuts di keyboard: Å, Ø, Æ. bla blaa blaa bla…. He he, asik sih cerita tentang diri sendiri. Tapi gua rasa orang yang baca cuma either orang yang browsing demi killing time, atau orang yang ngefan ke sang pribadi penulis. Tapi itu cuma pendapat pribadi saya. Bagi yang happy dengan menulis tulisan seperti ini, silakan monggo diteruskan, tidak ada salahnya. I’m just teasing you a little bit. It’s good to have some people as fans of yours. I know that gives you a good feeling
Atau, bikin tulisan bernuansa filosofis. Itu menunjukkan penulisnya senang menggali kebijaksanaan. Not necessarily that she does what she writes
Setidaknya ada material pendukunglah bahwa ada usaha dari dalam dirinya to become a good, or better person. Atau sekedar membimbing pembacanya ke jenjang kebingungan yang lebih advanced. Padahal sebenernya bisa jadi penulisnya sendiri masih blur dengan identitas dirinya sendiri. Masih berusaha mengenali dan mengidentifikasi dirinya sendiri
Tapi walau bagaimanapun, seandainya pembaca mau menerapkan azas praduga tak bersalah, maka biasanya tulisan-tulisan berbau filosofis itu dilatarbelakangi oleh niat baik.
Atau membahas material yang bisa diukur secara obyektif secara ilmiah. Bisa dikalkulasi ukuran fisiknya, ditimbang beratnya, diukur lajunya, dan semacamnya. Agak lebih comfortable bagi sebagian orang untuk mendiskusikan materi yang seperti ini. Mengapa? Karena mereka tidak perlu menyerang pendapat orang lain. Alat-alat seperti mikroskop, neraca, kalkulatorlah yang akan menunjukkan bahwa dia yang benar dan orang lain salah.
Tapi, kembali lagi ke azas praduga tak bersalah. Pada umumnya para penulis jenis ini, mereka terdorong kuat oleh rasa cinta mereka kepada subyek yang dia dalami. Dan tidak sedikit pula yang membuahkan karya-karya yang kemudian sangat berguna dalam kehidupan umat manusia sejagat.
Menulis material yang bersifat spiritual atau religius. Why not? Anggap saja menulis sebagai ibadah. Jadi ada excuse sedikit kan kalau kapan waktu mau bolos ke gereja
Tapi biar bagaimanapun, spiritualitas memang perlu diberi makanan. Sama seperti badan kita yang akan merasa lapar tiga kali dalam sehari (average for normal people, the rest is abnormal). Jadi tulisan bernuansa spiritual pada prinsipnya berjasa untuk menyambung kehidupan jiwa para pembacanya. And that’s good.
Apapun tujuannya, menulis itu selalu ada manfaatnya. Memang ngga gampang buat membuat satu tulisan yang bagus (coba lihat aja tulisan ini, it’s a good example of tulisan yang dibikin semau gue). Tapi kenapa ngga dicoba? Pepatah bilang latihan bikin sempurna. Mungkin berlaku juga buat menulis (blog). Selamat mencoba