…Melangkah Maju…
Apa yang Anda lakukan pada hari ini akan menentukan apa yang akan terjadi di masa depan Anda. Saya rasa hal ini berlaku dalam banyak situasi kehidupan. Bagaimana dengan tindakan-tindakan yang tidak Anda lakukan? Kalau diambil analogi dari kalimat yang di awal, Anda akan menemukan pernyataan sebagai berikut: Apa yang tidak Anda lakukan pada hari ini akan menentukan apa yang tidak akan terjadi di masa depan Anda.
Pernyataan yang aneh, mungkin? Tapi coba Anda ulangi membaca ini sekali lagi: Apa yang tidak Anda lakukan pada hari ini akan menentukan apa yang tidak akan terjadi di masa depan Anda. Sekarang coba Anda cek perasaan yang pertama kali muncul dalam diri Anda. Apakah Anda langsung setuju? Atau reaksi pertama dalam pikiran Anda (atau hati Anda) adalah perasaan janggal? Secara kasar, respons diri Anda tadi bisa dijadikan semacam cermin yang bisa Anda pakai untuk merefleksikan diri Anda dalam hal seberapa tajam fokus Anda terhadap produktivitas. Seberapa gigih diri Anda dalam mengejar cita-cita Anda dan berusaha untuk mewujudkannya menjadi kenyataan.
Pendapat pribadi saya, tindakan (apa yang dilakukan) akan lebih besar dampaknya ke masa depan saya dibandingkan dengan apa yang tidak saya lakukan. Yang saya sebut terakhir ini lebih cenderung saya pilih untuk menghindari masalah yang nantinya kemungkinan muncul. Tapi dalam konteks mengejar dan mewujudkan cita-cita, strategi yang lebih berfokus ke menghindari masalah seringnya tidak akan membawa seseorang ke arah yang lebih baik. Jika seseorang berfokus hanya pada menghindari masalah, kemungkinan besar dia tidak akan bergerak maju. Lalu kapan cita-citanya akan terwujud kalau hanya diam di tempat?
Robb Thompson mengatakan: “Life doesn’t give what you want, but what you deserve”. How can people deserve on something? Kalau seseorang menggunakan waktu yang dia miliki untuk mengerjakan sesuatu yang akan membawa dirinya menuju apa yang dicita-citakannya.
Suara hati atau suara Tuhan?
Ada orang yang bilang, lakukan apa kata suara hati Anda. Ada lagi orang yang bilang, ikuti suara Tuhan. Terus terang saya belum pernah mendengar Tuhan berbicara di telinga saya. But I do believe God speaks to me in many ways. Kadang lewat buku yang saya baca. Kadang lewat obrolan dengan teman. Kadang lewat film di bioskop yang saya tonton (yang sama sekali ngga ada nuansa religiusnya). Kadang lewat keinginan yang saya rasa dalam hati. Pada akhirnya, Anda sendiri yang mesti belajar mengidentifikasi seruan hati atau bimbingan Tuhan itu. Dan yang tidak bisa dilepaskan adalah faith. Percaya bahwa Tuhan akan membimbing ke arah yang lebih baik. Percaya walaupun kita “salah dengar”, Tuhan selalu punya Plan B dengan tujuan tetap sama, yaitu ingin membawa kita ke arah yang lebih baik. Percaya bahwa walaupun kelihatannya kita tidak punya sarana dan kemampuan yang memadai di saat ini, jalan akan dibukakan buat diri kita. Dan satu yang tidak bisa dilupakan. lakukan apa yang menjadi bagian Anda.
Ada waktunya suara itu terdengar begitu jelas. Tapi seringnya suara itu tidak memberikan instruksi langkah demi langkah dengan detail. Anda yang perlu menelusuri setapak demi setapaknya jalan Anda. Tapi jangan hanya menunggu sampai ada sebuah instruksi yang jelas, baru Anda melakukan sesuatu. Ada pepatah yang mengatakan: melangkahlah, maka jalan di depan akan nampak.
Mari melangkah maju. Tapak jejak langkah yang Anda injakkan hari ini adalah tiket Anda menuju cita-cita yang Anda impikan.